METODE MENGHASILKAN SHALAT KHUSYUK

            Shalat adalah hubungan makhluk dengan khaliqnya, shalat adalah penenang jiwa dan pembersih hati, shlat merupakan bentuk hubungan yang sebenarnya antara yang lemah dengan yang maha kuat. Untuk itu, kita perlu memahami bagaimana cara untuk berhubungan dengan Allah S.W.T dengan Keridhaannya. Dalam Al-Qur’an Allah S.W.T berfirman:
 
Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, (Q.S Al-Mu’minun 23:1-2)

            Disini kita dapat memahami, bahwa orang-orang yang beruntung didalam shalatnya ialah yang memahami akan maksud pelaksanaan shalat tersebut yakninya Khusyu’, untuk itu kita perlu mengetahui metodenya.

1. Cara mendapatkan khusyu’ dalam shalat.

Hendaklah kita merasa diri sedang berdiri di hadapan yang maha berkuasa, yang mengetahui segala rahasia. Dengan (Allahu Akbar yang maha besar) kekuasaan-Nya orang yang shalat bermunajat.

2. Hendaklah kita memahamkan makna apa yang di baca. Sebagaimana yang diperinthakan Allah S.W.T dalam Al-Quar’an dengan firmannya:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Afala Yatadabbaruunal Qur’ana Am’ala Quluubin Aqfaluha.
Artinya: Maka apakah mereka tidak memahamkan Al-Qur’an? Ataukah hati-hati mereka terkunci? (Q.S 47:Muhammad Ayat 24)

3. Hendaklah kita memahamkan zikir-zikir yang dibaca, yakni memperhatikan maknanya dan tujuan maksudnya. Kata Imam Al-Ghazaly dalam Al-Arba’ien:

Hendaklah kamu membaca “Allahu Akbar” dengan mengingat bahwasanya tak ada yang besar dari pada Allah S.W.T dalam segala hal. Untuk itulah kita tundukkan hawa nafsu kita sesuai dengan kehendak Allah S.W.T.

 “Hendaklah kamu membaca “Wajahtu Wajhiya” dengan perasaan, bahwa kamu benar-benar menghadapkan jiwamu kepada Allah S.W.T dan berpaling dari selain-Nya” (dengan segala yang kita punyai kita hadapkan kepada-Nya).

Baik jabatan, kekayaan, ketampanan, aktifitas apapun yang kita lakukan, kita persembahkan hanya kepada Rabbul Alamin.

Hendaklah kamu membaca “Alhamdulillah” dengan penuh  rasa syukur kepada Allah S.W.T terhadap segala nikmat-Nya. Kesehatan, kesempatan, ilmu pengetahuan kesemuanya tidak dapat dihitung satu persatu.

Hendaklah kamu membaca “Iyyaka na’budu wa iyya ka nasta’in” dengan perasaan bahwa kamu sangat lemah dan bahwa segala urusan itu hanya dalam Qudrat-Nya.
                       
Dan hendaklah ditiap-tiap membaca zikir, kamu memahami maknanya, dan segala yang membimbangkan kamu dari memahami maknanya Qira’at (apa yang kamu baca) dipandang waswas.



4. Hendaklah kita memanjangkan rukuk dan sujud.
Muhammad Al-Bakry berkata: Bahwasanya di antara pekerjaan yang menghasilkan khusu’ ialah memanjangkan rukuk dan sujud.

5. Janganlah mempermai-mainkan anggota badan dengan gerakan tangan sebentar-sebentar menggaruk kepala dan sebentar-sebentar menggaruk yang lain dan janganlah berpaling-paling.

6. Hendaklah tetap memandang ketempat sujud, walaupun bermata buta, atau bershalat disisi Ka’bah sekalipun.


Kata Al-Ustadz Al-Imam Muhammad Abduh:

a. Hendaklah ketika mereka menyebut sesuatu lafadh, mengingat maknanya. Umpamanya, dikala membaca “Alhamdulillah” hendaklah mereka menghadirkan makna puji dan sebab-sebab segala rupa puji itu, kepunyaan Allah S.W.T. ;dikala membaca “Malikiyaumiddin” hendaklah mereka kenangkan hari pembalasan.

b. Hendaklah mereka berlaku sedemikian terus-menerus sehingga selesai shalat. Apabila seorang tetap memahami makna dari lafadh yang di ucapkan, barulah berarti ia mendirikan shalat.

Berfirman Allah S.W.T:
ﻴﺄﻴﻬﺎﺍﻟﺫ ﻳﻥﺀﺍﻤﻧﻮﺍﻻ ﭠﻘﺭﺒﻮﺍﺁﻠﺼﻠﻮﺓ ﻮﺃﻧﭠﻢ ﺴﮏﺭﺤﭠﻲﭡﻐﻠﻤﻮﺍﻤﺍﭠﻘﻮﻠﻮﻥ

Yaa Ayyuhalladzina a manu lataqrabush shalata wa antum sukaraa hatta ta’lamu mataquluun
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (Q.S 4:An-Nisaa Ayat 43)

                  Perkataan sehingga kamu mengetahui apa yang kamu ucapkan, Memfaedahkan, bahwa mengetahui (memahami) apa yang di baca seseorang dalam sholatnya baik shalawat, maupun zikir adalah wajib atau syarat sah shalat.

Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Anas R.A. bahwasanya Nabi S.A.W bersabda:
Idza Na'isa Ahadukum Wahua Yushalli Fal Yan Sharif Falyanam Hatta Ya'lama Mayaqul

Artinya: “Apabila sesorang kamu mengantuk padahal ia sedang bershalat, maka hendaklah ia berpaling dari shalatnya dan hendaklah ia tidur, sehingga ia mengetahui apa yang akan ia ucapkan”. (H.R Abu Daud, Al-Tarmidzi dari Aisyah dalam Tafsir Al-Manaar, Jilid I Hal. 115)
Arti mengetahui “memahamkan”

                  Ayat di atas, demikian juga hadits ini, menunjukan kepada wajib, mengetahui bahasa arab atas tiap-tiap muslim, untuk memahamkan apa yang dibaca dalam shalatnya, sekurang-kurangnya menghafal makna atau ucapan-ucapan dan zikir-zikir dalam shalat.

                  Adapun waswas yang hadir di kala kita bershalat penangkalnya ialah bersungguh-sungguh tidak mengikuti goresan hati tersebut, janganlah kita biasakan ia masuk kelubuk hati kita dan membawa kita melayang-layang dan terapung-apung di udara waswas. Dan ingatlah, kita sedang bermunajat dengan Allah S.W.T yang dapat melihat gerak-gerik kita, gerak-gerik anggota kita dan mendengar segala rupa gerak jiwa.

                  Perasaan waswas akan selalu merasuk kedalam hati orang-orang yang bershalat, karena gangguan dan bisikan-bisikan syetan, untuk itu kita mohon perlindungan kepada Allah S.W.T. sebelum kita bertakbiratul ikhram, kita disunnahkan membaca do’a yaitu, Rasullullah S.A.W bersabda:

Rabbi A’udzubika Min Hamazatisy Syayathin Wa A’udzubika Rabbi Min An-Yahdhurun

Artinya: Tuhanku, aku berlindung diri denganMu wahai Tuhanku, dari godaan-godaan syetan dan aku berlindung diri denganMu, Tuhanku dari kehadiran syetan-syetan itu

ADAB DI KALA BERTA’MIEN (MEMBACA AAMIIN)

Apabila telah selesai dari Al-Fatihah, maka hendaklah kita berdiam kadar senafas. Sesudah itu berta’mien-lah, yakni bacalah “Aamiin”
“Perkenankanlah Wahai Allah akan Permohonanku itu”.

