KEWAJIBAN SHALAT

Shalat adalah rukun Islam yang terpenting setelah syahadat, shalat di wajibkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan ummatnya ketika beliau Mi’raj, dan telah di wajibkan juga kepada umat-umat terdahulu, sebagaimana Allah SWT berfirman:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku sebagai orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhankami, perkenankanlah doaku.” (Q.S Ibrahim 14:40)

Shalat di wajibkan kepada setiap muslim yang telah akil-baligh, kecuali wanita yang sedang haid atau nifas. Orang yang hilang akal karena gila tidak perlu meng qadha shalat. Tapi, jika orang itu hilang akal karena mabuk atau pingsan, ”Amar bin Yasri terkena panah, lalu pingsan, sejak waktu Dzuhur, Ashar, Maghrib, sampai dengan Waktu Isya. Dia siuman ditengah malam, lalu dia shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.” (Sunnan Al-Baihaqi Al-Kubra No. 1692, Sunnan Ad-Daraquthni 2/81)

Anak yang telah mumayyiz (dapat membedakan baik dengan buruk) dia harus disuruh shalat dengan sifat mendidik yakni lemah lembut, Kalau sudah berumur dengan sifat tegas, kalau dia tidak mau shalat, Dalilnya, Hadits ‘Amr bin Syu’aib dari Ayahnya dari Kakeknya Nabi SAW, bersabda:

MURŨ AULÃ DAKUM BISHSHALATI WAHUM ABNA U SAB’I SINĨNA WADHRI BUHUM ‘ALAIHA WAHUM ABNA U ‘ASYRIN WAFARRIQŨBAINAHUM FĨL MADHA JIHI

Artinya: “Suruhlah anak-anakmu melakukan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, setelah mereka berusia sepuluh tahun, pukul lah apabila mereka meninggalkannya dan pisahkanlah diantara mereka di tempat tidurnya” (H.R Ahmad 2/180, Abu Daud No. 495, At-Tharmudzi No. 407, dan Al-Hakim No. 721)

“Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu’al-Fatãwã, 22/30, Mengatakan, “Tidak boleh menunda-nunda shalat dari waktunya karena junub, hadats, najis dan lainnya. Orang harus shalat pada waktunya dalam keadaan apapun”

Orang yang mengingkari kewajiban shalat, Zakat atau kewajiban lainnya yang diketahui secara pasti, padahal dia mengetahuinya, maka dia telah Kufur. Sebab dia mendustakan Al-Qur’an Al-Karim dan Rasulullah SAW.

Ibn Qayyim dalam Ash-shalah Wa Hukm Tarikiha 1/53 berkata “Kufurnya orang yang meninggalkan shalat telah dinyatakat dalam Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ sahabat”

Dari Jubir Bin ‘Abdullah, Rasulullah SAW bersabda:

BAINAR RAJULI WABAINASY SYIRKI WALKUFRI TARKUSH SHALATI
“Pembatas Seseorang Dengan Kemusyrikan Dan Kekufuran Adalah Meninggalkan Shalat” (H.R Muslim No. 82, Abu Daud No. 4678, An-Nasa’I, Al-Mujtaba No. 464 dan At-Tharmudzi 262)

Dari Abdullah bin Umar R.A, Rasulullah SAW bersabda:

BUNIAL ISLAMU ‘ALA KHAM SĨN SYAHADATI ALLA ILAHA ILLALLAHU WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WARUSULUHU WA IQAMISHSHALATI WA ITA IZZAKATI WAHAJJIL BAITI WASHAUMI RAMADHAN
Islam Didirikan Diatas Lima Perkara, Syahadat Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah Dan Muhammad Adalah Rasulullah, Mendirikan Shalat, Menunaikan Zakat, Berhaji Kebaitullah Dan Puasa Ramadhan” (H.R Muttafaq’alihi No. 8 dan No. 16)

Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, akan dihapus pahala seluruh amal shalehnya. Dalilnya, Hadits Buraidah R.A dia berkata, Rasulullah SAW bersabda;

MAN TARAKASH SHALATAL ‘ASHRI FAQAD HABITHA ‘AMALUHU

Artinya: “Barang Siapa Meninggalkan Shalat ‘Ashar, Maka Pahala Perbuatannya Dihapus” (H.R Al-Bukhari No. 528, dan An-Nasa’I, Al-Mujtaba 474)

Orang yang tidak menyempurnakan salah satu rukun, atau syarat shalat dengan sengaja, sama dengan orang yang meninggalkannya. Hudzaifah bin Al-Yaman R.A melihat orang yang tidak sempurna melakukan rukuk dan sujud, lalu dia berkata

