ADAB BANGKIT KE I’TIDAL

Apabila kita telah selesai berhenti dalam ruku’, maka hendaklah kita kembali tegak berdiri serta membaca tasmie’, Yaitu:
“SAMI ALLAHULIMAN-HAMIDAH”
Artinya: “Allah mendengar pujian orang-orang yang memuji dan memuja-Nya”.
Tasmie’ ini di riwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah R.A dari Nabi SAW.
Dan Hendaklah sebaik-baik berdiri, kita angkat tangan ke daun telinga, menurut sifat yang telah lalu.

Meng-angkat tangan ke arah telinga, menghadapkan jari-jari ke arah kiblat itu, menunjukkan seluruh rupa puji-pujian hanya untuk Allah SWT semata. Karena Dia-lah yang memberi semua nikmat. Nikmat hayat (kehidupan), kudrat (kukuasaan), Nikmat alimun (akal), Nikmat sami’ (pendengaran / memahami), Nikmat bashir (menyaksikan akan kebesaran-Nya). Sebagaimana Firmannya:

Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya”. (Q.S Ibrahim 14:34)

Setelah berhenti tangan itu kadar senafas, turunkan kembali sambil meletakkan di dada. Sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh Imam Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Ahmad dari Wa il Ibnu Hujr. 
Adab di Kala I’tidal

Apabila kita telah I’tidal, maka hendaklah kita Ingat bahwa kita berdiri itu adalah untuk memuji Allah SWT. Dan men-sifatkan pujian kita itu, dan untuk mengakui ke hambaan kita kepada Allah SWT. Bahwasanya Allah SWT sendirilah yang dapat memberi manfa’at dan yang dapat menahannya.

Rukun I’tidal ini melengkapi se afdal-afdal dzikir dan semanfa’at-manfa’at Do’a. lantaran inilah rukun I’tidal, tidak kurang derajatnya dari pada rukun ruku’. di Waktu I’tidal ini, kita di bolehkan untuk mengucapkan sesuatu Do’a, yang kita inginkan, yang ada tuntunannya dari Nabi SAW. Seperti Do’a Qunut dan Lain-lainnya.

di Riwayatkan dari Abu Hurairah R.A berkata bahwa Rasulullah SAW berkata:
Yang Artinya: “Apabila Imam membaca Sami ‘Allahuliman-hamidah”, hendaklah kamu membaca “Allahumma Rabbana Wa Lakal Hamdu”. Sebab sesungguhnya barang siapa yang bacaannya bertepatan dengan bacaan malaikat, niscaya Allah SWT akan meng-ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq’alaih)

ALLAHUMMA RABBANA LAKAL HAMDU MIL USSAMA WATI WAMIL UL ARDHI WAMA BAYNAHUMA WAMIL U MA SYI’TA MIN SYAY IN BA’DU, AHLATSTSANA I WALMAJDI A HAQQU MA QALAL ‘ABDU WAKULLUNA LAKA ‘ABDU, ALLAHUMMA LAMANI’A LIMA A’THAIYTA WALA MU’THIYA LIMA MANA’TA WALA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU
Artinya: “Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan bumi dan sepenuh jarak antara keduanya dan sepenuh apa saya yang Engkai kehendaki setelah itu, Pemilik pujian dan keagungan. Sesuatu yang paling benar untuk di katakana seseorang hamba dan setiap kami adalah hamba-Mu. Ya Allah sesungguhnya tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau larang dan tidak ada manfa’at kehormatan di banding kehormatan-Mu.” (H.R Muslim 477, Abu Daud 747 dan An-Nasa’i 2/198).

dan Terkadang beliau SAW menambahkan atas ucapan ini sesuatu Do’a seperti:
ALLAHUMMA THAHIRNI BITSTSALJI WALBARADI WAL MA IL BARID. ALLAHUMMA THAHIRNI MINADZ DZUNUWBI WALKHATHAYA KAMA YUNAQQATS TSAWBUL ABYADHU MINAL WASAKHI
Artinya: “Ya Allah, sucikanlah akan daku dengan air batu dan air dingin. Ya Tuhanku, sucikanlah akan daku dari segala dosa dan kesalahan, sebagaimana ia bersihkan kain putih dari kotoran”
Do’a ini di Riwayatkan oleh Ahmad, Muslm, dari Abdullah Ibn Abi Aufa R.A dari Nabi SAW.

Rasulullah SAW sering benar memanjangkan I’tidal ini dengan memanjangkan Do’a sehingga orang menyangka beliau telah lupa. Dan terkadang Nabi SAW membaca di dalam I’tidal di shalat Malam:

LI RABBIYAL HAMDU LI RABBIYAL HAMDU
Artinya: “Untuk Tuhanku segala rupa puji, Untuk Tuhanku segala macam puji”
Tahmid ini di Riwayatkan oleh Abu Daud dari Khuzifah, beliau mengulang-ulangi tahmid ini sekira lama ruku’

Rifa’ah Ibnu Rafi’ R.A telah menceritakan hadits berikut:
Pada suatu hari, kami shalat di belakang Nabi SAW (sebagai Makmum), ketika Ia mengangkat kepalanya dari Ruku’, ia mengucapkan:

SAMI ALLAHULIMAN HAMIDAH
“Semoga Allah memperkenankan orang yang memuji kepada-Nya”,
Lalu seseorang lelaki yang ada di belakangnya mengucapkan:

RABBANA WALAKAL HAMDU HAMDAN KATSYRAN THAYYIBAN MUBARAKAN FIYHI
Artinya: “Ya Rabb kami, bagi-Mu puji-pujian, pujian yang banyak, baik dan barakah”. (H.R Bukhari 2/237, Abu Daud 770, An-Nasa’i 2-196 dan Ath-Thurmudzi 404)

Keterangan:
Ketika selesai (dari shalatnya),  Ia bersabda:
“Siapakah yang mengucapkan Do’a tadi?”, Lelaki Tersebut Menjawab “Saya”. Nabi SAW bersabda “Aku melihat 30 Malaikat lebih berlomba-lomba mencatatnya karena ingin menjadi pencatatnya yang pertama”.

Allah SWT telah Berfirman:
وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ  إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Artinya: “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal shaleh di naikannya” (Q.S Al-Fathir 35:10)

Apabila kita membaca “Allahumma Rabbana Lakal Hamdu Mil Ussama Wati Wamil Ul Ardhi Wama Baynahuma Wamil U Ma Syi’ta Min Syay In Ba’du”, Maka hendaklah kita ingat bahwa pujian yang kita hadapkan kepada Allah SWT. Ialah sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa saya yang Allah SWT kehendaki.
“Allahumma Rabbana, Ya Allah Rabb kami”. Yaitu Nama Dzat Allah mencakup segala sifat, Rabb yang maha mendidik dengan sebab dan akibat (Hukum Kausalita). “Lakal Hamdu, Bagi-Mu segala puji”, dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah R.A menerangkan bahwa para malaikatpun mengucapkan pujian pula sesudah Imam Mengucapkan Sami ‘Allahuliman Hamidah. (H.R Khamsah).

“Mil Ussama Wati Wamil Ul Ardhi, Sepenuh langit dan sepenuh bumi”, kalimat ini merupakan ungkapan kinayah yang menunjukkan banyaknya bilangan, sehingga andai kata pujian itu berupa benda, maka niscaya ia akan memenuhi langit dan bumi”
“Ba’du, yakni sesudah langit dan bumi”, yang di maksud ialah di bawah ‘Arasy dan di atas kursi ‘Arasy. Seakan-akan Nabi SAW mengatakan Aku memuji-Mu, dengan pujian yang memenuhi semesta alam, dan alam malakut.

Menurut Riwayat yang di kemukakan oleh Imam Muslim dan Abu Daud di tambahkan:
AHLATS TSANA-I WAL MAJDI AHAQQU MAQALAL ‘ABDU WAKULLUNA LAKA ‘ABDUN ALLAHUMMA LAMANI’A LIMA A’THAYTA WALA MU’THIYA LIMA MANA’TA WALA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU
“Wahai Tuhan yang berhak untuk di sanjung dan di agungkan, perkataan yang paling berhak untuk di ucapkan bagi seorang hamba kita semua tiada lain adalah hamba-Mu. Ya Allah, tiada seorangpun yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan, dan tiada seorangpun yang dapat memberi apa yang Engaku cegah serta tiada kedudukan dan harta yang dimiliki seseorang dapat memberikan manfa’at di sisi-Mu”

Keterangan:
“Ahlats Tsanaa”, di baca nashab, berkedudukan sebagai nida (objek yang di seru). Artinya “Wahai Tuhan yang berhak untuk di sanjung”. Lafaz ini dapat pula di baca “Ahluts Tsanaa” artinya “Engkau adalah Tuhan yang berhak di sanjung”.
“Al Majdu” artinya Agung dan paling terhormat.

Bila kita membaca “Wa Kulluna Laka ‘Abdun”, Maka hendaklah kita rasakan bahwa kita ini hamba Allah SWT, di Jadikan untuk beribadat kepada-Nya, dan Allah SWT sendirilah yang berhak menerima ibadat itu.

Bila kita membaca “Lamani’a Lima A’thayta Wala Mu’thiya Lima Mana’ta Yan Fa’u Dzal Jaddi Minkal Jaddu”, hendaklah tanamkan di hati kita bahwasanya Allah SWT sendirilah yang berhak menerima ibadat dan mempunyai Nikmat. Bila Allah SWT memberi nikmat-Nya, tak ada seorangpun yang dapat menahannya. Bila Allah SWT menahan nikmat-Nya, tak ada seorangpun yang dapat memberinya. Dan tak ada berguna di sisi-Nya barang sesuatu jugapun. Tak dapatlah harta, ketenaran, kemasyhuran, kekuasaan, jabatan didunia ini yang dapat melepaskan kita dari adzab Allah SWT yang memberi manfa’at hanyalah amal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