Dengan merendahkan suara dan memanjangkannya, Jika bershalat sendiri, Walaupun Al-Fatihah di jaharkan. Dan dengan mengeraskan suara dan memanjangkannya jika shalat jama’ah, Jika Al-Fatihah di Jaharkan.
Dalam kitab shahih Bukhari Ke 50 di katakan dalam Hadits No. 780, Dari Abu Hurairah R.A, bahwa Nabi SAW bersabda:

“Jika imam membaca Aamiin, (perkenankanlah Ya Allah), maka jawablah, dan jika bersamaan bacaan Aamiin tersebut yang di baca malaikat maka ia akan di ampuni (oleh Allah) dosanya yang lalu, Berkata Ibn Syihab: Dan Rasulullah SAW membaca Aamiin (yang di baca sesudah Al-Fatihah)”

Keliru dalam mengucapkan Lafazh “Aamiin”

Syeikh Sa’ad Yusuf Abu Aziz dalam bukunya sunnah dan bid’ah menguraikan: Kebanyakan orang-orang yang shalat, memanjangkan Mad Badal dalam lafazh Aamiin menjadi Enam Hrakat (Aaaaaamiin), Padahal seperti yang sudah di ketahui, Mad Badal tidak boleh lebih dari Dua Harakat.


Sebagian penganut Mahzab tertentu, meninggalkan Bacaan Aamiin “Aamiin” di belakang Imam. Hal ini bertentangan dengan sunnah dan orang yang meninggalkan bacaan Aamiin tidak mendapatkan pahala yang besar dari bacaan itu.

Dalilnya dari hadits Abu Hurairah R.A, yang tertera di atas Hadits ini Adalah Hadits shahih, Hadits Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim.

Adapun Mahzab Imamiyah aliran Syi’ah, mengharamkan mengucapkan “Aamiin”, karena hal itu termasuk pembicaraan manusia.

di Sunnahkan bagi Imam, Makmum, dan yang shalat sendiri untuk membaca “Aamiin” dengan jahar keras dengan shalat yang di jaharkan dan membacanya dengan pelan, (siir), dalam shalat yang bacaannya (di Siirkan). Nabi SAW biasa mengucapkan kata “Aamiin”. Beliau memotivasi kita, supaya mengamalkan hal itu dengan sabdanya:

MA HASADAT KUMUL YAHUDU ‘ALA SYAI’IN MA HASADAT KUM ‘ALAS SALAMI WATTA’MIINI KHALFAL IMAMI
Artinya: “Tidak ada sesuatu yang membuat kedengkian orang-orang yahudi lebih dahsyat terhadap kalian daripada ucapan salam dan Aamiin di belakang Imam” (H.R Ibnu Majjah 756)

Beliau SAW Juga bersabda:

MAN WAFAQATA’MIYNUHU TA’MINAL MALA IKATI, GHUFIRA LAHU MA TAQADDAMA MIN DZANBIHI
Artinya: “Barang siapa mengucapkan Aamiin, bertepatan dengan ucapan Aamiin para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lampau akan di ampuni” (H.R Bukhari 780, Muslim 410 dan yang lainnya)

Sedangkan dalam riwayat bukhari, Nabi SAW bersabda:

IDZA QALAL IMAMU: GHAIRIL MAGHDHUBI’ALAIYHIM WALADH DHAALLIIN, FAQULU: AAMIIN
Artinya: “Apabila imam telah membaca Ghairil Maghdhubi’alaiyhim Waladh Dhaalliin, Maka Ucapkanlah Aamiin” (H.R Bukhari 780, Muslim 410 dan yang lainnya)

Jumhur ulama memaknai perintah dalam hadits ini bermakana, (sunnah mu’akad), yaitu sunnah yang di anjurkan sekali kita untuk membacanya.

di Saat kita membaca Aamiin, maka hendaklah kita penuhkan dada kita dengan mengharapkan semoga Allah SWT mengabulkan permohonan kita itu. Aamiin, Perkenankanlah Ya Allah akan permohonan ku itu dengan merendahkan suara dan memanjangkannya.

ADAB DI KALA MEMBACA TA’AWWUDZ

Di Riwayatkan oleh Ibnu Jarir dan ibnu Abi Hatim, Berasal dari ibnu Abbas, Katanya “Bahwa dalam pertemuan antara malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW, Jibril Berkata: QUL ASTA’IZUBILLAHI SAMI’IL ALIMI MINASYSYAITHANIRRAJIM TSUMMA QALA QUL BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. QALA JIBRILU BISMILLAHI YA MUHAMMADU YAQULU RA’BIDZIKRILLAHIRABBIKA WAQUM WAQ’UD BIDZIKRILLAHI TA’ALA
Artinya: “Ya Muhammad, Sebutlah Asta’izubillahi Sami’il Alimi Minasysyaithanirrajim. Kemudian (sesudah Rasulullah Membaca apa yang di ajarkan itu) sebutlah Bismillahirrahmanirrahim, (sesudah apa yang di ajarkan jibril itu disebut Rasulullah SAW), Jibril lalu berkata: Bacalah dengan meng ingat (menyebut) Allah Tuhanmu. Dan berdirilah dan duduklah dengan mengingat (menyebut) Allah yang Maha Tinggi.

Aku memohon perlindungan kepada Allah yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui dari gangguan syetan yang kena rajam”

Pokok masalah yang terpenting untuk memahamkan ayat ini, terletak pada dua kata, yaitu kata-kata berlindung, dan kata-kata syeithan, dengan memahamkan sebaik-baiknya dan sedalam-dalamnya tentang perlindungan Allah dan tentang syetan kita akan memahami dan mengerti sedalam dalamnya akan isi yang terkandung dalam ayat ini.

Kita sudah sama-sama meyakini, bahwa seluruh isi langit dan isi bumi, semuanya tidak mungkin ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya. Atau menyebabkan terciptanya. Yang menciptakan alam ini seluruhnya ialah Tuhan yaitu Allah SWT.

Tuhan bukan hanya menciptakan dan mengatur alam ini. Tetapi tuhan Juga melindungi alam Ini semua. Tanpa perlindungan Allah SWT, takkan mungkin akan ada kehidupan di permukaan bumi ini. Begitu juga kita menjalani aktifitas di muka bumi ini. Untuk itu kita mohon perlindungan kepada Allah, dari tipu daya syeithan yang terkutuk.

Bagaimanapun juga, pintar dan tingginya pengetahuan kita, Bagaimanapun juga, Kuatnya dan besarnya kekuasaan yang kita miliki. Namun kita tidak mungkin akan sanggup dan dapat melindungi diri sendiri bila tidak dengan perlindungan Allah yang sangat amat halus dan amat sangat teliti dalam segala hal.