MÃ SHALLAYTA WALAU MUTTA ‘ALA GHAIRIL FITHRA TILLATIY FATARALLAHU MUHAMMADÃ SALLAHU ‘ALAIHI WASALLAMA ‘ALAIHA

Artinya: “Engkau Tidak Shalat. Jika Engkau Mati, Maka Engkau Mati Diluar Fitrah Yang Diajarkan Allah Kepada Muhammad Saw” (H.R Bukhari No.758)

Firman Allah SWT:
فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

Artinya: Jika mereka bertobat, mendirikan salat danmenunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagamamu. (Q.S At-Taubah 9:11)

Firman Allah SWT:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S Al-Baiyyinah 98:5)

Manusia diperintahkan oleh Tuhan untuk ber ibadah, Perintah itu dinamai “Amar”, yaitu suruhan. Menurut Usul Fiqhi, Setiap suruhan pada dasarnya adalah wajib hukumnya, Jadi, perintah Ibadah itu Wajib hukumnya, di Antara perintah itu adalah shalat yang lima waktu, Maka shalat yang lima waktu itu wajib hukumnya.

Di Dalam ayat ini dinyatakan, bahwa ketika beribadah itu semata-mata dikerjakan karena mengikuti perintah Allah SWT. Kata “meng Ikhlaskan” menurut ilmu bahasa arab adalah Kata “Hal” sedang dalam keadaan, jadi arti ayat ini “Sembahlah Tuhanmu dalam Keadaan Kamu sedang Meng Ikhlaskan Ibadah KarenaNya”

Firman Allah SWT:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusiamelainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S Adz-Dzariyat 51:56)

Dalam ayat ini ditegaskan oleh Allah SWT, bahwa kita di alam dunia ini diciptakan Tuhan, Semata-mata untuk menghambakan diri kepadaNya. Baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka, karena silih bergantinya keadaan yang didatangkan kepada kita, baik dalam keadaan mendapat nikmat, maupun mendapatkan musibah, semuanya itu adalah untuk menguji ke Imanan kita, apakah kita konsisten dalam menjalankan perintahnya

Bersabda Rasulullah SAW di Riwayatkan

‘AN ‘UMARA BIn KHATHTHAB R.A ANNAHU WALA SAMI’TU RASULULLAH SAW YAQULU: INNAMAL A’MALU BINNIATI WA INNAMA LIKULLIN RI IN MANAWA

Dari Umar bin Khaththab R.A beliau berkata “Saya dengar Rasulullah SAW berkata”: “Bahwasanya seluruh ibadah dengn niat, dan yang di dapat manusia hanya yang diniatkannya.” (H.R Bukhari dll.)

Jadi Setiap kewajiban shalat yang telah ditentukan oleh Tuhan itu kita lakukan harus Ikhlas karena Allah SWT semata, barulah kita menunaikan kewajiban shalat dengan sempurna.

MEMBACA KALIMAT TA’AWWUDZ (ISTI’ADZAH)

Apabila kita telah selesai dari membaca dzikir Iftitah, maka hendaklah sebelum kita memulai munajat membaca Al-Fatihah, kita berlindung diri dengan Allah yang Maha pelindung dari gangguan syetan yang terkutuk, yang senantiasa mengintai-ngintai mencari peluang untuk memalingkan kita dari khusyuk. Lantasan dengki dan bencinya kepada kita. Untuk itu supaya kita dapat bermunajat dengan Allah dengan sebaik-baiknya. Supaya kita dapat memahamkan Al-Fatihah (Ucapan Munajat itu) dengan sempurna-sempurnanya. Hendaklah kita membaca kalimat Ta’awwudz dengan suara rendah dan perlahan. Akan tetapi boleh juga dikeraskan, karena pernah dilakukan oleh sebagian shabat. Sebaiknya disiirkan.

Kalimat Ta’awwudz banyak macamnya, diantaranya:

ASTA’IDZUBILLAHI MINASYSYAITHANIRRAJIM
Artinya: “Aku Memohon Perlindungan Kepada Allah Dari Syetan Yang Terkutuk“

A’UDZUBILLAHI MINASYSYAITHANIRRAJIM MIN HAMZIHI WA NAFKHIHI WA NAFATSIHI
Artinya: “Aku Berlindung Dengan Allah Dari Syetan Yang Terkutuk, Dari Gurisannya, Dari Tiupan-Tiupannya Dan Dari Hembusan-Hembusannya“

A’UDZUBILLAHI SAMI’ IL ‘ALIMI MINASYSYAITHANIRRAJIM
Artinya: “Aku Berlindung Dengan Allah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui Dari Pada Syetan Yang Kena Rajam“

ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINASYSYAITHA NIRRAJIMI MIN HAMZIHI WANAFKHIHI WANAFATSIH
Artinya: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Aku Berlindung Dengan Engkau Dari Syetan Yang Terkutuk Dari Gurisan-Gurisannya, Dari Tiupan-Tiupannya Dan Dari Hembusan-Hembusannya“

Rasulullah SAW Membaca Do’a Ta’awwudz Hanya Pada Raka’at Pertama Saja. Tidak Membaca Pada Raka’at Kedua Dan Seterusnya.  Membaca Ta’awwudz Adalah Pekerjaan Yang Termasuk Dalam Kategori Yang Disunnahkan.

A’UDZUBILLAHI MINASYSYAITHANIRRAJIM
Artinya: “Aku Berlindung Kepada Allah Dari Setan Yang Terkutuk“

Hal Ini Dikerjakan Setiap Kali Memulai Membaca Al-Qur’an, Berdasarkan Firman Allah SWT:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.“ (Q.S An-Nahl 16:98)

Sahabat Abu Sa’id R.A telah menceritakan hadits berikut:
Rasulullah SAW Apabila Berdiri Untuk Shalat, Di malam Hari, Maka Ia Bertakbir Kemudian Mengucapkan “ALLAHUMMA WABIHAMDIKA WATABARAKASMUKA WA TA’ALA JADDUKA WALA ILAHA GHAIRUKA“
Artinya: “Maha Suci Engkau Ya Allah Dengan Memuji Kepadamu. Maha Suci Asmamu Dan Maha Tinggi Ke Agunganmu, Dan Tiada Tuhan Selain Engkau.“

Selanjutnya Ia Mengucapkan “Allahu Akbar Kabiirauw (Do’a Iftitah)” Lalu Mengucapkan:

A’UDZUBILLAHI SAMI IL ‘ALIMI MINASYSYAITHANIRRAJIM MIN HAM ZIHI WA NAFTSIHI WANAFJIHI
Artinya: “Aku Berlindung Kepada Allah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui Dari Syetan Yang Terkutuk, Yakni Dari Godaan, Rayuan Dan Cumbuannya..“ (H.R Ash-Shahih Sunan)

Usman Ibnu Abul ‘Ash R.A datang kepada Nabi SAW lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan benar-benar telah menghalang-halangi antara diriku dengan shalatku, serta bacaanku“ Rasul Menjawab “Itu adalah setan yang dikenal dengan nama khanzab di anjurkan kita meludah kekiri sebanyak tiga kali“ (H.R Muslim)

ADAB-ADAB BATHIN DALAM SHALAT

Firman Allah SWT berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya: Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk. (Q.S Al-Baqarah 2:238)

Untuk memelihara shalat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Yakni dengan Khusyuk, Kita harus mengetahui apa maksud dan tujuan kita untuk mendirikan shalat itu, Baik gerakannya maupun bacaannya. Untuk itu, kita harus melaksanakannya dengan kesadaran yang tinggi

A. Adab di Kala Berdiri

Di Kala Kita berdiri, hendaklah kita ingat bahwa kita berdiri itu dihadapan Allah buat memuji-Nya dan menyanjung-Nya, buat Memuliakan-Nya dan buat membaca Kalam-Nya, hendaklah kita ingat bahwa kita berdiri itu buat memperhadapkan jiwa kepada Allah SWT, sebagaimana kita menghadapkan wajah kita kea rah Kiblat. Hendaklah kita ingat, kita telah menghadapkan wajah kita kea rah Ka’bah, bagitu pula hendaknya kita hadapkan Jiwa dari segala sesuatu kepada Allah SWT. Sendirinya dan hendaklah di kala berdiri, itu kita kenangkan bahwasanya Allah SWT itu “Haiyyun Qaiyyum” yang senantiasa hidup lagi Maha mungurus segala sesuatu dengan sendiri-Nya. Dengan tidak berhajat kepada bantuan Makhluk ciptaan-Nya, ataupun sesuatu yang ada dilangit maupun di bumi. Tegasnya, hendaklah “Berdiri” itu, membangkitkan kenangan bahwa Allah SWT itu bersifat dengan “Qiamuhu Binafsih” (Berdiri sendiri, yakni mengurus segala sesuatu dengan sendirinya.