KEUTAMAAN SHALAT

         Sesungguhnya shalat mempunyai kedudukan yang sangat agung dalam agama islam ini. sebab, shalat merupakan tiang yang menjaganya, dan amalan yang pertama kali akan dihisab dari seseorang hamba kelak pada hari kiamat. Mengingat begitu urgensinya dan begitu tinggi kedudukannya dalam Islam, maka shalat termasuk salah satu wasiat yang di sampaikan oleh Rasullullah S.AW saat beliau dalam keadaan sakaratul maut. “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya” kemudian beliau bersabda:  ASHALATA ASHALATA WAMA MALAKAT AYMANUKUM ARTINYA: “JAGALAH SHALAT, JAGALAH SHALAT DAN HAMBA SAHAYA KALIAN”  Shalawat dan salam selalu dicurahkan atas diri beliau beserta keluarga & orang-orang yang mengikutinya.   
          Apabila urgensi shalat tersebut telah dipahami, niscaya tidak akan di dapati dalam masyarakat Islam perkara-perkara yang menyeret pada perbuatan keji dan dosa. Sebab, penyebab utama perkara-perkara tersebut adalah karena mereka meninggalkan shalat atau meremehkan pelaksanaannya.  Allah S.W.T berfirman:  إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  Artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya) dari ibadah-ibadah yang lain, dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” (QS: Al-‘Ankabut, 29:45)     
        Orang yang selalu mengerjakan shalat lima waktu, maka ia tidak mungkin akan mengkhianati umat dan bangsanya, serta tidak mungkin pula mengkhianati risalah dan amanah-Nya    
         Rasullullah S.A.W telah memberikan kepada kita resep yang mujarab untuk mengobati segala dosa dan penyimpangan. Sebagaimana sabda beliau:  “BAGAIMANA PENDAPAT KALIAN, JIKA DI DEPAN PINTU RUMAH SALAH SEORANG DI ANTARA KALIAN ADA SUNGAI, SEHINGGA SETIAP HARINYA IA MANDI SEBANYAK LIMA KALI, MAKA APAKAH MASIH TERSISA SEDIKITPUN DARI KOTORANNYA?” PARA SAHABAT MENJAWAB, “TIDAK, YA RASULLULLAH.” MAKA RASULLULLAH S.A.W BERSABDA, “ITULAH PERUMPAMAAN SHALAT LIMA WAKTU. DENGANNYA ALLAH AKAN MENGHAPUS SEMUA KESALAHAN (DOSA)” (H.R Muslim)     
       Adapun tata cara melaksanakan shalat Rasullullah S.A.W, menuntun kita sebagaimana sabdanya: SHALLU KAMA RA’AITUMUNI USHALLU ARTINYA: “SHALATLAH KAMU SEKALIAN SEBAGAIMANA KALIAN MELIHAT AKU SHALAT”  Ini merupakan sebuah instruksi dari beliau supaya kita meneladani shalat beliau S.A.W dimana shalat beliaulah yang paling lengkap dan paling sempurna.         
    Rasullullah S.A.W apabila hendak mengerjakan shalat dan telah menghadap kiblat, maka beliau biasa memulainya dengan ucapan “Allahu Akbar” (H.R Muslim dan Ibnu Majah)     
        Inilah yang disebut Takbiratul Ikhram, ia termasuk salah satu rukun shalat, dan shalat tidak akan sah tanpa di mulai dengannya, beliau tidak pernah mengucapkan sesuatupun sebelum Takbiratul Ikhram, dan beliau juga tidak pernah melafazhkan niat secara mutlak, sebagaimana dilakukan orang-orang sekarang.  Sesungguhnya amalan ini termasuk bid’ah yang tiada dalilnya, mengucapkan atau melafazhkan niat tersebut. Dan beliau S.A.W hanya memerintahkan sebagaimana sabdanya:  “JIKA KAMU TELAH BERDIRI UNTUK MENGERJAKAN SHALAT, MAKA BER TAKBIRLAH” (H.R Bukhari 799-757, Muslim 397)  Adapun membaca do’a Isti’adzah yakni memohon perlindungan kepada Allah, dengan mengucapkan “A’udzubillahi minasysyaithanirrajim” ada tuntunannya, yaitu firman Allah S.W.T:  فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ Artinya: “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk” (Q.S Al-Nahl, 16:98)  Juga Bedasarkan Praktek Nabi S.A.W Karena Beliau Setelah Membaca Do’a Iftitah, Biasa Mengucapkan:  “ALLAHUMMA INNI ‘AUDZUBIKA MINASYSYAITANIRRAJIM MIN HAMZIHI WANAFJIHI WANAFTSIHI” ARTINYA: YA ALLAH, SESUNGGUHNYA AKU BERLINDUNG KEPADA-MU DARI SYETAN YANG TERKUTUK, BAIK DARI GOADAAN BISIKAN MAUPUN SIHIRNYA. (H.R Abu Daud 670, Ibnu Majah 807)  Diriwayatkan dengan shahih dari nabi S.A.W:  LA SHALATA LIMN LAM YAQRA’ BIFATIHATIL KITAB. ARTINYA: “TIDAK SAH SHALAT SESEORAN, APABILA TIDAK MEMBACA SURAT AL-FATIHAH” (H.R Bukhari 576, Muslim 394)  Tentang menyimak (mendengarkan) bacaan imam, Allah S.W.T berfirman:  وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ  Artinya: “dan Apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat” (Q.S Al-A’raf 7:204)  Juga bedasarkan sabda nabi S.A.W:  MAN KANALAHU IMAMUN FAQIRA ATUHULAHU QIRA ATU ARTINYA: “BARANG SIAPA YANG SHALAT BERSAMA IMAM, MAKA BACAAN IMAM JUGA MENJADI BACAANNYA” (H.R Ibnu Majah 850). Mayoritas ulama lebih mengunggulkan pendapat ini.  Disunnahkan bagi imam, makmum dan yang shalat sendirian untuk membaca “Amin” beliau S.A.W memotivikas kita supaya mengamalkan hal itu dalam sabdanya:  MAN WAFAQA TA’MINUHU TAKMINAL MALA IKATI GHUFIRALAHU MATAQADDAMA MIN DZAMBIHI ARTINYA: BARANG SIAPA YANG UCAPAN AMINNYA BERTEPATAN DENGAN UCAPAN AMIN PARA MALIAIKAT, MAKA DOSA-DOSANYA YANG TELAH LAMPAU TELAH DIAMPUNI (H.R Bukhari 780, muslim 410)  Disunnahkan juga kita membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an pada dua rakaat pertama setelah Al-Fatihah, karna nabi S.A.W juga membacanya demikian. Dalam shalat subuh nabi S.A.W biasa membaca sekitar 60 sampai 100 ayat, kadang kala beliau S.A.W memanjangkan bacaan shalat dzuhur, sementara dalam shalat Asharnya hanya separuh dari bacaan shalat dzuhur. Dalam shalat magrib beliau biasa membaca surat-surat pendek dan adapun pada shalat isya bacaan beliau biasanya pertengahan saja. Seperti surat Al-A’la, Adh-Dhuha, Alam Nasrah, Asy-Syams, At-Tin dan sejenisnya    
         Sementara pada shalat jum’at beliau biasa membaca surat Al-Jumu’ah, Al-Munafiqun, Al-A’la dan Al-Ghosyiyah. Sedangkan dalam shalat ‘Id, beliau biasa membaca surat Qaf dan Al-Qamar ataupun Al-A’la dan Al-Ghasyiyah  Beliau biasanya lebih memanjangkan rakaat pertama dari pada rakaat kedua. Beliau selalu membaca sesuai dengan madnya, berhenti dalam setiap ayatnya dan memanjangkan suaranya:  Beliau bersabda:  LAYSA MINNA MAN LAM YATAGANNI BILQUR’ANI “BUKAN TERMASUK GOLORANGKAN KAMI ORANG YANG TIDAK MELAGUKAN (MEMBAGUSKAN) BACAAN AL-QURANNYA (H.R Bukhari 7527)  Ini merupakan suatu seruan dan motivasi supaya kita memperindah suara saat membaca Al-Qur’an dan membaguskan bacaan Al-Qur’an  Dalam shalat sunnah, beliau biasa memuji Allah saat membaca ayat yang didalamnya terdapat tasbih, meminta (karunia) kepada Allah dan memohon perlindungan kepadaNya

ADAB DI KALA RUKU’ DAN MEMBACA TASBIH

Apabila kita telah selesai dari membaca surat, maka hendaklah kita berdiam kadar senafas, Sesudah berdiam kadar senafas itu, bergeraklah untuk ruku’, yakni angkatlah tangan sebagai sifat di ketika ber Takbiratul Ikhram. Sesudah itu, bacalah takbir seraya tunduk kepada ruku’.

Takbir itu dihabiskan di dalam tunduk kepada ruku’ itu, sambil mengatakan “Allahu Akbar” dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya. Hadits Ibnu Umar R.A dia berkata yang Artinya:

“Aku melihat Rasulullah SAW, jika beliau hendak shalat, maka beliau mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya, lalu bertakbir. Jika hendak ruku’ beliau SAW melakukan hal itu juga. Jika bangun dari ruku’, beliau melakukan hal itu juga. Tapi, beliau tidak melakukan hal itu ketika mengangkat kepala dari sujud. (Muttaqun’alaih No. 703 dan No. 390)

Apabila kita telah tunduk kepada ruku' maka hendaklah kita letakkan kedua tangan kita di atas kedua lutut, dengan merenggangkan anak jari-jari dan hendaklah kita merenggangkan kedua-dua siku kita dari lambung. Dan hendaklah kita datarkan belakang (punggung) kita atau menyamakan tinggi kepala dengan dataran belakang itu. Jangan ditundukkan dan jangan ditinggikan.

Membaca Tasbih Dalam Ruku’

Sesudah sempurna keadaan ruku', hendaklah kita membaca tasbih ruku’ sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari ‘Uqbah Ibnu Amir R.A, ujarnya:
Manakala turun firman Allah SWT:
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Artinya: “Maka Bertasbilah Kamu Dengan Nama Tuhan\mu Yang Maha Besar” (QS 56: Al Waqi’ah 96)

1. Maka Rasul S.A.W berkata :
IJ’ALUW HAA FI RUKUW ‘IKUM
“Jadikanlah Tasbih, Subhanarabbial’adzim Dalam Ruku’mu”

Dikala ruku' itu hendaklah kita ingat bahwa kita melakukan ruku’ itu untuk menyatakan kebesaran Allah S.W.T; karena itu, seutama-utama zikir di dalam ruku’ ialah “Subhana Rabbial ‘Adzim”

Al-Albani membawakan sebuah hadits “Subhanarabbial ‘adzim” di ucapkan sebanyak tiga kali (HR Riwayat Ahmad, Abu Daud. Ibnu Majah, Daru Qudhni, Ibnu Khuzaimah, Thabrani dan yang Lainnya). Sedangkan yang lebih lengkap adalah mengucapkannya sebanyak sepuluh kali berdasarkan hadits Hudzaifah R.A:
“Bahwa Rasulullah S.A.W Pernah Membacanya Sebanyak Sepuluh Kali”

Di Riwayatkan oleh Al-Bukhari bahwa Umar Bin Abdul Aziz biasa membacanya sebanyak sepuluh kali: maka Anas r.a berkomentar “aku tidak pernah shalat di belakang seorang pun yang lebih mirip dengan shalat Rasulullah S.A.W dari pada shalatnya orang ini yakni Umar bin Abdul Aziz”

Membaca tasbih adalah untuk mengakui kesucian Allah S.W.T yang Maha Besar dari segala rupa kekurangan. Maka apabila kita membaca “Subhana rabbial ‘adzim” hendaklah kita kenangkan kebesaran Allah s.w.t. kebesaran urusan-Nya, dan hendaklah kita ingat akan kehinaan diri kita dan kesucian Allah s.w.t dari segala kekurangan.