Ayat Isti’adzah (A’udzubillahiminasysyaithanirrajim) dan lain-lain ayat yang serupa maksudnya, mengajarkan kepada kita, bagaimana caranya kita bermohon dan bermunajat, minta perlindungan itu kepada-Nya. di antara beribu-ribu bahaya yang diahadapi manusia dalam hidupnya. Bahaya yang paling besar ialah, Bahaya tipu daya syeithan atau iblis yang menjerumuskan kita (manusia) kejurang kehancuran. Yang melalaikan kita untuk Dzikrullah. Sehingga kita terlena dengan nikmatnya di dunia. Lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya. Sebagaimana firmannya

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S Adz-Dzariyat 51:56)

Di Jelaskan oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya Alqur’anulkarim, untuk itu kita harus waspada, Waspadalah, karena setiap saat, syeithan selalu mengikuti langkah kita, pemikiran kita dan membonceng dalam hawa nafsu kita. Untuk itu kita di sunnahkan untuk membaca ayat Isti’adzah ini

Firman Allah SWT:

Artinya: “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. (Q.S An-Nahl 16:98)

Ayat Ini menunjukan anjuran untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT, di kala hendak membaca Al-Qur’an, untuk itulah kita di sunnahkan untuk membacanya.

ADAB DI KALA MEMBACA BISMILLAH

Membaca Bismillah adalah buat mengambil berkat dengan Nama Allah SWT dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan, apabila kita membaca Bismillah di permulaan Al-Fatihah. Maka hendaklah kita hadirkan didalam hati, bahwa kita mengambil berkat untuk membaca Al-Fatihah dengan Nama Allah SWT. Yang memerintahkan kita untuk shalat. Yang telah memberikan kita kesanggupan melaksanakan shalat. Yang mempunyai rahmat yang lengkap dan tertentu kepada siapa-siapa yang di kehendakinya, dari hamba-hambanya. Di Tangan Allah SWT sendirinya.

Adapun Kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” terdiri dari 19 huruf, Kata Allah merupakan nama tuhan yang utama, kata Allah mencakup segala sifat-sifat-Nya, diantaranya “Ar-Rahman” yang maha pemurah, “Ar-Rahim” yang maha penyayang. Kita di sunnahkan untuk membaca Bismillah di setiap memulai. Suatu pekerjaan. Siapa yang memulai suatu pekerjaan dengan bismillah, akan membuat pekerjaan itu menjadi Baik. Karena dia berkata:
Dengan Kekuasaan Allah yang bersifat kasih dan sayang, dan pertolonganNya, pekerjaan ini, atau kewajiban ini dalam shalat yang saya lakukan dapat terlaksana dengan baik.

Firman Allah SWT:

Artinya: “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Hasyr 59:22)


Allah:

DIalah Allah tidak ada tuhan selain hanya dia, dengan semua sifat sifatNya yang terkandung di masing masing namanya, tidak ada yang patut di sembah, di puji, di taati selain hanya Dia. Tidak ada yang benar-benar kuasa selain hanya Dia. Tidak ada yang benar-benar mulia, selain hanya dia. Tidak ada yang benar benar pengasih, penyayang, dan pemurah, selain hanya Dia dan dialah yang maha Segala-galanya.

Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah dua nama Allah yang paling banyak tersebut di dalam Al-Qur’an, sesudah Allah. kalau kalimat Allah tersebut dalam Al-Qur’an 2696 Kali, maka Kalimat Ar-Rahman dan Ar-Rahim Kira-kira 800 Kali Keduanya, berasal dari kata Rahima atau Rahmat, keduanya berartipemberi Rahmat atau Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemurah.
           
Ar-Rahman mengandung arti yang Ia memberikan Rahmat kepada seluruh makhluk-Nya dengan tiada pilih kasih, dengan tidak membeda-bedakan antara makhluk berakal atau tidak. Antara Makhluk-Nya manusia yang baik atau yang jahat, yang iman atau yang kafir. Tetapi Rahmat yang dikasihkan itu ialah merupakan Rahmat-Rahmat yang kecil, yakni merupakan hidup, susunan tubuh, makan minum, kesehatan dan kekayaan dan lain-lainnya. Yaitu bermacam-macam Rahmat yang hanya selama hidup di dunia ini saja.
           
Sedang Ar-Rahim berarti yang Ia (Allah) memberikan rahmat-rahmat besar, rahmat yang tak dapat dinilai dengan seluruh harta dan kekayaan, Rahmat yang kekal atau abadi. Rahmat yang bukan merupakan hidup, susunan tubuh, makan minum, kesehatan, kekayaan saja, tetapi rahmat-rahmat yang merupakan jalan yang lurus (Sirathalmustaqim), perasaan bahagia yang sumbernya Iman, perasaan cinta terhadap Allah SWT, Rasul-Rasul-Nya, dan ajaran-ajaran-Nya yang tertara dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.

Akhirnya rahmat besar yang menjadi induk segala rahmat ialah surga Jaunatun Na’iim, dan lain-lain. Rahmat besar yang abadi dalam kehidupan akhirat kelak.

Untuk Itulah kita disunnahkan membaca Bismillah dalam setiap memulai suatu aktifitas, baik makan, minum, tidur, berangkat kerja, apalagi didalam melaksanakan Ibadah Shalat. Membacanya tidak perlu di jaharkan, cukup terdengar oleh diri sendiri. (di siirkan)

ADAB DI KALA MEMBACA AL-FATIHAH


Al-Fatihah itulah kata-kata munajat, dengan dialah kita berbicara dengan Allah SWT.
Apabila kita membaca Al-Fatihah, maka hendaklah hati kita mendahului lidah. Yakni, hendaklah lebih dahulu hati mengingat makna, dan kemudian baharulah lidah mengucapkan bacaan. Jika tak dapat demikian, hendaklah lisan menjadi guru bagi hati. Yakni, hendaklah hati mengingat makna sesudah lidah membaca Lafadh. Sebaiknya janganlah hendaknya lidah bergerak, kalau hati dalam keadaan lalai untuk memahaminya.

1. Apabila kita membaca “Alhamdulillahirabbil’alamiin”, maka hendaklah kita ingat, bahwa segala puji yang baik yang kesemuanya membawa kepada kebenaran, adalah milik Allah SWT dan Haq-Nya. Karena Allah SWT-lah yang menjadikan alam dan mengatur, mengurus segala urusan-urusan alam. Dan hendaklah kita berhenti sejenak di akhir ayat, untuk menanti penjawaban Allah SWT yaitu “Hamidani ‘Abdi” (Hambaku telah Menyanjung-ku).

2. Apabila kita membaca “Ar-Rahmairrahim”. Maka hendaklah kita ingat, bahwa Allah SWT senantiasa memberi rahmat kepada Makhluk-Nya. Dan hendaklah kita ingat kehalusan Allah SWT yang membangkitkan kita kepada mengharap-Nya. Dan hendaklah kita berhenti sejenak pula, buat menanti penjawaban Allah SWT yaitu “Atsna Alaiya ‘Abdie” (Hamba-Ku telah menyanjung-Ku).

3. Apabila kita membaca “Malikiyaumiddiin”. Maka hendaklah kita ingat bahwasanya Allah SWT sendiri yang memegang segala urusan dihari membuat perhitungan terhadap segala amalan yang memberi pembalasan dan ganjaran. Hendaklah kita ingat, bahwa tak ada pada hari itu yang dapat diharap selain Allah SWT. Sendiri-Nya. Dan hendaklah kita berhenti sejenak di akhir ayat ini. Untuk menanti penjawaban Allah SWT, yaitu: “Majjadaniy ‘Abdie”. (Hamba-Ku telah meng-agungkan-Ku).