B. Adab di Kala Mengangkat Tangan dan Bertakbir

  1. Mengangkat tangan itu memberi isyarat, bahwa kita akan masuk langsung kedalam shalat, buat menundukan ketundukan hati dan seluruh anggota tubuh, untuk patuh melaksanakan perintah, yakni: Syarat dan Rukun shalat dilaksanakan dan menghentikan semua larangan, yaitu: Semua yang membatalkan shalat, yakni: Makan, Minum, Bicara, keluar sesuatu dari Qubul dan dubur dan banyak gerakan yang tidak diperlukan dalam shalat

Apabila kita mengangkat tangan, maka hendaklah kita ingat akan kebesaran Allah dan ketinggian-Nya. Semua aktivitas (kegiatan sehari-hari) kecilkanlah, jangan di Ingat. ingatan kita hanya kepada Allah, yang Maha Besar. Tempat kita memuja dan meminta

  1. Takbir itu, tanda telah masuk kedalam  upacara bermunajat dengan sesungguh-sungguhnya, Takbir itu mengandung segala konsekuensinya.  Apabila kita membaca takbir, maka hendaklah kita ingat benar-benar, bahwasanya Allah SWT itu maha Tinggi, bahwasanya Allah SWT sangat berkuasa dan sangat tembus Segala kekuasaanya. Dan janganlah kita mengingat segala sesuatu disaat kita mengucapkan takbir itu, ingatan kita hanmya tertuju kepada Allah yang Maha Besar, Besar Kekuasaan-Nya, Keagungan-Nya, Ketinggian-Nya. Dan hendaklah kita hujamkan Perasaan kehinaan diri, menghadapNya, kepada yang maha Agung dan Maha Suci dikala kita meletakkan tangan atas dada

C. Adab di Kala Membaca Dzikir Iftitah

Iftitah, Ialah: Pembukaan, Apabila kita membaca dzikir Iftitah, maka hendaklah kita ingat benar-benar akan segala makna nya, serta kita pahamkan dengan sebaik-baiknya, Makna yang di Ingat, ketika membaca itu.

Dzikir Iftitah itu ialah:
Mengakui kesucian Allah, senagaimana sabda Rasulullah SAW:

SUBHANAKA ALLLAHUMMA WABIHAMDIKA WATABARAKASMUKA WATA’ALA JADDUKA WALA ILAHA GHAIRUKA

Artinya: “Maha Suci Engkau Ya Allah, Dan Dengan Namamu Aku Memujimu, Maha Suci Namamu Dan Maha Tinggi Kebesaranmu, Serta Tidak Ada Sesembahan Yang Haq Selain Engkau” (H.R Ahmad 3/50, Abu Daud 775, At-Thurmudzi 242)

Dalam Hadits Riwayat Muslim No. 399, dari Ubadah, “Bahwasanya Umar bin Khaththab pernah menjaharkan kalimat tersebut dihadapan para sahabat beliau”. Membaca do’a iftitah hendaklah dibaca dengan suara pelan (sirr), Karena Nabi SAW melakukannya demikian.

  • Apabila kita membaca “Subhanalakallahumma Wa Bihamdika”, hendaklah kita kenangkan bahwa Tuhanlah yang Maha Suci dari segala Ke’aiban dan yang Maha Sejahtera dari segala kekurangan dan kepadaNya tempat kita memuja dan memuji dari segala rupa puji-pujian

Sesungguhnya memuji Allah SWT itu, menghendaki kita mensifatkan-Nya dengan segala sifat kesempurnaan dan mensucikannya dari segala kekuarangan, dan kepadaNya lah kita menghambkan diri yaitu, mematuhi aturan-Nya.

  • Apabila kita membaca “Watabarakasmuka” hendaklah kita kenangkan, bahwa menyebut nama Allah SWT diketika melakukan sesuatu perbuatan, mendatangkan keberkatan, dan bahwa menyebut nama Allah SWT, terhadap sesuatu yang sedikit, menyebabkan Allah SWT membanyakannya, dan menyebut Nama Allah SWt terhadap sesuatu bencana, menyebabkan Allah SWT menghilangkan bencana itu. Dan menyebut Nama Allah SWT terhadap Syaithan, menyebabkan hinanya Syaithan itu, dan mematahkan tipu dayanya.

  • Apabila kita membaca “Wata’ala Jadduka” hendaklah kita kenangkan, bahwasanya Allah SWT itu sangat tinggi Kebesaran-Nya, mengatasi segala kebesaran, bahwasanya Allah SWT Maha Tinggi kuasaNya, memgalahkan segala kekuasaan.

  • Apabila kita membaca “Wala Ilaha Ghairuka”, hendaklah kita ingat benar-benar bahwasanya Allah SWT, maha Tinggi tidak berserikat, bahwasanya Allah SWT maha Suci, tidak bersekutu dalam urusan-Nya, dalam ketuhanan-Nya, dalam Keuluhiyahan-Nya, dalam pekerjaan-Nya, dan tidak pula dalam sifat-Nya. Dia maha kuasa atas segala sesuatu, Maha Suci Allah SWT, Tiada Tuhan lain, yang ada hanya Allah SWT.