2. Terkadang beliau membaca:
SUBBUWHUN QUDDUWSUN RABBUL MALA IKATI WARRUH
“Tuhan Yang Maha Suci, Tuhan Yang Maha Kudus, Tuhan Yang Memelihara Malaikat Dan Ruh”
Tasbih ini diriwayatkan oleh Muslim (487), Abu Daud (872) dari Aisyah R.A dari Nabi S.A.W

3. Terkadang beliau membaca:
SUBHANA DZIYL JABARUWT, WALMALAKUWTI WALKIBRI YA-I-WAL’AZHAMATI.
“Maha Suci Tuhan (Aku Akui Kesucian Tuhan) Yang Mempunyai Kekerasan, Kekuasaan, Kebesaran Dan Kemuliaan
Tasbih ini diriwayatkan oleh Abu Daud (873), Ahmad At-Turmudzi An-Nasa-i (2/191) dari Awuf Ibnu Malik R.A

 4. Kadangkala beliau membaca:
SUBHANAKALLAHUMMA RABBANA WA BIHAMDIKA, ALLAHUMMAGHFIRLIY
“Maha Suci Engkau, Wahai Tuhanku, Wahai Tuhan Kami, Dan Dengan Memuji Engkau (Aku Akui Kesucian-Mu) Wahai Tuhan Kami Seraya Aku Memuji-Mu, Ya Allah Ampunilah Segala Dosaku”
Tasbih ini diriwayatkan oleh Aisyah r.a dari Nabi s.a.w dan juga hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (794) dan Muslim (484) dari Aisyah r.a

5. Pada sekali-kali beliau membaca
ALLAHUMALAKA RAKA’TU, WABIKA AMANTU, WALAKA ASLAMTU, WA’ALAYKA TAWAKALTU ANTA RABBI KHASYA’A QALBI WASAM’I WABASHARIWWADAMI WALAHMI WA’AZHMI WA’ASHABILILLAHI RABBIL’ALAMIYN
“Wahai Tuhanku! Untuk Engkau Aku Ruku', Kepada Engkau Aku Beriman, Kepada Engkau Aku Menyerahkan Diri Dan Kepada Engkau Aku Bertawakal. Engkaulah Tuhanku, Telah Tunduk Jiwaku, Pendengaranku, Penglihatanku, Darahku, Dagingku, Tulangku Dan Urat Nadiku Kepada Allah Yang Memelihara Segala Alam”
Do’a Ini Diriwayatkan Oleh Ahmad, Muslim, Abu Daud Dari Ali R.A Dari Nabi S.A.W

Abu Mas’ud Al-Anshari berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: LA TUJZI-U-SHALATAN LAYUQIMURRA JULU FIHA SHULBAHU FIRRUKU’I WASSUJUUD.
“tidak sah shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang belakangnya ruku' dan sujud” (HR Lima Imam Hadits)
(Musnad Ahmad (4/22), Sunan Abu Daud (855), At-Turmudzi No 265, An-Nasai (Al-Mujtaba) No 1027, Ibnu Majah No 870, lihat juga Shahih Ibnu Khudzaimah (1/333), Shahih Ibnu Hibban (5/217) No. 1892, Al-Ahadits Al-Mukhtarah (8/166, 182), At-tirmidzi menilai hadits ini shahih)

Hudzaifah R.A pada suatu hari melihat seseorang lelaki yang (sedang shalat) tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya, lalu berkata: Imashallaytu Walaw Muttamutta ‘Ala Bhayril Fithratillatiy Fatarallahu Muhammadan S.A.W ‘Alaiha
“engkau masih belum shalat, seandainya engkau mati, niscaya engkau mati bukan dalam keadaan fithrah (agama Islam) yang telah ditetapkan Allah s.w.t kepada Nabi s.a.w (HR Bukhari dan Muslim)

Sahabat Ali R.A telah menceritakan hadits berikut : Nabi s.a.w apabila ruku' maka ia mengucapkan : ALLAHUMA LAKA RAKA’TU WABIKA AMANTU WALAKA ASLAMTU KHASYA’A LAKA SAM’IY WA BASHARIW WAMUJJI WA ‘AZMIY WA’ASHABIY
“Ya Allah hanya kepada Engkaulah aku ruku', hanya kepada Engkaulah aku beriman dan hanya kepada Engkaulah aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku dan syarafku semuanya khusyuk kepada-Mu” (Riwayat Khamsah kecuali Bukhari)
Ket: Nabi s.a.w mengucapkan do’a ini seseudah tasbih atau sebelumnya.

Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud R.A telah menceritakan dari Nabi s.a.w bahwa beliau pernah bersabda : “apabila seseorang di antara kalian ruku' lalu ia mengucapkan dalam ruku'nya itu do’a ini, “Maha Suci Rabbku yang Maha Agung” sebanyak tiga kali maka ruku'nya telah sempurna, yang demikian itu merupakan batas minimalnya. Dan apabila ia sujud lalu mengucapkan dalam sujudnya itu do’a ini “Maha Suci Rabb ku yang Maha Tinggi” sebanyak tiga kali berarti sujudnya telah sempurna, yang demikian itu merupakan batas minimalnya. (HR Turmidzi dan Abu Daud)

Di antara para fukhaha ada yang berpendapat bahwa bertasbih itu bukan wajib. Pendapat ini menyalahi dhahir Al-Qura’an dan As-Sunah. Dhahir Al-Qur’an dan As-Sunah menunjukan kepada wajib mengerjakan dan membacanya.

Golongan Yang Mewajibkan Tasbih Berdalil Dengan Firman Allah S.W.T

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Dan Bertasbilah Seraya Memuji Tuhanmu Sebelum Terbit Matahari Dan Terbenamnya” (20: Thaha:130)

Dikehendaki dengan tasbih di sini ialah shalat. Di antara jalan menetapkan suatu perbuatan menjadi rukun ialah tuhan menamakan shalat dengan perbuatan itu. Di dalam ayat ini tuhan menamakan shalat dengan tasbih. Hal ini menunjukan kepada wajib tasbih sebagaimana perkataan:
قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا

“Berdirilah pada malam hari melainkan sedikitnya” (QS. Al Muzammil: 73:2)
Menamakan shalat dengan perbuatan-perbuatan tersebut, menunjukan bahwa perbuatan-perbuatan itu tak dapat tidak harus dikerjakan. Kalau dikatakan shalat itu berwujud walaupun tak ada tasbih, tentulah menyuruh tasbih tidak dipandang menyuruh shalat: karena lafadz pada ketika itu bukan menunjuk pada maknanya, tidak pula pada kelaziman maknanya.