Orang yang arif, sangat senang menyambut penjawaban Allah SWT yang indah ini. Demi Allah sekiranya bukan karena jiwa telah ditutup kegelapan syahwat, terbanglah rasanya orang-orang yang membaca tiga yat ini, lantaran gembira menyambut penjawaban Allah SWT yang tiga itu.

Dalam hati orang yang ‘Arif, setelah membaca “Alhamdulillah Hirabbil ‘Alamiin, Ar-Rahmannirrahiim, Malikiyaumiddin” terpatrilah nama-nama Allah SWT yang menjadi pokok “Asma Ul Husna”, yaitu Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim”.

Di waktu lidahnya menyebut “Allah”, terlihatlah oleh hatinya akan Allah SWT, yang disembah. Yang di maksud, yang ditakuti, dan yang haq menerima ibadat.
Diwaktu lidahnya menyebut “Rabbil ’Alamiin:. Tergambarlah dihatinya, bahwasanya Allah SWT itu Qayyum, Mengurus Segala Sesuatu. Qa’mun Bin Nafsih, yang berdiri sendirinya.

Diwaktu lidahnya menyebut “Malkiyaumiddin”. Jiwanya mempersaksikan kebesaran-kebesaran yang hanya ada pada Raja yang haq lagi nyata. Raja Haq lagi nyata itu tentulah “Hayyun” yang senantiasa hidup. “Qayyum” yang mengurus segala sesuatu dengan sendirinya. “Sami ‘Un” yang mendengar. “Bashirun” yang melihat. “Mutakallimun” yang mempunyai pembicaraan. “Amirun” yang memerintah. Yang mengirim segala rupa perintah-Nya meredhai hamba-hamba-Nya yang patut di-Ridhai. Serta memberikan pahala. Dan memarahi hamba-hamba yang patut di marahi serta memberikan siksa. dan Allah SWT-lah pemilik tempat bahagia (surga). Dan tempat siksa (neraka).

Kalimat “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin” adalah kalimat yang berisi pujaan dan pujian yang dihadapkan manusia kepada Allah SWT. Allah SWT memilih satu yang paling Allah senangi. Yakni kalimat “Alhamdulillah” yang di jawab langsung dalam kita bermunajat kepada-Nya. Karena Dia-lah “Rabbil ‘Alamiin” Pengatur seluruh alam. Pemelihara segalanya, Pengawas secara keseluruhannya. “Rabbil ‘Alamiin” pemberi hidup segala yang hidup. Pemberi ilham dan wahyu bagi segala Nabi, Rasul dan penemuan-penemuan baru, penggerak hati “Muqallibul Qulub” dalam berbagai kebajikan hidup. Rabbil ‘Alamiin” sumber segala kekuatan dan daya dan lainnya.

“Ar-Rahmanirrahim”

Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah dua nama dari beberapa nama Allah SWT. Disamping sebagai nama lain dari Allah SWT, keduanya juga merupakan dua dari sekian banyak sifat-sifatNya. Yang dengannya Allah SWT di puji dan di agungkan dan kepada-Nya-lah kita mohon di berikan Rahmat.

Rahmat Allah SWT di dunia dapat diperoleh baik oleh orang-orang yang ta’at maupun yang biasa melakukan maksiat. Maupun kafir. Adapun Rahmat Allah SWT di  akhirat nanti akan di peruntukkan khusus bagi orang-orang mukmin saja. Yaitu orang-orang yang bertaqwa, orang-orang yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an, yaitu orang-orang yang mengikuti Sunnah Rasul.

“Malikiyaumiddin”
Malik artinya: Pemilik atau Penguasa, baik di dunia maupun di akhirat

Artinya: “Allah SWT menganugerahkan kerajaan didunia kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia Maha luas anugerah-Nya. Lagi Maha mengetahui” (Q.S Al-Baqarah 2:247)

Artinya: “Maha Suci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S Al-Mulk 67:1)

Allah SWT mengkhususkan diri-Nya bahwa Dia Lah zat yang merajai pada hari kiamat nanti. Karena pada hari itu Allah SWT menggantikan langit dan bumi dengan langit dan bumi yang lain sebagaimana Firmannya dalam Qur’an Surat Ibrahim Ayat 48.

Artinya: “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Q.S Ibrahim 14:48)

4. Apabila kita membaca “Iyyakana’budu Wa Iyya Kanasta’in”, maka hendaklah kita ingat pada saat itu, bahwa kita berkomunikasi dengan Allah SWT yang Maha Besar. Untuk menghambakan diri Kepada-Nya. Yaitu: Shalat, Ibadah yang kita lakukan semata-mata hanya untuk mencari keredha’an-Nya. Mengharapkan ampunan-Nya, kemudian kita mohonkan pertolongan kepada-Nya. Agar kita di beri kemampuan untuk menjalani hidup ini di jalan yang di ridhai-Nya. Mohon di jauhkan dari Bahaya tipu daya setan, baik dari kalangan jin maupun dari Manusia. Kemudian berlindung kepada-nya dari Adzab kubur dan Adzab neraka jahannam, yang di sediakan bagi makhluk-Nya dari bangsa Jin dan Manusia yang mengingkari Ayat-ayat-Nya.

Dan hendaklah kita berhenti di Akhir Ayat, untuk menanti penjawaban Allah SWT yaitu “HADZA BAINI WA BAINA ‘ABDI, WALI ‘ABDI MASA-ALA”. “Inilah dia antara Aku dan hamba-Ku dan bagi hamba-ku apa yang dia minta”

Tuhan jelaskan kepada manusia melalui Rasul-Rasul-Nya, yaitu jalan-jalan yang di ridhai-Nya. Dalam berbagai kitab-kitab-Nya. Kitab-kitab itu di turunkan dalam Taurat, Zabur, Injil, Shuhuf-Shuhuf (Lembaran yang di turunkan kepada Nabi Ibrahim) di kumpunlkan dalam Al-Qur’an. Segala makna Al-Qur’an di kumpulkan dalam surat-surat Al-Mufashshal. Segala makna surat-surat Al-Mufashshal di kumpulkan dalam Al-Fatihah. Segala makna-makna Al-Fatihah, di kumpulkan dalam “IYYAKA NA’ BUDU WA IYYA KANASTA’IEN”.

5. Apabila kita membaca “IHDINASHSHIRATHAL MUSTAQIEM”, maka hendaklah kita ingat bahwa kita memohon, agar di berikan jalan yang benar, baik berkenaan dengan ilmu, maupun yang berkenaan dengan Amal. Dan hendaklah kita merasai, bahwa kita sangat mengharapkan, permohonan kita itu, terkabulkan, kaena, tidak akan kita temukan jalan lurus, kalau bukan karena Allah SWT yang menunjuki kita, kepada Jalan yang di ridhainya. Jalan meraih kesuksesan dalam kehidupan, kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat kelak.