  • Adab di Kala Berta’awwudz, Ber-ta’awwudz itu ialah, melindungkan diri dengan Allah SWT dari gangguan-gangguan dan tipudaya syeithan Lakanatullah. Ber-ta’awwudz dipermulaan membaca Al-Qur’an, berarti melindungkan diri dengan Allah SWT dari gangguan-gangguan syeithan yang terkutuk, yang selalu berusaha memalingkan hati kita dari menghadapkan diri kita kepada Allah SWT. Apabila kita membaca “A’udzubillahi Minasy Syaitha Nirrajim, Wa Harzhihil Wanafkhihi Wa Mafatsih” , Maka hendaklah kita ingat bahwa kita melindungkan diri kepada Allah SWT dan berpegang kuat-kuat kepadaNya dan qudratNya, dari musuh-musuh kita (Syeithan) yang bermaksud memutarkan hati kita dari pada Allah SWT, agar kita menjadi orang-orang yang buruk dan keji dalam bersikap terhadap Allah SWT.

Sebelum kita membaca AlFatihah, kita dianjurkan ber-ta’awwudz, sebagaimana Firman Allah SWT:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (Q.S An-Nahl 16:98)

Seluruh kandungan Al-Qur’an itu merupakan cahaya dan hidayah menuju Jalan yang lurus, dan setan tidak menghendaki umat manusia itu menempuh jalan itu, karena ia berusaha berkeliaran untuk memalingkan manusia dari apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an, yang berisikan cahaya dan tuntunan serta petunjuk. Suatu hal yang wajar jika kita diperintahkan membaca “Isti’adzah” ketika hendak membaca Al-Qur’an

Kiranya menjadi keharusan bagi orang yang mendirikan shalat, menjadikan ucapan ta’awwudz, sebagai alat pembangkit atau persiapan, pencegahan untuk menangkis upaya setan dalam bisikan-bisikannya, sehingga kita dapat berkonsentrasi penuh, memfokuskan hati dengan motivasi shalat, sehingga setan enggan menganggunya

SEMPURNA SHALAT DENGAN KHUSYU’

Mewujudkan Khusyu’ dalam shalat, adalah suatu kewajiban, karena shalat itu baru bernilai disisi Allah SWT dengan adanya Khusyu’, Sebagaimana yang di Firmankan-Nya:

 الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ  ۞  قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Q.S Al-Mu’minun 23: 1-2)
Sungguh beruntung  orang-orang yang bershalat, yang mereka itu dalam shalatnya berlaku khusyu’

Al-Imam Al-Ghazaly dalam Ihya Ulumuddin berkata: “di Syaratkan shah shalat dengan Khusyu’ dan kehadiran hati”. Dalil yang menunjuk kepada demikian itu dalam Al-Qur’an sangat banyak, antara lain:

Firman Allah SWT:
وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Artinya: “Dirikanlah olehmu akan shalat untuk mengingat Daku” (Q.S Thaha 20:14)

Dhahir Firman (Perintah Allah) ini mewajibkan khusyu’, Karena lalai berlawanan dengan Ingat. Maka orang yang lalai disepanjang shalatnya, tentulah tidak dapat di pandang bahwa ia mendirikan shalat untuk mengingat akan Allah SWT. Orang itu masih taraf melakukan shalat, karena tiada Khusyu’ dan hadir hati di dalamnya.

Dalam surat Al-A’raf, Allah SWT berfirman:
الْغَافِلِينَ وَلا تَكُنْ مِنَ

Artinya: “dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.S Al-A’raf 7:205)

Wala: dan janganlah, menunjukan kalimat larangan untuk bersikap lalai didalam shalat, Dhahir larangan ini, mewujudkan haram.

Didalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
مَا تَقُولُونَ  حَتَّى تَعْلَمُوا

Artinya: “Sehingga Kamu Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan” (Q.S An-Nisa’ 4:43)

Ayat ini menerangkan bahwasanya: orang yang sedang mabuk dilarang bershalat, karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka ucapkan. Tidak mengetahui apa yang di Ucapkan terdapat juga pada orang yang lalai, yang ingatannya (hatinya) penuh dengan berbagai-bagai lintasan dan beraneka rupa goresan hati.