Al-Qur’an Menurut Hasan Al-Banna (18) Kedudukan Shalat Dalam Islam

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Kita memulai dengan cara yang paling baik:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Ikhwan yang mulia….
Saya pernah berjanji bahwa suatu saat akan mengkaji tentang kedudukan  shalat dalam Islam. Saya berpikir untuk membahas tema ini pada malam ini.
Shalat adalah kewajiban yang diwajibkan pada malam Isra’. Shalat adalah amal yang kita lakukan berulang-ulang setiap hari, yang apabila kita laksanakan dengan baik dan sempurna, kita pasti memperoleh keuntungan besar.
Ikhwan semua…
Pada malam ini saya akan membahas  tema shalat dari beberapa aspek, dengan sistematika yang tersusun secara wajar. Jangan mengira bahwa saya akan membahas aspek fikihnya, karena aspek ini memerlukan penjelasan, klasifikasi, dan perincian yang panjang. Bila membicarakannya dari aspek ini, tidak cukup kita membicarakannya beberapa malam, apalagi satu malam. Barangsiapa di antara Anda yang ingin memperoleh keterangan lebih luas, silahkan membaca kitab-kitab yang menjelaskannya secara panjang lebar. Tetapi saya di sini, Ikhwan sekalian, hanya ingin mengingatkan tentang nilai shalat sebagai kewajiban mendasar dalam agama Allah swt.
Ikhwan sekalian…
Seringkah saya menyebut shalat dalam Islam itu sebagai manhaj yang lengkap untuk mentarbiyah umat Islam. Yang dimaksudkan bukanlah shalat sekedar sebagai kewajiban ritual yang dilaksanakan untuk melaksanakan agama Allah semata atau sekedar sebagai kewajiban bagi Anda, tanpa Anda pahami maknanya. Akan tetapi shalat adalah jati diri yang melekat di tubuh umat Islam dan ibadah yang mendidik setiap muslim dengan pendidikan yang menakjubkan, sehingga memformatnya menjadi seorang manusia sempurna.
Apabila setiap orang terbentuk darinya sebagai seorang manusia sempurna, maka dari mereka itu akan terbentuk sebuah umat yang sempurna pula. Demikianlah, misi shalat adalah membentuk sebuah
umat yang sempurna.
Ikhwan yang mulia…..
Marilah kita bertanya kepada para pakar pendidikan. Pengertian pendidikan yang sempurna menurut para pakar pendidikan adalah pendidikan yang bisa mengembangkan jasmani, akal, dan ruh. Karena manusia adalah wujud dari ketiga elemen itu, yaitu jasmani, akal, dan ruh. Pendidik yang sempurna adalah yrang mampu mengembangkan akal, jasmani, dan ruh peserta didik secara bersamaan.
Para pendidik di zaman modern ini membuat kaidah-kaidah untuk mendidik jasmani yaitu pemeliharaan kesehatan; mereka juga membuat kaidah-kaidah untuk mendidik akal yaitu pengajaran serta kaidah-kaidah untuk mendidik jiwa yaitu ilmu jiwa dan falsafah moral. Mereka menyusun buku-buku besar dan berjilid-jilid dalam setiap bidang ilmu.
Ikhwan yang mulia…
Islam adalah agama praktis, yang telah meletakkan ilmu-ilmu ini secara praktis pula dalam satu “kapsul”. Islam memerintahkan Anda untuk meminumnya lima kali dalam sehari.
“Kapsul” ini adalah shalat. Anda meminumnya tanpa perlu mengerti komposisinya, tetapi hasilnya, akal, ruh, dan jasmani Anda menjadi sehat secara keseluruhan. Untuk melaksanakan shalat, wahai Akhi, Anda harus selalu dalam keadaan bersih: bersih pakaian, tempat shalat, dan badan. Ini merupakan intisari dari pemeliharaan kesehatan. Agar bisa melaksanakan shalat, Anda harus tidur di awal malam agar bisa bangun pagi-pagi sekali untuk melaksanakan shalat fajar. Inilah petunjuk kesehatan yang pertama kali diberikan kepada murid di sekolah. Anda akan menjadi cekatan, karena Anda berdiri menuju pekerjaan ini di siang hari tiga kali: untuk melaksanakan shalat zhuhur, ashar, dan maghrib. Dengan demikian, peredaran darah bisa berjalan secara baik.
Shalat juga merupakan kesempatan bagi seluruh anggota badan untuk
beristirahat. Jadi, shalat menjadikan Anda cekatan, bersih, tidur di awal
malam, dan bangun pagi. Karena itu, kakek-kakek kita yang melaksanakan
shalat sebagaimana mestinya, usia mereka bisa mencapai lebih
dari seratus tahun sedangkan kesehatan, kekuatan, dan ketangkasan
jasmani mereka masih prima.
Setelah itu, wahai Akhi, Anda mendatangi tempat shalat, menghadap
kiblat, mengkonsentrasikan pikiran untuk menghayati makna, dan menghilangkan pikiran tentang dunia. Ini mempunyai pengaruh dalam
menguatkan kemauan dan menghimpun cahaya jiwa. Shalat adalah latihan paling efektif untuk memperkuat kemauan.
Kemudian Anda mengucapkan, “Allahu Akbar (Allah Mahabesar)”, maka Anda membebaskan diri dari segala yang ada di sekitar Anda dan menghadap kepada Allah swt. Anda melakukan rukuk untuk mengagungkan “Majikan” Anda. Anda mengucapkan “Subhana rabbiyal
‘azhi
m (Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung)”. Kemudian Anda bersujud.
Di sana nurani Anda bangkit, nurani manusia bangkit. Ketika nurani manusia bangkit, maka saat itulah ia mengerti barometer yang membedakan antara kebaikan dan keburukan. Kebangunan nurani ini tidak mungkin bisa dicapai hanya dengan mempelajari pendidikan moral atau membaca buku. Betapa banyak ulama yang keilmuan mereka telah mencapai tingkatan yang tinggi, tetapi nurani mereka rusak. Adapun nurani yang sehat, ia merupakan cahaya di dalam hati manusia yang dimasukkan oleh Allah swt. ke dalam dada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, sehingga hamba tersebut bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan.
Proses pembangkitan nurani ini terus berulang lima kali dalam sehari semalam.
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah lain).” (AlAnkabut: 45)
Adapun cara pengajaran dalam shalat, wahai Akhi, adalah mendengar
ayat-ayat berikut setelah imam membaca Al-Fatihah.
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang-orang yang buta? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut  kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari ridha Tuhannya, mendirikan sha-lat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (Ar-Ra’d: 19-22)
Pada rakaat kedua, Anda mendengarnya membaca,
“Wahai orang-orang
yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat. Jika kalian tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kalian masuk sebelum kalian mendapat izin. Dan jika dikatakan kepada kalian, ‘Kembalilah!’, maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(An-Nur: 27-28)
Di rakaat yang lain, wahai Akhi, Anda menerima pelajaran tentang aturan yang berlaku dalam perang..
“Dan apabila kamu  berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.” (An-Nisa: 102)
Di rakaat keempat, wahai Akhi, Anda mendengar ayat yang merupakan
pelajaran lengkap mengenai muamalah.
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kalian menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhan-nya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri ddak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kalian jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalah itu) kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kalian jalankan di antara kalian, maka tak ada dosa bagi kalian, (jika) kalian ddak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan. Jika kalian lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada diri kalian. Dan bertaqwalah kepada Allah; niscaya Allah mengajar kalian; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)
Ikhwan sekalian…
Suatu ketika saya melaksanakan shalat tarawih dan membaca seperempat juz mulai: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi” (Al-Baqarah: 219) Seusai shalat, salah seorang Ikhwan berkata, “Untuk menjelaskan seperempat juz ini diperlukan waktu beberapa malam, karena ia mengandung banyak hukum. Ia merupakan kurikulum panjang yang bisa dibaca seseorang dalam satu rakaat shalat saja.”
Andaikata kaum muslimin mengetahui tujuan-tujuan tinggi dari shalat ini, andaikata para imam mau memilihkan ayat-ayat yang akan mereka bacakan kepada para makmum di mihrab, ketika mereka bersama-sama berdiri di hadapan Allah swt., jika mereka mampu menyinarkan cahaya Al-Qur’anul Karim kepada orang-orang yang shalat:, maka ketika itu kita melihat bahwa shalat bisa menjadi ibarat “kapsul” yang bermanfaat serta bisa mendidik dan membentuk umat Islam. Nabi saw. telah berhasil meluluskan orang-orang yang menjadi pemimpin-pemimpin dunia melalui madrasah ini, madrasah shalat, dengan metode ini. Tokoh-tokoh itu, wahai Akhi, tidak lulus dari sekolah mana pun selain dari masjid yang berlantaikan kerikil dan beratapkan pelepah kurma.
Wahai Akhi…
Adapun manfaat ukhrawi dari  shalat, aspek targhib di dalamnya, dan bagaimana Nabi saw. dengan lembut mengungkapkan keindahan yang terkandung dalam shalat ini kepada para sahabatnya, maka ada sebuah hadits shahih ketika Nabi saw. dalam perjalanan.
Beliau mendapati sebuah ranting kering. Beliau menggenggam ujung
ranting itu lantas menarik tangannya ke bawah sehingga daun-daunnya
berguguran. Ranting itu bersih tanpa daun. Lalu beliau bersabda, “Kamu
semua lelah melihat apa yang baru saja kulakukan.” Mereka menjawab,
“Benar, wahai Rasulullah. ” Beliau bersabda, “Itulah pemisalan shalat lima waktu. Ia menggugurkan dosa-dosa. ”
Diriwayatkan pula bahwa beliau saw. bersabda,
“Bagaimanakah pendapatmu jika ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang dari kamu, di mana ia mandi lima kali sehari, apakah ada kotoran yang masih tersisa di badannya?” Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah. ” Beliau bersabda, “Itulah perumpamaan shalat lima waktu.
Dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa.” Nabi saw. juga bersabda,
‘Kunci surga adalah shalat. Dan kunci shalat adalah kesucian.”
Beliau saw. juga bersabda,
“Jika seorang hamba berwudhu dengan baik, maka kesalahan-kesalahannya keluar dari badannya, bahkan juga keluar dari bawah jari-jarinya.”
Perumpamaan ini merupakan simbolisasi makna yang dikehendaki oleh Rasulullah saw, yaitu bahwa shalat tidak menyisakan dosa-dosa sedikit pun.
Wahai Ikhwan yang terhormat…
Pada kenyataannya, jika manusia melaksanakan shalat dengan benar, maka seluruh kesalahannya dibersihkan.
Adapun dosa-dosa kecil, maka akan dibersihkan langsung, karena ia merupakan hak Allah swt. Adapun dosa yang tidak bisa dihapuskan kecuali dengan taubat, maka shalat yang benar ini akan memunculkan rasa penyesalan pada diri pelakunya, sehingga ia segera bertaubat. Adapun yang berkaitan dengan hak manusia, yaitu hak yang tidak bisa digugurkan kecuali dengan meminta maaf atau mengembalikan hak, maka jika shalat yang dilakukan benar, niscaya pelakunya bersegera meminta maaf. Allah swt. akan memperlakukan manusia berdasarkan ketulusan hatinya.
Banyak akh mengadu bahwa hati mereka terpecah dan tidak bisa  berkonsentrasi mengingat Allah swt. dalam shalat. Satu kaidah penting yang perlu diperhatikan sebagai terapi yang bisa menyembuhkan atau minimal meringankan hal ini, yaitu hendaklah Anda.
Wahai Akhi…
Memahami hikmah setiap amal yang dilaksanakan di dalam shalat. Perhatikan ini, tetapi jangan berlebihan dalam memperhatikannya. Ketika menghadap kiblat, berusahalah agar sebelum bertakbir bisa mengalahkan cahaya yang keluar dari hati Anda sampai ke Ka’bah.
Bayangkanlah bahwa Allah swt. memandang dan mengawasi Anda. Jika Anda bisa mengkonsentrasikan pikiran ketika itu, Anda akan mampu memegang kendalinya sehingga tidak akan berbelok setelahnya. Ketika Anda membaca Al-Fatihah, ingadah, sebuah hadits qudsi yang menyatakan:
“Shalat itu dibagi antara Aku dan hamba-Ku. Jika hamba-Ku mengucapkan,
Bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang),’ maka Allah swt. berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyebut-Ku.’ Jika ia mengucapkan. Alhamdulillahirabbil alamain (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam),’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah  memuji-Ku.’ Jika hamba tersebut mengucapkan, ‘Arrahmanirrahim (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang),’ maka Allah berfirman, Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Maliki yaumiddin (Yang
Merajai Hari Pembalasan),’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku. ‘Jika ia berkata, ‘Iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami
beribadah),’ maka Allah swt. berfirman, Hamba-Ku telah beribadah kepada-Ku. ‘ Apabila ia mengucapkan, ‘Wa iyyaka nasta’in (Dan hanya kepada-Mu Kami memohon pertolongan),’ maka Allah swt. berfirman, Hamba-Ku bertawakal kepada-Ku.’” … dan dalam riwayat lain, ‘Jika ia berkata, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’ maka Allah swt. berfirman, ‘Ini adalah bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku.’… Dan jika ia mengucapkan, ‘Ihdinash shirathal mustaqim (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus),’ maka Allah swt. berfirman, Ini adalah untuk hamba-Ku dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya.”‘
Bayangkanlah hakikat yang mulia ini, wahai Akhi, ketika Anda membaca Al-Fatihah. Bayangkanlah di hadapan Anda ada megaphone yang mengeluarkan gema dan suara berkali-kali di lingkungan “Al-Malaul A’la”.
Setelah itu Anda mulai bermunajat kepada “Majikan” Anda dengan membaca ayat-ayat kitab Allah swt. yang dapat Anda baca dengan mudah. Berusahalah memahami makna sesuai dengan kadar kemampuan Anda, tanpa memaksa-maksakan diri.
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 17)
Jika Anda telah ruku’, bayangkan seakan-akan Anda tunduk memberikan
penghormatan kepada Allah swt. Berbicaralah kepada-Nya dengan ucapan, “Subhana rabbiyal ‘ayhim (Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung)” dan dengan ucapan,
“Allahumma laka raka’tu wa laka aslamtu wa bika amantu, khasya’a laka sam’i wa bashari wa mukhi wa ‘ayhmi wa ‘ashabi
(Ya Allah, kepada-Mu aku patuh, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, serta kepada-Mu pendengaran, penglihatan, pikiran, tulang, dan urat sarafku tertunduk khusyu’).”
Kemudian Anda mengangkat kepala sampai seluruh anggota badan kembali ke ruas-ruas semula. Kemudian Anda mengucapkan,
“Sami ‘allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamdu mil’as samawati wa mil’al ardhi wa mil’a ma syi’ta min syaiin ba’du, ahlats tsana’i wal
majdi. Ahaqqu ma qalal ‘abdu wa kulluna laka ‘abd. Allahumma la mani’a lima a’thaita wa la mu’thiya lima mana’ta wa la radda lima qadhaita walayanfa’u dyaljaddi minkaljaddu
(Allah mendengar siapa yang memuji-Nya, ya Tuhanku, untuk-Mu-lah segala puji, seisi langit, seisi bumi, dan seisi apa-apa yang Engkau kehendaki setelah itu, Engkau yang berhak dipuji dan diagungkan. Sebenar-benar perkataan yang diucapkan oleh seorang hamba yaitu masing-masing dari kami adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang telah Engkau berikan, tidak ada yang bisa memberikan apa yang telah Engkau halangi, tidak ada yang bisa menolak apa yang telah Engkau tetapkan, dan orang yang mulia, tidak bermanfaat kemuliaannya itu untuk menghalangi (ketetapan)-Mu.)”
Setelah itu Anda bersujud, tersungkur menghormat kepada Allah. Itulah saat Anda paling dekat kepada Allah, Nabi bersabda, “Seorang hamba dalam keadaan paling dekat kepada Tuhannya adalah ketika ia bersujud.”
Di sini Anda bermunajat kepada Tuhan Yang Mahatinggi,
“Allahumma laka sajadtu wa bika amantu wa laka aslamtu, sajada wajhiya lillad’j khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu wa tabarakallahu ahsanul khaliqin
(Ya Allah, kepada-Mu aku bersujud, beriman, dan tunduk patuh. Wajahku bersujud kepada Allah Yang telah menciptakan dan membentuknya, serta Yang telah membukakan pendengaran dan penglihatannya, dan Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta).”
Kemudian Anda mengangkat kepala dari sujud, sehingga anggota badan tegak dengan mantap. Anda mengucapkan,
“Allahummaghfirli warhamni wajburni wahdini wa ‘afini war yuqni
(Ya Allah, ampunilah aku, limpahkan kasih sayang kepadaku, cukupilah aku, tunjukilah aku, serta karuniakanlah kesehatan dan rezeki kepadaku).”
Di rakaat akhir, wahai Akhi, Anda menutup shalat dengan tasyahud.
Tasyahud ini diawali dengan pengakuan bahwa segala penghormatan itu milik Allah, pengakuan kepada keesaan-Nya swt., dan kepada kerasulan Sayidina Muhammad saw. Maka keadaan Anda seakan-akan sebagai orang yang melakukan perjalanan spiritual, di saat Anda meninggalkan dunia dan mencampakkannya sama sekali ke belakang punggung. Anda pergi menjumpai Tuhan seraya berkata,
“Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku, dan Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.”
Karena Anda telah pergi meninggalkan manusia, kemudian akan kembali kepada mereka, maka Anda mengucapkan salam:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Jika Anda memperhatikan hakikat ini, wahai Akhi, ketika mengerjakan
shalat, maka Anda bisa mengkonsentrasikan pikiran, menjernihkan jiwa dan ruhani, serta merasakan kenikmatan shalat yang tidak pernah dirasakan oleh orang lain yang melalaikannya.
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, wahai Ikhwan tercinta, untuk melaksanakan kebaikan dan semoga Dia menunjukkan kita kepada jalan yang lurus. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Kenapa QS.6:163 bacaannya ketika sholat tidak mengikuti al Quran