Agar hidup itu menjadi indah, dan aman, ikutilah peraturan dan ketentuan Allah SWT. Pasti akan selamat hidup menurut sewajarnya. Manusia beribadah kepada Allah SWT itu wajar, manusia menghambakan diri kepada Alam itu tidak wajar. Kalau kita bodoh belajar, itu wajar. Tetapi bodoh sok pintar, itu tidak wajar. Kalau kita salah di ingatkan orang itu wajar, tetapi kita sudah salah, di beri tahu orang, kita malah marah-marah, itu tidak wajar. Sesuatu itu dalam kehidupan kalau tidak dalam kewajaran, akan membuat batin kita menjadi resah, untuk itulah kita mohon di beri petunjuk ke jalan yang wajar, yaitu jalan yang lurus menuju keridhaan-Nya. Tuhan mewajibkan kita untuk mengulang-ulang permohonan itu di setiap kita melakukan shalat. Dan hendaklah di akhir ayat yang kita baca berhenti sejenak. Untuk menanti pula penjawaban dari Allah SWT yaitu: “HADZA LI ‘ABDIE WA LI ‘ABDIE MASA-ALA”. “hal ini untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta”. Kemudian kita memulai membaca ayat berikutnya.

6. Apabila kita membaca “SHIRATHALLADZI NA’AN ‘AM TA’ALAYHIM”, maka hendaklah kita ingat, bahwa jalan yang kita mohonkan itu, ialah jalan yang telah di berikan kepada orang-orang yang Allah SWT telah berikan nikmat atas mereka. Yaitu orang-orang yang mengikuti kepercayaan yang sama dengan kepercayaan nabi-nabi dan rasul-Nya.

Manusia yang menerima dan beriman dengan risalah yang di bawa nabi-nabi dan rasul-rasul itulah manusia yang paling beruntung dan paling baik. Sedang manusia yang tak percaya nabi-nabi dan rasul-rasul itulah manusia yang paling merugi atau paling celaka di akhirat nanti.


Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Q.S Al-Bayyinah 98:6)


Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Q.S Al-Bayyinah 98:7)

Yang dikatakan orang-orang kafir itu bukanlah orang-orang yang tak percaya Tuhan saja. Tetapi setiap orang-orang yang mendustakan atau tidak mempercayai salah satu nabi dan rasul. Atau mendustakan tidak percaya  salah satu kitab-kitab yang di turunkan kepada nabi-nabi dan Rasul-rasul itu, juga termasuk kafir.

Adapun orang-orang yang mendapat petunjuk kepada jalan yang benar, ialah orang-orang yang beriman. Yaitu beriman kepada Allah, beriman kepada Rasulnya, dan membuktikan iman yang telah di akuinya itu dengan perbuatan dan sikap hidup. Yaitu beusaha untuk menegakkan kebenaran di muka bumi ini. Dan di jiwai dengan mendirikan shalat, serta tulus ikhlas di segala hubungan, baik hubungan dengan Allah (Hablunminallah) ataupun hubungan sesama manusia (Hablunminannas). Mereka itulah sebaik-baik makhluk, mereka telah mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang bernilai, tidak melakukan perbuatan yang sia-sia.

7. Apabila kita membaca “GHAIRIL MAGHDhU BI ‘ALAIHIM WALADHDHALLIN”, maka hedaklah kita ingat, bahwa kita memohon kepada Allah SWT, agar di jauhkan kita dari jalan-jalan orang yang di murkai-Nya. Lantaran mereka mengutamakan ke bathilan, yaitu siapa saja yang menolak, menyangkal, atau menentang ajaran yang di ajarkan oleh para nabi dan rasul. Dan kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Mereka.
Di dalam Al-Qur’an di jelaskan perihal orang-orang yang di marahi (di murkai) ialah golongan orang-orang yahudi dan dengan orang-orang yang sesat ialah golongan nasrani. Firman-Nya


Artinya: “Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” (Q.S Al-Baqarah 2:90)

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thurmudzi dari ‘Ady bin Hatim, Nabi SAW bersabda:
‘AL YAHUDU MAGHDHUUBUN ‘ALAIHIM WAN NASHARA DHAALLUUN
Artinya: “Golongan yahudi di marahi atas mereka (Maghdhuub’alaihim) dan golongan Nasrani sesat (Dhaalluun)”.

Sebab itu dalam Ayat 5,6 dan 7 dari surat Al-Fatihah, di ajarkan agar kita selalu bermohon kepada Allah SWT, agar selalu di tunjuki jalan yang lurus, jalan orang yang mendapat nikmat, bukan jalan orang-orang yang di marahi Allah SWT, atau orang-orang yang sesat itu. Dan hendaklah kita berhenti sejenak di akhir ayat ini, yakni  An ‘Amta’alaihim dan di akhir Waladhdhallin, untuk menanti penjawaban Allah SWT, yaitu “HADZA LI ‘ABDIE WA LI ‘ABDIE MASA-ALA”, “Ini bagi hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.

MEMBACA SURAT DALAM SHALAT

Apabila telah selesai dari berta’mien, maka hendaklah kita berdiam diri kadar senafas, sambil membaca Bismillah yang disiirkan. Sesudah itu, bacalah suatu surat dari surat-surat Al-Qur’an. Dalilnya Firman Allah SWT mengatakan:
FAQRA-UW MA TAYASSARA MINHU
Maka bacalah apa yang mudah (bagimu dari Al-Qur’an). (Q.S Al-Muzzammil: 20)

Kemudian dalil hadits yang di ketengahkan oleh Imam Ahmad dari Imam Ibnu Hibban, yaitu:
TSUMMAQRA’ BI UMIIL QUR’ANI WAMA SYI’TA
“Kemudian bacalah ummul Qur’an dan ayat-ayat Al-Qur’an yang engkau sukai”
Surat itu di baca di tiap-tiap rakaat yang pertama dan yang kedua dari tiap-tiap shalat. Pembacaan surat itu dijaharkan di setiap shalat jahar dan disiirkan di setiap shalat sir.
Hendaklah surat-surat itu di baca dengan tertib dan tartil. Dan berhenti (Waqaf) di tiap-tiap ayat, atau di tempat-tempat yang di pandang baik berhenti pada tempat itu.

Petunjuk Rasul SAW:
A.Tentang hal memanjangkan atau memendekkan surat-surat yang di baca dan keadaan membacanya:
1). Rasulullah SAW terkadang membaca surat yang panjang, terkadang yang sederhana dan adakalanya yang pendek, Apabila di kehendaki oleh keadaan.
2). Rasulullah SAW senantiasa membaca surat dari awalnya, tidak pernah beliau memulai pembacaan di pertengahan surat atau di akhirnya.
Hanya terkadang-kadang beliau menghabiskan pembacaan surat itu di suatu raka’at saja, dan ada kalanya beliau berhenti di pertengahan surat dan kemudian beliau menamatkannya di raka’at ke dua.
Tidak ada di riwayatkan, bahwasanya Nabi SAW membaca satu atau dua tiga ayat dari suatu surat, atau membaca akhir-akhir surat, melainkan di shalat sunnat Fajar.
Dalam pada itu para sahabat ada yang berbuat demikian. Baca Fiqlus Sunnah 2:278, 774
di shalat sunnat Fajar, Nabi SAW membaca di rakaat yang pertama:


Artinya: “Katakanlah olehmu sekalian. Kami beriman kepada Allah dan beriman kepada Al-Qur’an yang di turunkan kepada kami. Shuhuf-shuhuf yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishaq dan Ya’qub dan anak-anaknya (yang dua belas), dan kepada Taurat yang di berikan kepada Musa, dan kepada Injil yang diberikan Isa, dan kepada kitab-kitab (mu’jizat) yang di berikan kepada Nabi-nabi yang lain. Kami tiada membeda-bedakan antara seseorang dari pada mereka dan kami semuanya menyerahkan diri kami kepada Allah SWT” (Q.S Al-Baqarah 2:136)

Di raka’at kedua dari sunnat Fajar beliau membaca:


Artinya: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Q.S Ali Imran 2:64)

3). Dan Rasulullah SAW pernah membaca satu surat di kedua-kedua raka’at, sebagaimana beliau pernah membaca dua-dua surat di tiap raka’at.