Juga dalam Surat Al-Ma’un Q.S 107, Ayat 4 dan 5, Allah SWT tegaskan:

 الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ ۞ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lali dari shalatnya”

Sabda Nabi SAW bersabda:

MAN LAN TANHAHU SHALATUHU ‘ANIL FAHSYA I WAL MUNKARI LAM YAZDAD MINALLAHI ILLA YU’DAA
Artinya: “Barang Siapa Yang Tiada Dicegahnya Oleh Shalat Dari Fahsya’ Dan Munkar, Tiadalah Bertambah Baginya, Selain Dari Jauh Dari Allah SWT” (H.R Ali Ibn Ma’baddari hasan dalam buku Syarah Ihya 2:112)

Nabi SAW Juga bersabda:

KAM MIN QA IMI HAZHZHUHU MIN SHALATIHIT TA’ABU WANNASHAB
Artinya: “Berapa Banyak Orang Yang Bershalat Malam, Keuntungan Yang Diperoleh Dari Shalatnya, Hanyalah Payah Dan Letih” (H.R Ibnu Majah dari Abu Huraira R.A dalam Buku Syarah Ihya 3:112)

Shalat orang yang lalai, dari memahami shalatnya dari khusyu’, tidak dapat mencegahnya dari Fahsya dan munkar.
Sesungguhnya orang-orang yang bershalat itu ialah: “orang yang sedang bermunajat dengan Tuhannya”. Maka apabila kita berbicara dengan Tuhan, sedang hati dan ingatan kita menerawang kemana-mana, tiadalah sekali-kali dinamai bermunajat. Orang yang sedang shalat tidak mengetahui dia sedang tidak bermunajat, sama dengan orang yang sedang mabuk.

Kata Abdul Wahid bin Zaid:
“Telah ber Ijma’ para ulama: bahwa seseorang hamba tidak memperoleh dari shalatnya, melainkan sekedar yang dia pahamkan dari padanya” (Syarah Ihya 2:115)

Wal hasil, hendaklah kita berdaya upaya menghasilkan Khusyu’ dan Kehadiran hati dalam shalat. Apabila tak dapat kita menghasilkan Khusyu’ dalam keseluruhannya, maka hendaklah khusyu’ itu, mestilah terdapat dalam sebahagiannya.

Penetapan Al-Imam Al-Ghazaly, inilah yang dipandang kuat dan benar oleh Al-Ustadz Abdul Aziz Al-Khuly, beliau berkata: “Masalah ini, masalah wajib khusyu’ dalam shalat, tidak patut diperselisihkan, yakni: tak patut ada yang mengatakan khusyu’ itu tidak wajib, karena apakah harga shalat, yang tak ada khusyu’ didalamnya itu? Tuhan telah menyangkutkan kemenangan para Mushalli kepada Khusyu’, karena itu, wajiblah kita sadari” (Ta’liq Subulus Salam 1:200)

Pengertian Khusyu’:

Setelah kita mengetahui bahwa jiwa shalat itu ialah: Ikhlas dan Khusyu’, bahwa mendirikan shalat itu ialah: Mewujudkan jiwa shalat dan hakikatnya dalam rupa tubuh yang lahir, maka wajiblah kita mewujudkan Khusyu’ yang menjadi jiwa shalat itu

Telah jelas bahwa kedudukan Khusyu’ dan Ikhlas dalam shalat adalah setamsil kedudukan ruh (jiwa) dalam suatu tubuh. Apakah yang dikatakan Khusyu’ itu?

  1. Kata Ali Ibn Abi Thalib R.A: ”Khusyu’ ialah merendahkan suara, tiada berpaling ke kanan kekiri, memahami maksud yang di baca”
  2. Kata Ibnu Jubair R.A: “Khusyu’ ialah tetap mengarahkan pikiran dalam shalat, hingga tiada mengetahui orang sebelah kanan dan orang sebelah kirinya”
  3. Kata ‘Atha R.A: “Khusyu’ ialah: tiada mempermain-mainkan tangan, tiada memegang-mengang badan dalam shalat”

Kesimpulannya: “Khusyu’ adalah amalan hati, suatu keadaan (kelakuan) yang mempengaruhi jiwa. Lahir bekasannya pada anggota, seperti tenang dan menundukan diri”

Bersabda Nabi SAW:

LAU KHASYA’A QALBU HADZARRAJULI LAKHASYA’AT JAWARIHUH
Artinya: “Sekiranya Khusyu’ Hati (Jiwa) Orang Ini, Tentulah Khusyu’ Segala Anggotanya” (H.R Al-Hakim, At-Thurmudzi dari Abu Hurairah)

Ringkasnya Khusyu’ ialah “Tunduk dan tawadduk, serta berketenangan hati dan segala anggota badan kepada Allah SWT”