Kita semua tahu bahwa QS.6:163 bunyinya

لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ


Tetapi ketika sholat bacaannya dirubah menjadi

لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapa yang memerintahkan kita merubah-rubah bacaan ayat Al Quran 
 
Harus disadari dulu bahwa Rasul Allah melarang keras untuk merubah rubah ayat Allah dari tempatnya! karena ini yangterjadi pada ummat NAbi Allah terdahulu!

Tidak boleh seenaknya merubah aku menjadi kami dan sebaliknya. kalau mau membaca yang lain dari Al-Qur'an itu kembali ke individu selama ingat bahwa diperintahkan yang dibaca ketika shalat itu Al-Qur'an.
Dan juga harus disadari dulu bahwa Allah SWT menyuruh anda untuk ta'at kepada Rasulullah saw dan mengambil penjelasan beliau saw

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظاً
Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta'ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta'atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka(QS 4:80)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS 4:59)


Dan Allah SWT menyuruh kita untuk ruju' kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw BUKAN HANYA kepada al-Qur'an semata.

Adalah suatu kesesatan ketika menekankan apa yang dibaca ketika shalat bukan ayat Al-Qur'an. Pendapat seperti ini melanggar langsung ayat Al-Qur'an.
Allah menegaskan melalui lisan Rasulnya :

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْراً وَأَعْظَمَ أَجْراً وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

kalimat "...فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ..." = "..dan bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an"

ayat [73:20] diatas jelas dan tegas bahwa Allah memerintahkan untuk membaca apa yang mudah dari Al-Qur'an ketika shalat! ini tidak bisa dibantah! Nabi Muhammad pun mengetahui hal ini dan tidak mungkin merubah ayat Allah dari tempatnya.
Dan adalah suatu kesesatan mana kala anda menyelisihi petunjuk Rasulullah saw ketika menjelaskan sifat sholat yang dimaksud dalam syari'at Islam.

و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْوَلِيدِ يَعْنِي ابْنَ كَثِيرٍ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُا نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَأَنَا رَاكِعٌ أَوْ سَاجِدٌ
Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib Muhammad bin al-'Ala'] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] dari [al-Walid, yaitu Ibnu Katsir] telah menceritakan kepadaku [Ibrahim bin Abdullah bin Hunain] dari [Bapaknya] bahwasanya dia mendengar [Ali bin Abi Thalib] berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam melarangku dari membaca al-Qur'an ketika saya sedang rukuk atau sujud." (HR. Muslim)

Saya tidak tau, apa yang anda baca ketika ruku dan sujud.


Dan ini adalah cara Rasulullah saw membaca doa iftitah ketika awal sholat :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ حَدَّثَنَا يُوسُفُ الْمَاجِشُونُ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَإِذَا رَكَعَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي وَعَصَبِي وَإِذَا رَفَعَ قَالَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ وَإِذَا سَجَدَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ثُمَّ يَكُونُ مِنْ آخِرِ مَا يَقُولُ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ و حَدَّثَنَاه زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو النَّضْرِ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَمِّهِ الْمَاجِشُونِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ الْأَعْرَجِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِي وَقَالَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ وَقَالَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَقَالَ وَصَوَّرَهُ فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ وَقَالَ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَلَمْ يَقُلْ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bukair Al Muqaddami] telah menceritakan kepada kami [Yusuf Al Majisyun] telah menceritakan kepadaku [bapakku] dari [Abdurrahman Al A'raj] dari [Ubaidullah bin Abu Rafi'] dari [Ali bin Abu Thalib] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; Biasanya apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat, beliau membaca (do'a iftitah) sebagai berikut: "WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDLA HANIIFAN WAMAA ANAA MINAL MUSYRIKIIN, INNA SHALAATII WA NUSUKII WA MAHYAAYA WA MAMAATII LILLAHI RABBIL 'AALAMIIN LAA SYARIIKA LAHU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANAA MINAL MUSLIMIIN ALLAHUMMA ANTAL MALIKU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, ANTA RABBII WA ANAA 'ABDUKA ZHALAMTU NAFSII WA'TARAFTU BI DZANBII FAGHFIL LII DZUNUUBII JAMII'AN INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUB ILLAA ANTA WAH DINII LIAHSANAIL AKHLAAQ LAA YAHDII LIAHSANIHAA ILLAA ANTA WASHRIF 'ANNII SAYYI`AHAA LAA YASHRIFU 'ANNII SAYYI`AHAA ILLAA ANTA LABBAIKA WA SA'DAIKA WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIK WASY SYARRU LAISA ILAIKA ANAA BIKA WA ILAIKA TABAARAKTA WA TA'AALAITA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA (Aku hadapkan wajahku kepada Allah, Maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlas dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan berserah diri kepadaNya. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Labbaik wa sa'daik (Aku patuhi segala perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu. Aku berpegang teguh denganMu dan kepadaMu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampun dariMu dan aku bertobat kepadaMu)." Dan jika beliau ruku' beliau membaca: "ALLAHUMMA LAKA RAKA'TU WA BIKA AAMANTU WA LAKA ASLAMTU KHASYA'A LAKA SAM'II WA BASHARII WA MUKHKHII WA 'AZHMII WA 'ASHABII (Ya Allah, kepadaMu aku ruku', denganMu aku beriman, kepadaMu aku berserah diri, patuh dan tunduk kepadau pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulang-tulangku dan otot-ototku semuanya)." Kemudian bila beliau bangkit dari ruku' beliau membaca: "ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU MIL`AS SAMAAWAATI WA MIL`AL ARDLI WA MIL`A MAA BAINAHUMAA WA MIL`A MAAS YI`TA MIN SYAI`IN BA'DU (Ya Allah, Tuhan kami, untuk-Mulah segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh ruang antara keduanya, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu)." Kemudian apabila beliau sujud beliau membaca: "ALLAHUMMA LAKA SAJADTU WA BIKA AAMANTU WA LAKA ASLAMTU SAJADA WAJHIY LILLADZII KHALAQAHU WA SHAWWARAHU WA SYAQQA SYAM'AHU WA BASHARAHU TABAARAKALLAHU AHSANUL KHALIQIIN (Ya Allah, kepada Engkau aku sujud, dengan Engkau aku beriman, dan kepada Engkau aku berserah diri. Mukaku sujud kepada Tuhan yang menciptakan dan membentuknya, yang membukakan pendengaran dan penglihatannya. Maha suci Allah sebaik-baik Maha pencipta)." Kemudian pada akhir tasyahud sebelum memberi salam beliau membaca: "ALLAHUMMAGH FIRLII MAA QADDAMTU WA MAA AKHKHARTU WAMAA ASRARTU WA MAA A'LANTU WA ASRAFTU WA MAA ANTA A'LAMU BIHI MINNII ANTAL MUQADDiMU WA ANTAL MU`AKHKHIRU LAA ILAAHA ILLAA ANTA (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lama dan yang baru yang tersembunyi dan nyata, yang aku lakukan keterlaluan dan engkau lebih tahu daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan memundurkan. Tidak ada ilah selain Engkau)." Dan telah menceritakannya kepada kami [Zuhair bin Harb] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Mahdi] -dalam jalur periwayatan yang lain- Dan telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] telah mengabarkan kepada kami [Abu An Nadlr] keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah] dari [pamannya] Al Majisyuna bin Abu Salamah dari [Al A'raj] dengan isnad ini, dan ia berkata; Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memulai shalat, beliau bertakbir dan membaca (do'a iftitah): "WAJJAHTU WAJHIYA." Beliau juga membaca: "WA ANA AWWALUL MUSLIMIN." Dan ketika beliau bangkit dari ruku', beliau membaca: "ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU." Beliau juga melanjutkan: "WA SHAWWARAHU FAAHSANA SHUWARAHU." Dan setelah setelah salam beliau membaca: "ALLAHUMMAGHFIR LII MAA QADAMTU." hingga akhir hadits. Dan ia tidak mengatakan; "Antara tasyahud dan salam." (HR. Muslim)
Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib Muhammad bin al-'Ala'] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] dari [al-Walid, yaitu Ibnu Katsir] telah menceritakan kepadaku [Ibrahim bin Abdullah bin Hunain] dari [Bapaknya] bahwasanya dia mendengar [Ali bin Abi Thalib] berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam melarangku dari membaca al-Qur'an ketika saya sedang rukuk atau sujud." (HR. Muslim)