Umpamanya: Rasulullah SAW pernah membaca surat Al-A’raf di shalat Maghrib, sebagian beliau baca di raka’at pertama dan sebagian lagi beliau baca di Raka’at yang kedua. Rasulullah SAW pernah membaca “Idza Zulzilat” (Surat Al-Zalzalah) di kedua-dua raka’at shalat subuh.

4). Rasulullah SAW biasanya memanjangkan bacaan rakaat yang pertama atas rakaat yang ke dua pada tiap-tiap rakaat Shalat.

5). Rasulullah SAW pernah membaca dalam shalat sir surat yang ada di dalamnya sujud tilawah. Beliau bersujud dan bersujud pulalah para ma’mum. (Muttafaq’alaih, No. 1052 dan 576)

B. Tentang ukuran panjang bacaan pada tiap-tiap shalat dan surat-surat yang di baca:
1). Ukuran biasa bacaan shalat subuh dan surat-surat yang di baca oleh Nabi SAW di dalamnya:
Menurut keterangan yang shahih, pembacaan di shalat itu ghalibnya (biasanya) ialah sekedar enam puluh hingga seratus ayat, yakni buat tiap-tiap raka’at.
Di shalat subuh pada pagi Jum’at, beliau tetap membaca di rakaat yang pertama Surat “Alif Lam Miim Tanzilal” (As-Sajadah)
Dan di rakaat yang kedua, beliau membaca “Hal ataa ‘alal Insaan” atau surat Ad-Dahri (Al-Insan). Beliau baca sucukup-cukupnya, tak pernah beliau baca setangah-setengah saja

2). ukuran biasa bacaan shalat Dzuhur dan surat-surat yang di baca Nabi SAW di dalamnya:
Rasulullah SAW membaca di shalat Dzuhur, kira-kira 30 ayat pada tiap-tiap raka’at. (H.R Muslim No. 452 dan Abu Daud). Rasulullah SAW pernah Membaca di shalat Dzuhur surat Al-A’la dan “Wal-laili Idza Yaghzya” atau “Wassama I Dzatil Buruj” dan “Wassama I Waththariq” dan surat-surat yang sepertinya. (As-Sunnan)
Rasulullah SAW pernah membaca Surat Luqman dan Adz-Dzariyat

3).Hukum biasa bacaan shalat Jum’at dan surat-surat yang tetap di baca Nabi SAW didalamnya:
Rasulullah SAW membaca di shalat Jum’at, ada kala surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun, adakalanya Surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah.

4). Ukuran biasa bacaan shalat Ied dan surat-surat yang dibaca Nabi SAW di dalamnya:
Rasulullah SAW membaca di shalat Ied, adakalanya Surat Qaaf dan Iqtarabat dengan sesempurna-sempurnanya tak pernah beliau membaca Akhir-Akhirnya saja. Dan adakalanya surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah.

5). Ukuran biasa bacaan shalat Ashar dan surat-surat yang di baca oleh Nabi SAW.
Rasulullah SAW membaca di shalat Ashar, sekedar 15 Ayat pada tiap-tiap rakaat. Tegasnya separu Dzuhur, jika di pendekkan, sama dengan Dzuhur jika di panjangkan.

6). Ukuran biasa bacaan shalat Maghrib dan surat-surat yang di baca Nabi SAW di dalamnya.
Rasulullah SAW pernah membaca di shalat Maghrib, Surat Al-A’raf, Surat At-Thur, Surat Al-Mursalat dan Surat Ad-Dhukan. (H.R Khamsah). Riwayat yang shahih menerangkan, bahwa Nabi SAW membaca Surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas di shalat sunnat Mahgrib.

7). Ukuran biasa bacaan shalat ‘Isya dan surat-surat yang di baca Nabi SAW didalamnya.
Rasulullah SAW pernah membaca di shalat ‘Isya, surat “At-Tin” dan pernah membaca “Al-Insyiqaq” serta bersujud tilawah dan surat “Adh-Dhuha” dan surat yang sepertinya.
Tegasnya shalat ‘Isya lebih kurang sama dengan Ashar.

Apabila kita telah selesai dari membaca surat, maka hendaklah kita berdiam kadar senafas, sesudah berdiam kadar senafas, sekedar membaca “Subhanllah”, jangan sekali-kali di sambung terus akhir surat dengan Takbir rukuk.

Syeikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Ikhtigarat Al-Fiqhiyyah II 53 berkata, membaca sedikit ayat Al-Qur’an di sertai banyak perenungan lebih baik dari pada membaca banyak ayat tanpa perenungan.
Imam Ahmad mengatakan, bahwa hal ini dinyatakan oleh para sahabat dengen Jelas.

Tiada batasan pasti mengenai bacaan Al-Qur’an setelah Al-Fatihah. Para Fuqaha menganjurkan membaca surat-surat Al-Mufashshal (yang tidak terlalu panjang) pada shalat Subuh, Surat-surat Al-Mufashshal yang tidak terlalu panjang. Pada shalat Dzuhur, Ashar dan ‘Isya. Dan surat-surat yang pendek-pendek pada Shalat Maghrib.
Sahabat Abu Hurairah R.A telah menceritakan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:
AYUHIBBU AHADUKUM IDZAA RAJA’A ILA AHLIHI AN-YAJIDA FIHI TSALATSA KHALIFATIN IZHMIN SIMANIN? QULNA: NA’AM QALA: FATSALATSU AA YATIN YAQRA-U BIHINNA AHADUKUM FISHALATIHI KHAIRUNLAHU MIN TSALATSI KHALIFATIN ‘IZHA MIN SIMANIN.
“Apakah seseorang di antara kalian suka apabila kembali kepada keluarganya, maka ia akan menjumpai pada keluarganya tiga ekor unta bunting yang besar lagi gemuk?”. Kami menjawab “Ya”. Rasulullah SAW bersabda “Maka tiga ayat yang dibaca oleh seseorang di antara kalian dalam shalatnya adalah lebih baik baginya dari pada tiga ekor unta bunting yang besar lagi gemuk.” (H.R Muslim)

Keterangan: Pembahasan ini untuk menjelasakan keutamaan membaca surat sesudah Al-Fatihah. Hal ini di sunnahkan dalam dua raka’at pertama dari shalat yang empat dan tiga raka’at, serta dua raka’at subuh. Bacaan ini di sunnahkan Dalam semua shalat, Hadits ini di riwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Bab keutamaan Al-Qur’an.