Firman Allah SWT:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S Al-Hadid 57:16)

METODE MENGHASILKAN SHALAT KHUSYUK

            Shalat adalah hubungan makhluk dengan khaliqnya, shalat adalah penenang jiwa dan pembersih hati, shlat merupakan bentuk hubungan yang sebenarnya antara yang lemah dengan yang maha kuat. Untuk itu, kita perlu memahami bagaimana cara untuk berhubungan dengan Allah S.W.T dengan Keridhaannya. Dalam Al-Qur’an Allah S.W.T berfirman:
 
Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, (Q.S Al-Mu’minun 23:1-2)

            Disini kita dapat memahami, bahwa orang-orang yang beruntung didalam shalatnya ialah yang memahami akan maksud pelaksanaan shalat tersebut yakninya Khusyu’, untuk itu kita perlu mengetahui metodenya.

1. Cara mendapatkan khusyu’ dalam shalat.

Hendaklah kita merasa diri sedang berdiri di hadapan yang maha berkuasa, yang mengetahui segala rahasia. Dengan (Allahu Akbar yang maha besar) kekuasaan-Nya orang yang shalat bermunajat.

2. Hendaklah kita memahamkan makna apa yang di baca. Sebagaimana yang diperinthakan Allah S.W.T dalam Al-Quar’an dengan firmannya:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Afala Yatadabbaruunal Qur’ana Am’ala Quluubin Aqfaluha.
Artinya: Maka apakah mereka tidak memahamkan Al-Qur’an? Ataukah hati-hati mereka terkunci? (Q.S 47:Muhammad Ayat 24)

3. Hendaklah kita memahamkan zikir-zikir yang dibaca, yakni memperhatikan maknanya dan tujuan maksudnya. Kata Imam Al-Ghazaly dalam Al-Arba’ien:

Hendaklah kamu membaca “Allahu Akbar” dengan mengingat bahwasanya tak ada yang besar dari pada Allah S.W.T dalam segala hal. Untuk itulah kita tundukkan hawa nafsu kita sesuai dengan kehendak Allah S.W.T.

 “Hendaklah kamu membaca “Wajahtu Wajhiya” dengan perasaan, bahwa kamu benar-benar menghadapkan jiwamu kepada Allah S.W.T dan berpaling dari selain-Nya” (dengan segala yang kita punyai kita hadapkan kepada-Nya).

Baik jabatan, kekayaan, ketampanan, aktifitas apapun yang kita lakukan, kita persembahkan hanya kepada Rabbul Alamin.

Hendaklah kamu membaca “Alhamdulillah” dengan penuh  rasa syukur kepada Allah S.W.T terhadap segala nikmat-Nya. Kesehatan, kesempatan, ilmu pengetahuan kesemuanya tidak dapat dihitung satu persatu.

Hendaklah kamu membaca “Iyyaka na’budu wa iyya ka nasta’in” dengan perasaan bahwa kamu sangat lemah dan bahwa segala urusan itu hanya dalam Qudrat-Nya.
                       
Dan hendaklah ditiap-tiap membaca zikir, kamu memahami maknanya, dan segala yang membimbangkan kamu dari memahami maknanya Qira’at (apa yang kamu baca) dipandang waswas.



4. Hendaklah kita memanjangkan rukuk dan sujud.
Muhammad Al-Bakry berkata: Bahwasanya di antara pekerjaan yang menghasilkan khusu’ ialah memanjangkan rukuk dan sujud.

5. Janganlah mempermai-mainkan anggota badan dengan gerakan tangan sebentar-sebentar menggaruk kepala dan sebentar-sebentar menggaruk yang lain dan janganlah berpaling-paling.

6. Hendaklah tetap memandang ketempat sujud, walaupun bermata buta, atau bershalat disisi Ka’bah sekalipun.


Kata Al-Ustadz Al-Imam Muhammad Abduh:

a. Hendaklah ketika mereka menyebut sesuatu lafadh, mengingat maknanya. Umpamanya, dikala membaca “Alhamdulillah” hendaklah mereka menghadirkan makna puji dan sebab-sebab segala rupa puji itu, kepunyaan Allah S.W.T. ;dikala membaca “Malikiyaumiddin” hendaklah mereka kenangkan hari pembalasan.

b. Hendaklah mereka berlaku sedemikian terus-menerus sehingga selesai shalat. Apabila seorang tetap memahami makna dari lafadh yang di ucapkan, barulah berarti ia mendirikan shalat.