Allah berfirman

“Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada- Ku.” (QS. Adz- Dzariyat : 56)
"Barang siapa berbuat kebaikan sebesar zarahpun kelak ia akan melihat (balasannya), dan barang siapa berbuat kejelekan sebesar zarahpun kelak ia akan melihat (balasannya)"  (QS.Az-Zalzalah 7-8)
" Maka Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan"  (QS. Insyirah : 5-6)
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu "  (QS : At-Takassur : 1) *
* Bermegah-megahan dalam soal banyak anak, harta, pengikut, kemuliaan dan sebagainya, telah melalaikan kamu dari ketaatan kepada Allah.
 "Dan hanya kepada Tuhanmu sajalah hendaknya kamu berharap (pertolongan) " (QS : Al-Insyirah :8)
 "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan, dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar, yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada" (QS : At-Tariq : 5-7)
 "Sungguh, mereka (orang-orang kafir) merencanakan tipu daya yang jahat" (QS : At-Tariq : 15)
 "Memang orang-orang kafir (selalu) mendustakan, Padahal Allah mengepung dari belakang mereka (sehingga mereka tidak dapat lolos), Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia, Yang tersimpan dalam (tempat) yang terjaga (Lauh Mahfuz) (QS : Al-Buruj : 19-22)
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir. (QS : Al-Hasyr : 21)
"(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, "Kafirlah kamu!" Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam." (QS : Al-Hasyr : 16)
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS : At-Tahrim : 6)
"Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung". (QS : Al-Jumu'ah : 10)
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (QS : Al-Baqoroh : 45)
"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus*, muslim dan tidaklah ia termasuk orang-orang yang musyrik". (QS : Ali-Imran : 67)
* Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
"Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan diakhirat dia termasuk orang yang rugi". (QS : Ali-Imran : 85)
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai". 
"Dan Hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar*. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS : Ali-Imran : 103 - 104)
* ma'ruf ialah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan mungkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah.
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman teman orang-orang yang diluar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti. (QS : Ali-Imran : 118)
"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang beriman (QS: Ali-Imran : 139)
"Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan ijin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS : Ali-Imran : 145) 
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia (mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (QS : Al-Ma'idah : 51)
 "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari akhirat." (QS. Al-Hasyr : 18)
 “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)

RENUNGAN HADIST

Dari Ustman RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa meninggal dan ia percaya bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga (Muslim 1/68-69)

Dari Anas RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tiga hal yang barangsiapa dalam dirinya adanya hal itu maka ia akan merasakan manisnya iman (1). Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya (2) Orang yang mencintai orang lain semata-mata karena Allah (3) Orang yang enggan kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia enggan untuk dilemparkan ke dalam neraka (Muslim 1/48)

Dari Abu Syuraih Al Khuza'i RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berlaku baik terhadap tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam." (Muslim 1/50)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak (dianggap) beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukan kepadamu sesuatu yang apabila kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian."  (Muslim 1/53)

Dari abdurahman bin Abu Barkah, dari ayahnya radhiyallahu'anhu ia berkata, "Kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam, seraya bersabda, "Maukah engkau aku beritahukan tiga dosa terbesar? (yaitu) Menyekutukan Allah, durhaka terhadap kedua orang tua dan kesaksian dusta atau ucapan dusta." Rasulullah shallallahu 'alahi wassalam mengucapkan itu sambil bersandar, kemudian beliau duduk. Tak henti-hentinya beliau mengulangi ucapannya, sehingga kami mengharapkan, "Semoga beliau diam." (Muslim 1/64)

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu, dia berkata. "Seseorang lelaki bertanya "Wahai Rasulullah! Dosa apakah yang paling besar disisi Allah? Kamu menjadikan tandingan bagi Allah sedangkan Dia-lah yang telah menciptakanmu.' Lelaki itu bertanya lagi, 'Berikutnya apa? Beliau menjawab, 'Kamu bunuh anakmu karena kamu takut ia makan bersamamu.' Laki-laki itu bertanya lagi, 'Lalu apa?, 'Beliau menjawab, 'Kamu berzina dengan istri tetanggamu.' Lalu Allah Azza Wa jalla menurunkan ayat yang membenarkan jawaban Rasulullah SAW tersebut, yang artinya, "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)." (QS. Al Furqan(25) : 68). (Muslim 1/63-64)

Dari Abdullah bin Mas'ud, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam, beliau bersabda, "Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat takabur walaupun seberat dzarrah. "Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu 'alahi wasallam, "Bagaimana dengan seseorang yang senang berpakaian bagus dan sandal yang bagus?" beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan, takabbur adalah menentang kebenaran dan meremehkan orang lain." (Muslim 1/65)

Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alahi wasalam, "Ajaran islam yang bagaimana yang paling baik?" Beliau menjawab, "Kamu memberikan makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal." (Muslim 1/47)

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah 'alahi wasallam bersabda, 'Mencaci maki orang islam adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran." (Muslim 1/58)

Dari Abdullah bin Amru Ash radhiyallahu 'anhu, bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alahi wasalam, "Bagaimana ciri seorang muslim yang baik?" beliau menjawab, "(Yaitu) orang muslim yang lisan dan tangannya tidak menyakiti muslim lainnya." (Muslim 1/48)

Dari Ibnu Umar RA, dari Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam beliau bersabda, "Sesungguhnya Islam datang pertama kali terasa asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana pertama kali muncul, dan Islam akan kembali berlindung di antara dua masjid sebagaimana ular kembali berlindung ke dalam liangnya." (Muslim 1/90)

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, 'Setiap nabi memiliki do'a mustajab, setiap nabi telah menggunakan do'a tersebut namun aku menyimpan do'a itu untuk memberika syafa'at bagi umatku pada hari kiamat. Syafa'at tersebut insya Allah akan sampai kepada umatku yang mati tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.'" (Muslim 1/131)

Dari Humran, bahwasanya Utsman RA berkata, "Rasulullah SAW telah bersabda, "Barang siapa menyempurnakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT, maka shalat-shalat wajib tersebut menjadi pelebur dosa antara shalat yang satu dengan yang lainnya." (Muslim 1/143)

Dari Jabir RA, ia berkata , "Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Antara seorang (muslim) dengan syirik dan kafir adalah meninggalkan shalat.' (Muslim 1/62)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW  pernah mengajarkan kepada kami, beliau bersabda, 'Janganlah kamu mendahului imam. Jika imam sudah bertakbir maka bertakbirlah, apabila imam telah mengucapkan, wa ladhdhaalliin maka ucapkanlah aamin. Kalau imam telah ruku' maka ruku'lah, dan apabila imam telah mengucapkan, sami'allahu liman hamidah maka ucapkanlah, rabbanaa lakal hamdu." (Muslim 2/20)

Dari 'Ulai bin Rabah, dia berkata, "Saya pernah mendengar Uqbah bin Amir Al Juhani radiyallahu 'anhu mengatakan, "Ada tiga waktu dimana Rasulullah SAW melarang kita melakukan shalat dan mengubur jenazah, yaitu; ketika matahari terbit hingga agak meninggi, kemudian ketika seorang berdiri tanpa ada bayangannya sampai matahari condong ke Barat, dan ketika matahari hampir terbenam hingga terbenam." (Muslim 2/208)

Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Saya bertanya, 'Ya Rasulullah! Apakah masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi?" Beliau menjawab, 'Masjidil Haram.' Saya bertanya lagi, 'Lalu masjid apa?' Beliau menjawab, 'Masjidil-Aqsha.' Saya bertanya lagi, "Berapa lama jarak antara keduanya?' Beliau menjawab, '40 tahun, dan dimanapun kamu mendapati waktu shalat, shalatlah, maka disitulah masjid (tempat shalat)'." (Muslim 2/63)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, 'Barang siapa bersuci di rumanhya, lalu berjalan menuju salah satu masjid untuk menunaikan shalat fardhu, maka langkah-langkahnya yang satu menghapus dosa dan yang lainnya mengangkat derajat." (Muslim 2/131)

Dari Abu Humaid (atau Abu Usaid) RA, Rasulullah SAW telah bersabda, "Apabila salah seorang dari kamu memasuki masjid maka ucapkanlah, "Allahumma iftah lii abwaaba rahmatika (Ya Allah! Bukalah untukku pintu-pintu rahmtmu!) dan apabila keluar dari masjid maka ucapkanlah, "Allahumma inni as'aluka min fadhlik (Ya Allah! Sungguh aku memohon kepada-Mu sebagian dari kemurahan-Mu)" (Muslim 2/155)

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, "Seandainya manusia mengetahui (besarnya) pahala adzan dan sholat (jamaah) di shaf terdepan, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, pasti mereka akan mengundi. Jikalau mereka mengetahui (besarnya) pahala takbir imam yang pertama pasti mereka akan berlomba, dan jikalau mereka mengetahui betapa besarnya pahala shalat jamaah Isya dan Subuh, pasti mereka akan berusaha melaksanakannya meskipun dengan merangkak." (Muslim/31)

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia bersujud, maka perbanyaklah doa (ketika sujud)". (Muslim 2/49-50)

Dari Abdurrahman bin Abu Amrah, dia berkata, "Utsman bin Affan masuk masjid setelah shalat Maghrib, lalu ia duduk sendirian, maka saya duduk didekatnya. Lalu ia berkata, 'Hai anak saudaraku! Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa mengerjakan shalat Isya berjamaah, dia seakan-akan mendirikan shalat separuh malam, dan barang siapa melakukan shalat subuh dengan berjamaah, maka dia seakan-akan mengerjakan shalat sepanjang malam."' (Muslim 2/125)

Dari Aisyah RA, bahwa Nabi SAW bersabda, "Shalat sunnah fajar dua rakaat (sebelum shalat subuh) lebih baik dari pada dunia dan seisinya." (Muslim 2/160)

Dari Abu Dzarr RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Di setiap ruas-ruas persendian seseorang ada kapasitas untuk bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah namun dua rakaat shalat Dhuha yang dilakukan seseorang menyamai semua itu." (Muslim 2/158)