Abu Qatadah R.A telah menceritakan hadits berikut:
Artinya: “Nabi SAW telah membaca Fatihatul Kitab dan dua surat di dalam dua raka’at pertama dari shalat Dzuhur, dalam raka’at yang pertama, Suratnya panjang. Sedangkan dalam raka’at yang kedua suratnya pendek. Adakalanya beliau SAW memperdengarkan ayat (yang di bacanya). Dan dalam shalat ‘Ashar, Nabi SAW melakukan hal yang semisal. Dan Nabi SAW pada raka’at yang pertama dari shalat subuh selalu memanjangkan bacaannya dan dalam raka’at yang kedua memperpendeknya.” (HR. Khamsah Kecuali Thurmudzi)

Didalam Riwayat yang lain, di sebutkan
WAKANA YAQRA-U FIRRAK’ATAYNIL UKHRA YAYNI BIFATIHATIL KITAB
Artinya: “adalah Nabi SAW di dalam dua raka’at yang terakhir beliau hanya membaca surat Al-Fatihah”

Menurut riwayat yang dikemukakan oleh Imam Tarmidzi dan Imam Hakim menyebutkan:
QARA ANNABIYU S.A.W. FISHSHUBHI BIL WAQI’AH
Nabi SAW dalam shalat subuh membaca surat Al-Waqi’ah. Di dalam Riwayat dari Abdullah Ibnu Sa-ib R.A telah menceritakan hadits berikut:
Nabi SAW shalat subuh bersama dengan kami di Makkah, maka ia membukanya dengan surat Al-Mu’miniin, sehingga ketika sampai pada kisah tentang Nabi Musa dan Harun, atau kisah tentang Nabi Isa, ia mengalami batuk, lalu rukuk. (H.R Syaikhain)

Jabir Ibnu Samurah R.A telah menceritakan pula hadits berikut:
“Nabi SAW di dalam shalat Dzuhur, sering membaca surat “Al-Yaghsya” dan salah satu di antara surat yang ada pada hadits sebelumnya. Dalam dua rakaat yang pertama, atau Nabi SAW membaca surat ini pada rakaat yang pertama. Dan pada raka’at yang kedua membaca surat lainnya yang semisal.” (H.R Muslim dan Abu Daud)
di dalam shalat subuh, Nabi SAW membaca ayat-ayat di antaranya, “Al-Haaqqah”, Qaaf Wal Qur anil Majiid, Falaa Uqsimu Bil Khunnasil Jawaaril Kunnas , Wal Laili Idzaa ’As ‘As Dalam shalat subuh. At-Takwir, Al-Waqiah, Al-Mu’miniin, Al-Zalzalah.

Dari Ibnu ‘Abbas diriwayatkan bahwa Nabi SAW membaca dalam shalat subuh di hari Jum’at surat “Alif Lam Miim Tanzil” dan surat “Hal Ataa ‘Alal Insaani” dan dalam shalat jum’at membaca surat Al-Jumu’ah. (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Daud)

Nabi SAW pada shalat subuh hari Jum’at pernah dalam raka’at yang pertamanya membaca surat As-Sajdah, yang terletak di antara surat Luqman dan surat Al-Ahzab. Dan beliau sujud tilawah sesudah membaca Firman Allah SWT:
WASABBAHU BIHAMDIRABBIHIM WAHUM LA YASTAKBIRUUN
Artinya: “Dan mereka bertasbih serta memuji Rabb-Nya, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.S As-Sajdah: 15)
Pada raka’at yang kedua, Nabi SAW membaca surat Ad-Dhar atau surat Al-Insan, karena itu di anjurkan agar sekali-kali kedua surat tersebut di baca dalam shlat subuh hari Jum’at. Menurut pendapat Imam Syafi’i.

Jika sujud tilawah di dalam shalat, maka orang membaca takbir ketika turun untuk bersujud dan ketika bangun, berdasarkan hadits Marfu’ dari Ibnu Mas’ud:
INNAHU KANA YUKABBIRU FIY KULLI RAF’IN WA KHAF DHIN WAQIYAMIN WA QU’UWDIN
Artinya “Beliau membaca takbir setiap kali bangun, turun, berdiri dan duduk.” (H.R Ahmad 1/442)
Dan di amalkan oleh para sahabat yang empat dan ahli Fiqih.

ADAB DI KALA MEMBACA SURAT DALAM SHALAT

Apabila kita membaca surat, maka hendaklah kita membacanya dengan sepenuh hati, dan hendaklah kita memperhatikan isi kandungan ayat yang kita baca, apakah itu perintah ataukah itu larangan, apakah itu janji baik atau janji buruk. Di kala kita membaca ayat yang berkenaan dengan janji baik, hendaklah kita berharap semoga Allah SWT memberikannya kepada kita. Sebaliknya, di kala kita membaca ayat yang berlarangan dengan janji buruk, hendaklah kit membaca ayat yang timbulkan rasa takut akan marahnya Allah SWT. Dan hendaklah kita mengambil pelajaran dan pengajaran yang dikandung oleh surat-surat yang kita baca itu.

Adapun surat dalam Al-Qur’an biasa berupa satu ayat, beberapa ayat, satu surat, lebih dari satu surat atau mengambil beberapa surat dari Al-Qur’anul Karim, sunnahnya adalah membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an pada dua raka’at pertama setelah Al-Fatihah, karena Nabi SAW melakukan hal yang demikian.

Beliau SAW biasanya lebih memanjangkan raka’at pertama dari pada raka’at kedua. Beliau SAW selalu membaca sesuai dengan madnya. Berhenti dalam setiap ayatnya dan memanjangkan suaranya.


Beliau SAW bersabda:
LAISA MINNA MAN LAM YATA GHANNI BIL QUR’AN
Artinya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak membaguskan bacaan Al-Qur’an” (H.R Bukhari 7527)

Salah satu ayat yang di baca:
Seluruh ayat ayat Al-Qur’an kita boleh memilihnya apa yang kita sukai untuk di baca di dalam shalat setelah membaca surat Al-Fatihah. Adapun adab membaca surat sebagai mana yang telah di jelaskan yaitu: Membacanya dengan sepenuh hati, memperhatikan maksud kandungan ayat sehingga kita mengetahui, memahami maksud ayat tersebut.

Ayat Kursi (Al-Baqarah 2:225)
ALLAHU LA ILAHA ILLA HUA: “Dialah Allah tidak ada Tuhan (sesembahan yang berhak di Ibadahi) Kecuali Allah”. Ayat ini menjelaskan larangan agar tidak sesuatupun yang di ibadahi (di sembah) kecuali Allah yang maha hidup (Al-Hayyu) lagi berdiri sendiri dan senantiasa mengurus makhluk-Nya (Al-Qayyuum), yang mempunyai sifat sebagai mana yang Dia berikan kepada Diri-Nya.
Dalam tafsir Ibnu Katsir 1/330, beliau kartakan, Ayat ini memberitahukan bahwa hanya Dia-lah satu satunya yang berhak di ibadahi oleh seluruh makhluk.

Al-Hayyul Qayyuum: “yang maha hidup lagi berdiri sendiri dan senantiasa mengurus makhluk-Nya”. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Yakni yang maha hidup dalam diri-Nya yang tidak akan mati selama-lamanya”. Al-Imam Al-Baghawi berkata: “yaitu yang maha kekal dan abadi selama-lamanya’.

Kesimpulanya bahwa kehidupan yang hakiki, kekal dan sempurna, yang tidak ada kesudahannya, tidak ada asal dan akhirnya, adalah sifat yang khusus di miliki Allah SWT yang maha pencipta Jalla Jalaluh.
Tidak ada yang mempunyai sifat itu kecuali hanya Allah, ke Esa-an Allah SWT dalam memiliki sifat kehidupan ini merupakan salah satu dalil akan ke Esaan Allah untuk di sembah dan di ibadahi.

Al-Qayyum: “Dia Jalla Jalaluh adalah Dzat yang senantiasa mengurus makhluk, memberi rezeki, memlihara dan mengatur makhluk, segala sesuatu di bawah pengaturan dan pemeliharaan  Allah SWT”

Lata’ Khudzu Hu Sinatuw Wala Nawum
“Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur”. Hikmah pengulangan “La” “Tidak” adalah adalah menunjukkan penafian Masing-masing di antara dua hal tersebut kantuk dan tidur. Sebagaimana di jelaskan dalam hadits Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa R.A bahwa Ia berkata:
Rasulullah SAW memberitahukan kami empat perkara. Yaitu: bahwasanya Allah SWT tidak tidur dan tidak pula mengantuk. Dia mengangkat dan menurunkan timbangan amalan siang akan diangkat kepada-Nya pada malam hari dan amalan malam hari akan diangkat kepada-Nya pada siang hari (Sahih Muslim no. 295(1/162))

Lahu Mafis Samaawati Wamafil Ardhi
“Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi.”
Segala sesuatu yg ada di langit baik malaikat, matahari, bulan, bintang dan lain-lainnya. Begitu pula segala sesuatu yang ada di bumi, berupa seluruh makhluk telah bersaksi bahwa hak mencipta, memiliki di Ibadahi, mengatur dan memelihara hanyalah Milik Allah SWT. Tanpa ada sekutu atau yang setara bagi-Nya.

MAN DZAL LADZIY YASYFA’U ‘INDAHU ILLA BI ISZNIHI
“Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan Izin-Nya”
Al-Imam Ar Razi dalam tafsirnya berkata, Maksud kalimat ini  artinya peng-ikraran dan penafian. Artinya tidak ada seseorangpun di sisi-Nya yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan perintah-Nya. Hal ini karena orang-orang musyrik beranggapan bahwa berhala-berhala tersebut akan memberi syafa’at kepada mereka. Bahkan orang-orang fasik masih banyak melakukan hal yang sama yaitu dengan memuja-muja sesuatu benda. Misalnya: keris mereka, mendatangi (Menziarahi) kuburan-kuburan tertentu, memberi sesajian pada bulan-bulan tertentu. Semuanya termasuk mensyarikatkan Allah SWT

Allah SWT menjelaskan bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebagaimana dalam Firmannya:
Dan mereka menyembah selain Allah SWT apa yang tidak dapat mendatangkan mudharat kepada mereka dan tidak pula dapat mendatangkan manfaat
Lebih jauh Allah menjelaskan ILLA BI IDZNIHI bahwasnya tidak ada syafa’at kepada seorangpun di sisi-Nya selain kepada orang yang dikecualikan oleh Allah dengan firman-Nya yang artinya: “kecuali dengan izin-Nya”
.
YA’LAMU MA BAYNA AYDIYHIM WAMA KHALFAHUM
“Dia mengetahui apa yang dihadapan mereka dan apa yang di belakang mereka.”
Makna kalimat ini, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, Maksudnya, bahwa Dia mengetahui segala hal, tidak tersembunyi bagi-Nya kecuali keadaan seluruh makhluk-Nya, bahkan Dia mengetahui merayapnya semut hitam di kegelapan malam di atas batu hitam yang keras di bawah tanah kering. (Syaikh Shiddiq Hasankhan)
Merupakan dalil atas ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk baik yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang. (Ibnu Hatsir)

WALA Yuhithuwna Bisyay In Min ‘Ilmihi
“dan mereka tidak mengetahui satupun dari Ilmu-Nya”.
Para Ahli tafsir menyebutkan “Dari Ilmu-Nya” dua arti dari Ilmu Pertama, Ilmu disini berarti “yang di ketahui”. Kedua, maksud Ilmu adalah ilmu tentang Dzat dan sifat-sifat-Nya. ILLA BI MASYAA A: Jika tidak di kehendaki-Nya. Pengertian pertama. Tidak ada seseorangpun yang mengetahui satupun di antara pengetahuan-Nya Azza Wa Jalla. Kecuali sesuatu yang Dia kehendaki untuk di beri tahukan kepadanya. Baik dia Malaikat, Nabi, jin maupun Manusia.
Pengertian kedua, Tidak ada seseorangpun yang ilmunya dapat meliputi Dzat dan sifat-sifat-Nya Jallah Jalaluh kecuali sesuatu yang Dia beritahukan kepadanya.

WASI’A KURSIYUHUSSAMAA WATI WAL ARDHA.
“Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi”
Al-Imam Asy-Syaukani berkata “Kursi” secara Zhahir berupa jasad sesuai dengan yang terdapat dalam Atsar. Dalam Sebuah hadits shahih terdapat penjelasan yang menunjukkan keagungan kursi ini.Al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih meriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari R.A bahwasanya dia pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang Kursi. Kemudian Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tujuh langit dan tujuh bumi itu apabila di banding dengan Kursi hanya bagaikan sebuah cincin yang dilemparkan di padang sahara. Dan perbandingan ‘Arsy dengan Kursi bagaikan perbandingan padang sahara disebut dengan cincin Tadi. (tafsir Ibnu Kasir 1/332)
ALLAHUAKBAR. Alangkah besarnya kursi! Alangkah besarnya ‘Arsyi

WALA YA UDUHU HIFZHUHUMA
“dan Dia tidak keberatan untuk menjaga keduanya”
Alhafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan kalimat ini berkata. Yakni Dia tidak merasa keberatan dan kesulitan dalam menjaga langit dan bumi, siapa yang berada di dalam keduanya bahkan hal itu sangat mudah dan ringan bagi-Nya. Dialah yang mencukupi segala yang diusahakan setiap jiwa, yang  mengawasi segala sesuatu. Tidak ada satupun yang jauh dan tersembunyi bagi-Nya. Segala sesuatu adalah hina di hadapan-Nya. Dialah zat yang tidak akan ditanya tentang apa saja yang Dia lakukan. Tetapi merekalah yang akan ditanya. Dialah yang Maha Perkasa atas segala sesuatu, yang Maha Menghitung segala sesuatu. Yang Maha Mengawasi, Maha Tinggi dan Maha Agung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia dan tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain-Nya. (tafsir Ibnu Katsir 1/333)

WAHUAL ‘ALIYUL ‘AZHIM.
“dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”
Makna kalimat tersebut adalah: hanya Dialah satu-satunya zat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung atau Dialah satu-satunya zat mempunyai ketinggian dan keagungan. Dengan kata lain, kalimat ini mengandung dua makna
Pertama, penetapan sifat tinggi dan sifat agung bagi Allah SWT
Kedua, penafian sifat tinggi dan sifat agung bagi selain Allah SWT
Jadi, tidak ada yang tinggi kecuali Allah SWT dan tidak ada yang agung selain Allah SWT. Inilah kalimat yang berbentuk kata ma’rifah tertentu. Ia berfungsi untuk membatasi. Maksudnya hanya Dialah satu-satunya tiada yang lain melainkan hanya Dia.