Dari Ali bin Abu Thalib RA, dari Rasulullah SAW bahwasannya ketika beliau telah memulai shalat beliau mengucapkan, "Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal 'ardha haniifaw wamma anna minal musyrikin, inna shalaati wa nusuki  wa mahyaaya wa mamaati i lillahi rabbil 'aalamin, laa syariikalahuu wa bidzaalika umirtu wa ana awwalul muslimin. Allahumma antal maliku laa ilaaha illa anta, anta rabii wa ana 'abduka, zhalamtu nafsii, wa 'taraftu bi dzanbi, fagfirlii dzunuubi jamii'an. innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta, wahdinii li ahsanil-akhlaaq, laa yahdii li ahsanihaa illa anta, washrif 'anni sayyi'ahaa, laa yashrifu 'anni sayyi'ahaa illa anta, labbaika wa sa'daik wal-khairukulluhu fi yadaika, wasy-syarru laisa ilaika, ana bika wa ilaika, tabarakta wa ta'alaita, astaghfiruka wa atuubu ilaika."
Apabila Rasulullulah SAW ruku' beliau mengucapkan, "Allahumma raka'tu wa bika aamantu wa laka aslamtu, khasya'a laka sam'i wa bashari wa mukhkhi wa 'azhami wa 'ashabi."
Ketika bangun dari ruku' Rasululullah mengucapkan, "Allahumma rabbana lakal-hamdu, mil'us-samaawati wa mil'ul-ardhi wa mil'u maa bainahumaa wa mil'u maa syi'ta min sayy'in ba'du."
Ketika bersujud, Rasulullah SAW mengucapkan, "Allahuma laka sajadtu, wabika aamantu, wa laka aslamtu, sajadtu wajhiya lil ladzzi khalaqahu wa shawwarahuu wa syaqqa sam'ahuu wa basharahuu, tabaarakallahu ahsanul-khaliqiin."
Kemudian diantara akhir bacaan Rasulullah SAW antara tahiyat dan salam adalah, "Allahummaghfirlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu, wa maa asrartu, wa maa a'lantu, wamaa asraftu, wamaa anta a'lamu minnii, antal-muqaddimu wa antal-muakhkhiru, laa ilaaha illa anta." (Muslim 2/185-186)

Dari Jabir bin Abdullah RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila salah seorang dari kamu selesai shalat (Fardhu di masjid), hendaklah dia memberikan bagian shalat (sunah) di rumahnya, karena Allah selalu menjadikan kebaikan di rumah orang tersebut karena shalatnya." (Muslim 2/187)

Dari Jabir RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendaknya melakukan shalat witir diawal malam (sesudah shalat Isya'), dan barang siapa yakin akan bangun diakhir malam, maka hendaknya melakukan shalat witir diakhir malam, karena shalat witir di akhir malam itu mendapat penyaksian dan lebih utama"' (Muslim 2/174)

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam yang pertama, lalu Allah berfirman, 'Aku Maha Raja. Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barang siapa memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi. Barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.' Demikian itu hingga terbit fajar." (Muslim 2/175)

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW pernah menganjurkan shalat sunah di malam Ramadhan tanpa memerintahkannya secara tegas. Beliau bersabda, "Barang siapa menghidupkan malam Ramadhan karena iman dan hanya untuk mencari ridha Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu."  Sampai Rasulullah SAW wafat, sedangkan perintah tetap seperti itu. Pada masa Abu Bakar juga tetap seperti itu, demikian pula pada masa permulaan khilafah Umar RA. (Muslim 2/77)

Dari Abu Sa'id Al Khudri, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Tuntunlah orang yang akan meninggal diantara kamu dengan mengucapkan laa Illaaha Illallah.'  " (Muslim 3/37)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Bersegeralah mengubur jenazah, karena jika ia orang yang shalih (mungkin ia berkata) segeralah mengantarkannya pada kebaikan. Tetapi jika tidak termasuk orang yang shalih, maka berarti kalian mempercepat meletakan keburukan dari pundak-pundak kalian.'" (Muslim 3/30)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa menghadiri jenazah lalu turut menshalatinya, maka baginya satu qirath, dan barang siapa yang menghadirinya hingga dikuburkan, maka baginya dua qirath. Kemudian Rasulullah SAW ditanya, 'Apakah yang dimaksud dengan dua qirath wahai Rasulullah?. Beliau menjawab, 'Seperti dua bukit yang besar.'" (Muslim 3/51)

Dari Haritsah bin Wahab RA, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Bayarlah zakat sebelum seseorang membawa zakatnya, lalu orang yang akan diberinya mengatakan, "Seandainya kamu membawa zakat itu kemarin maka aku menerimanya, sedangkan sekarang aku sudah tidak membutuhkan zakat." Lalu ia tidak mendapati orang yang mau menerima zakat.'" (Muslim 3/84)

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Tujuh golongan yang dinaungi Allah pada pada hari yang tidak ada naungan lagi selain naungan-Nya; imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang selalu beribadah pada Allah, orang yang hatinya selalu dekat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah berjumpa dan berpisah karena-Nya, dan orang yang digoda oleh wanita yang memiliki pangkat dan kecantikan lalu ia berkata, "Aku takut kepada Allah," orang yang bersedekah lalu menutupinya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya, dan orang yang selalu berdzikir pada Allah sampai bercucuran air mata.'" (Muslim 3/93)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak ada hari pada setiap bangunnya hamba dipagi hari, kecuali dua malaikat turun, dan salah satu dari mereka berkata, "Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang telah menginfakan hartanya," dan yang satunya berkata, "Ya Allah berikanlah kemusnahan kepada orang yang kikir.'" (Muslim 3/83-84)

Dari Abdullah bin Umar RA, dia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Tidaklah seseorang yang selalu meminta-minta kecuali ia akan bertemu dengan Allah dengan muka yang tak berdaging.'" (Muslim 3/96)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Allah berfirman, "Semua amalan anak Adam (manusia) adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah bagi-Ku, dan Akulah yang akan memberi pahala. Puasa itu adalah perisai.* Apabila seseorang berpuasa, maka janganlah ia berkata keji dan kasar. Jika ada orang yang mencaci atau memusuhinya, hendaklah ia berkata, Aku sedang berpuasa.' Demi jiwa Muhammad yang ada ditangan-Nya! Sungguh mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari pada wanginya minyak misik. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan yaitu; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa Tuhannya, dimana ia bahagia dengan (pahala) puasanya".'" (Muslim 3/158)
* perisai disini berarti penangkal segala keburukan dan dosa, juga dari api neraka.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika bulan Ramadhan datang, maka seluruh pintu surga dibuka dan seluruh pintu neraka ditutup, serta syetan-syetan dibelenggu." (Muslim 3/122)

Dari Anas RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Sahurlah kalian! Sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.'" (Muslim 3/130)

Dari Sahal bin Sa'ad RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa." (Muslim 3/131)

Dari Abu Sa'id Al Khudri RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Tidaklah seorang berpuasa selama sehari karena Allah, melainkan dengan puasanya satu hari itu, Allah menjauhkannya dari neraka sejauh 70 musim gugur.'" (Muslim 3/159)

Dari abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Puasa yang paling mulia setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (Muslim 3/169)

Dari abu Ayyub Al Anshari RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengerjakan puasa Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka bagaikan berpuasa setahun penuh." (Muslim 3/169)

Dari Abdullah bin Amr RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya puasa (sunah) yang paling disenangi Allah ialah puasa Nabi Daud, dan shalat (sunah) yang paling disenangi Allah adalah shalat Nabi Daud AS. Nabi Daud tidur separuh malam, lalu shalat sepertiga malam, kemudian tidur lagi seperenam malam. Beliau berpuasa sehari lalu berbuka sehari.'" (Muslim 3/165)

Dari Aisyah RA, dia berkata, "Jika tiba sepuluh hari yang terakhir (di bulan Ramadhan), beliau menghidupkan malam hari (untuk beribadah), beliau membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh (beribadah) serta mengencangkan kainnya*." (Muslim 3/176)
* maksudnya menjauhi istrinya, untuk kosentrasi dalam beribadah
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah pernah berkhutbah di hadapan kami. Beliau mengatakan, 'Saudara-saudara! Sungguh Allah telah mewajibkan haji kepada kalian. Karena itu, berhajilah!' Ada orang yang bertanya, 'Apakah tiap tahun wahai Rasulullah!' Rasulullah diam, sehingga orang tersebut bertanya sampai tiga kali. Setelah itu Rasulullah bersabda, 'Seandainya aku jawab ya, maka haji itu tentu wajib setiap tahun, lalu akhirnya kalian tidak mampu melaksanakannya.' Beliau berkata lagi, 'Jangan kamu tanyakan apa yang tidak aku sebutkan, karena celakanya orang-orang sebelum kamu dulu karena banyak bertanya dan mereka tidak mematuhi para Nabi Mereka. Apabila aku perintahkan sesuatu kepada kalian, maka laksanakanlah menurut kemampuanmu, dan apabila aku melarang sesuatu terhadap kalian, maka tinggalkanlah!'" (Muslim 4/107)

Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tidak dipersiapkan berpergian kecuali ke tiga masjid; masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha." (Muslim 4/126)

Dari Anas RA, bahwa sekelompok orang dari sahabat Nabi SAW bertanya kepada istri-istri Nabi tentang amalan beliau yang tersembunyi. Lalu sebagian sahabat berkata, "Aku tidak akan menikahi perempuan," Sebagian yang lain mengatakan, "Aku tidak akan makan daging". Sebagian yang lain mengatakan, "Aku tidak akan tidur di atas kasur," Mendengar semua itu, Rasulullah SAW mengucapkan pujian kepada Allah, lalu bersabda, "Mengapa orang-orang mengatakan begini dan begitu, padahal aku shalat dan juga tidur, berpuasa dan berbuka, dan aku juga menikahi perempuan. Jadi barang siapa membenci ajaranku, dia bukan termasuk golonganku. (Muslim 4/129)

Dari Abdullah bin Amru RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dunia adalah tempat kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah istri yang shalihah." (Muslim 4/178)

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Perempuan itu dinikahi atas empat perkara; karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Jadi utamakanlah menikahi perempuan yang mempunyai dasar agama, maka kamu akan mendapatkan keuntungan." (Muslim 4/175)

Dari Abdurrahman bin Syumasah, bahwa dia telah mendengar Uqbah bin Amir RA berkata diatas mimbar, "Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, 'Seorang mukmin itu saudara mukmin yang lain. Oleh karena itu seorang mukmin tidak boleh membeli sesuatu yang masih dalam penawaran saudaranya, juga tidak boleh melamar perempuan yang telah dipinang oleh saudaranya kecuali jika ia telah meninggalkannya.'" (Muslim 4/139)

Dari Sabrah Al Juhani RA, bahwa dia pernah bersama Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, 'Saudara-saudara! Sesungguhnya aku dulu pernah membolehkan kalian untuk menikahi perempuan secara mut'ah, tapi sekarang Allah SWT telah mengharamkannya sampai hari kiamat. Barang siapa masih mempunyai istri mut'ah maka ceraikanlah, dan janganlah kamu mengambil kembali mas kawin yang telah kamu berikan kepada istri mut'ah itu.*"  (Muslim 4/132)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda, "Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah, karena orang-orang yang layak untuk diundang tidak diundang (seperti orang miskin -penerj), dan orang-orang yang seharusnya tidak diundang malah diundang (seperti orang kaya, -penerj). Barang siapa yang tidak memenuhi undangan (tanpa udzur), maka ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya." (Muslim 4/154)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Janganlah suami yang beriman membenci istri yang beriman, karena apabila suami tidak menyukai sesuatu peragainya tentu ada peragai lain yang menyenangkannya.'" (Muslim 4/178)

Dari Jabir RA, dia berkata, "Rasulullah SAW melarang kami memperjualbelikan buah-buahan hingga pantas untuk dipetik." (Muslim 5/12)

Dari Jabir RA, dia berkata, "Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan hasil riba, orang yang mewakilkannya, penulisnya, dan kedua orang saksinya. Setelah itu Rasulullah juga bersabda, 'Mereka semua sama'" (Muslim 5/50)

Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Pada suatu ketika Rasulullah SAW pernah mempunyai utang kepada seorang lelaki. Kemudia lelaki itu datang kepada beliau (untuk menagihnya) sambil mengucapkan kata-kata yang kasar, sehingga para sahabat merasa tidak senang. Lalu Rasulullah bersabda kepada mereka, 'Sesungguhnya pemilik utang boleh berbuat apa saja. Oleh karena itu, belikan unta dan berikanlah kepadanya.'
Para sahabat berkata, 'Kami tidak mendapatkan seekor unta melainkan unta yang lebih baik daripada untanya.'
Mendengar pernyataan para sahabat tersebut, Rasulullah langsung bersabda, 'Belilah dan berikanlah kepadanya! karena sesungguhnya orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam membayar utangnya." (Muslim 5/54)

Dari Abu Qatadah Al Anshari RA, dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah dirimu dari banyak bersumpah dalam jual beli! karena sesungguhnya sumpah dapat menghabiskan (dagangan) dan menghapus (keberkahan laba)." (Muslim 5/57)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Ada tiga kelompok orang yang tidak akan diajak bicara, tidak akan dilihat, dan tidak akan disucikan Allah, sedangkan mereka juga akan mendapat siksa yang amat pedih. Mereka itu adalah; pertama, orang yang mempunyai air yang lebih dikebunnya, tetapi tidak mau memberikannya kepada orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil). Kedua, seseorang yang mengadakan transaksi jual beli barang dengan orang lain. Setelah itu ia berjanji akan membayar sekian-sekian, tetapi ternyata ia tidak jadi membelinya. Ketiga, seseorang yang berbai'at kepada seorang pemimpin karena mengharapkan kemegahan dunia. Apabila dia diberi bagian dari kemegahan dunia tersebut maka dia akan tetap setia kepadanya. Tetapi, apabila dia tidak diberi maka dia akan membelot darinya.'" (Muslim 1/72)

Dari Hakim bin Hizam, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Penjual dan pembeli mempunyai hak untuk memilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Apabila mereka, penjual dan pembeli tersebut berlaku jujur dan mau menerangkan (barang yang diperjualbelikan), niscaya mereka akan memdapat berkah dalam jual belinya. Sebaliknya, apabila mereka berbohong dan menutup-nutupi (apa-apa yang seharusnya diterangkan mengenai barang yang diperjual belika), niscaya berkah dalam jual beli itu akan dihapus (hilang)." (Muslim 5/10)

Dari Abu Mas'ud Al Anshari RA, bahwa Rasulullah SAW melarang (untuk mengambil dan memanfaatkan) hasil penjualan anjing, hasil pelacuran, dan upah perdukunan. (Muslim 5/35)

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Penundaan pembayaran utang oleh orang kaya merupakan perbuatan zhalim (terhadap yang berpiutang), dan apabila salah seorang darimu diikutkan (dipindahkan utangnya) kepada orang kaya, maka hendaklah ia menerimanya." (Muslim 5/34)

Dari Abdullah bin Abu Qatadah, bahwa Abu Qatadah pernah mencari seseorang yang berutang kepadanya dan ternyata orang yang berutang kepadanya itu berusaha bersembunyi dan menghindar darinya. Kemudian ketika ditemukan orang tersebut berkata, "Sungguh saya tidak punya uang wahai Abu Qatadah."
Abu Qatadah bertanya, "Demi Allah kamu tidak punya uang?" Lelaki itu menjawab, "Demi Allah!" Jawab lelaki itu. Kemudian Abu Qatadah pun berkata, "Baiklah  kalau begitu. Sungguh saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Barang siapa ingin diselamatkan Allah dari kesusahan hari kiamat, maka hendaklah ia memberi tangguhan kepada orang yang kesulitan, atau membebaskan hutangnya.'" (Muslim 5/33)

Dari Ibnu Abbas RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Orang yang menarik kembali pemberiannya sama seperti anjing yang muntah, kemudian anjing tersebut menelan lagi muntahnya." (Muslim 5/64-65)

Dari Nu'man bin Basyir, dia berkata, "Pada suatu hari ayah membawa saya untuk menghadap Rasulullah SAW. Sesampainya di sana ayah berkata, "Ya Rasulullah, saksikanlah bahwa saya telah memberikan Nu'man sekian dan sekian dari harta saya.'
Rasulullah bertanya, 'Apakah semua anakmu telah kamu berikan sama seperti yang kamu berikan kepada Nu'man?"
Ayah menjawab, 'Tidak ya Rasulullah.'
Lalu Rasulullah bersabda, 'Carilah saksi selain aku!' Kemudian beliau bertanya kepada ayah saya, 'Hai Abu Nu'man, apakah kamu senang jika semua anakmu berbakti kepadamu dengan kadar yang sama?'
Ayah menjawab, 'Tentu ya Rasulullah.' Kemudian beliau bersabda, 'Kalau begitu jangan berbuat yang demikian.'" (Muslim 5/66-67) 

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW pernah dihadapkan dengan jenazah seorang lelaki yang mempunyai utang. Lalu beliau bertanya, "Apakah ia meninggalkan sesuatu untuk membayar utangnya?"  Kalau beliau diberi kabar bahwa orang yang wafat itu meninggalkan sesuatu untuk membayar utangnya, maka beliau mau menshalatkannya. Akan tetapi jika mayat tersebut tidak meninggalkan sesuatu untuk membayar hutangnya, maka beliau akan berkata, 'Shalatkanlah mayat temanmu itu!'
Ketika Allah memberikan berbagai kemenangan kepada kaum muslimin dalam menaklukan banyak negeri, beliau bersabda, 'Aku lebih berhak terhadap orang-orang yang beriman daripada diri mereka sendiri. Oleh karena itu, barang siapa di antara kamu yang meninggal dunia sedangkan ia mempunyai utang maka akulah yang akan membayarnya, dan barang siapa meninggalkan harta maka hartanya itu untuk ahli warisnya'." (Muslim 5/62)

Dari abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang telah meninggal dunia maka terputuslah semua amal perbuatannya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, anak shalih yang selalu mendo'akannya." (Muslim 5/73)

Dari Ibnu Umar RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya nadzar itu tidak mendahulukan dan mengakhirkan sesuatu. Akan tetapi dengan nadzar itu, maka sesuatu dapat dikeluarkan dari orang yang bakhil." (Muslim 5/77)

Dari Abu Umamah RA, yaitu Al Haritsi, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah akan memasukannya ke dalam neraka dan mengharamkannya masuk ke dalam surga." Kemudian seseorang bertanya kepada beliau, "Meskipun sumpahnya itu tentang sesuatu yang sederhana ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Meskipun sumpahnya itu hanya berupa dahan dari kayu siwak." (Muslim 1/85)

Dari Abdullah bin Mas'ud RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Yang pertama kali akan diputuskan di antara manusia kelak adalah persoalan yang menyangkut tentang darah.'" (Muslim 5/107)

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa membunuh dirinya dengan besi tajam, maka ia akan menghujami perutnya dengan besi tajam tersebut di neraka jahanam kelak, dan ia akan kekal selama-lamanya di dalam neraka tersebut. Barang siapa membunuh dirinya dengan cara meminum racun, maka ia akan terus meminumnya di neraka jahanam kelak untuk selama-lamanya. Barang siapa membunuh dirinya dengan cara menjatuhkan diri dari puncak bukit, maka di neraka jahanam kelak ia akan terus menjatuhkan dirinya (dari puncak bukit) untuk selama-lamanya.'" (Muslim 1/72)

Dari Abu Said Al Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda, "Hai Abu Said, sesungguhnya barang siapa yang rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Nabi Muhammad SAW sebagai nabinya, maka ia pasti akan masuk surga."
Abu Said merasa takjub mendengar sabdanya itu seraya berkata, "Ulangi lagi ya Rasulullah!" Rasulullah pun memenuhi permintaannya itu. Setelah itu beliau bersabda, "Ada amal perbuatan lain yang akan mengangkat seorang hamba seratus derajat si surga kelak. Sedangkan jarak antara dua derajat (tingkat) tersebut (Adalah sejauh jarak) antara langit dan bumi.'
Lalu Abu Said bertanya, 'Apa itu ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab, 'Jihad di jalan Allah, jihad di jalan Allah.'" (Muslim 6/37)

Dari Abu Qatadah RA, dari Rasulullah SAW, beliau berada diantara para sahabat seraya berkata, "Sesungguhnya berjuang atau berjihad di jalan Allah dan beriman kepada-Nya adalah sebaik-baik perbuatan."
Tiba-tiba seorang lelaki berdiri dan bertanya kepada beliau, "Ya Rasulullah, bagaimana menurut pendapat engkau jika saya terbunuh di jalan Allah, apakah semua dosa saya akan diampuni?"
Rasulullah menjawab, "Benar, Apabila kamu terbunuh di jalan Allah dalam kondisi yang sabar dan ikhlas kerena-Nya, maka semua dosamu akan diampuni." Lalu Rasulullah SAW bertanya, "Apa pertanyaanmu tadi?" Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya, "Ya Rasulullah, bagaimana menurut pendapat engkau jika saya terbunuh di jalan Allah, apakah semua dosa saya akan diampuni?"
Rasulullah menjawab, "Benar. Itupun kalau kamu dalam kondisi yang sabar dan ikhlas karena Allah, maka semua dosamu akan diampuni, kecuali utang. Itulah yang disampaikan Jibril kepadaku." (Muslim 6/37)

Dari Ibnu Umar RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau telah bersabda, "Setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang di pimpinnya.
Seorang Raja adalah pemimpin bagi rakyatnya dan ia akan diminta pertanggungan jawab atas apa yang dipimpinnya.
Seorang suami adalah pemimpin bagi anggota keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dipimpinnya.
Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dipimpinnya. 
Seorang hamba sahaya adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dipimpinnya.
Ketahuilah bahwa setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dipimpinnya." (Muslim 6/8)

Dari Abdurrahman bin Samurah, dia berkata, "Rasulullah SAW telah bersabda, 'Hai Abdurrahman, janganlah kamu meminta pangkat kedudukan! Apabila kamu diberi karena kamu memintanya, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagimu. Lain halnya apabila kamu diberi tanpa adanya permintaan darimu, maka kamu akan ditolong,"' (Muslim 6/6)