Berfirman Allah S.W.T:
ﻴﺄﻴﻬﺎﺍﻟﺫ ﻳﻥﺀﺍﻤﻧﻮﺍﻻ ﭠﻘﺭﺒﻮﺍﺁﻠﺼﻠﻮﺓ ﻮﺃﻧﭠﻢ ﺴﮏﺭﺤﭠﻲﭡﻐﻠﻤﻮﺍﻤﺍﭠﻘﻮﻠﻮﻥ

Yaa Ayyuhalladzina a manu lataqrabush shalata wa antum sukaraa hatta ta’lamu mataquluun
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (Q.S 4:An-Nisaa Ayat 43)

                  Perkataan sehingga kamu mengetahui apa yang kamu ucapkan, Memfaedahkan, bahwa mengetahui (memahami) apa yang di baca seseorang dalam sholatnya baik shalawat, maupun zikir adalah wajib atau syarat sah shalat.

Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Anas R.A. bahwasanya Nabi S.A.W bersabda:
Idza Na'isa Ahadukum Wahua Yushalli Fal Yan Sharif Falyanam Hatta Ya'lama Mayaqul

Artinya: “Apabila sesorang kamu mengantuk padahal ia sedang bershalat, maka hendaklah ia berpaling dari shalatnya dan hendaklah ia tidur, sehingga ia mengetahui apa yang akan ia ucapkan”. (H.R Abu Daud, Al-Tarmidzi dari Aisyah dalam Tafsir Al-Manaar, Jilid I Hal. 115)
Arti mengetahui “memahamkan”

                  Ayat di atas, demikian juga hadits ini, menunjukan kepada wajib, mengetahui bahasa arab atas tiap-tiap muslim, untuk memahamkan apa yang dibaca dalam shalatnya, sekurang-kurangnya menghafal makna atau ucapan-ucapan dan zikir-zikir dalam shalat.

                  Adapun waswas yang hadir di kala kita bershalat penangkalnya ialah bersungguh-sungguh tidak mengikuti goresan hati tersebut, janganlah kita biasakan ia masuk kelubuk hati kita dan membawa kita melayang-layang dan terapung-apung di udara waswas. Dan ingatlah, kita sedang bermunajat dengan Allah S.W.T yang dapat melihat gerak-gerik kita, gerak-gerik anggota kita dan mendengar segala rupa gerak jiwa.

                  Perasaan waswas akan selalu merasuk kedalam hati orang-orang yang bershalat, karena gangguan dan bisikan-bisikan syetan, untuk itu kita mohon perlindungan kepada Allah S.W.T. sebelum kita bertakbiratul ikhram, kita disunnahkan membaca do’a yaitu, Rasullullah S.A.W bersabda:

Rabbi A’udzubika Min Hamazatisy Syayathin Wa A’udzubika Rabbi Min An-Yahdhurun

Artinya: Tuhanku, aku berlindung diri denganMu wahai Tuhanku, dari godaan-godaan syetan dan aku berlindung diri denganMu, Tuhanku dari kehadiran syetan-syetan itu

Rahasia Alam Ghaib dalam Islam


Penglihatan manusia tentu tidak bisa menjangkau benda yang berada di balik tembok. Contoh kecil di atas menunjukkan betapa indera manusia mempunyai keterbatasan. Oleh karena itu, teramat naif jika ada orang-orang yang menolak hal-hal ghaib dengan mendewakan panca inderanya.

Merunut sejarahnya, secara psikologis, umat manusia –sejak dahulu kala– mempunyai keingintahuan yang besar terhadap segala sesuatu yang bersifat ghaib, khususnya bila berkaitan dengan peristiwa dan kejadian di masa datang. Saking penasarannya, terkadang mereka menyempatkan (baca: mengharuskan) diri untuk mendatangi tukang ramal; baik dari kalangan ahli nujum, dukun, ataupun ’orang pintar’. Ada kalanya dengan cara mengait-ngaitkan sesuatu yang dilihat ataupun didengar, dengan kesialan atau keberhasilan nasib yang akan dialaminya (tathayyur). Dan ada kalanya pula dengan meyakini ta’bir (takwil) mimpi yang diramal oleh orang pintar –menurut mereka. Tragisnya, orang yang dianggap mengerti akan hal ini justru mendapatkan posisi kunci di tengah masyarakatnya dan meraih gelar kehormatan semacam orang pintar dan ahli supranatural. Bahkan gelar kebesaran ‘wali’ pun acap kali disematkan untuk mereka. Wallahul musta’an.

Kondisi semacam ini tidak hanya terjadi pada masyarakat awam yang identik dengan buta huruf dan penduduk pedesaan semata. Namun kalangan ‘intelektual’ dan modernis pun ternyata turut terkontaminasi dengan itu semua. Tidaklah mengherankan jika kemudian berbagai macam ‘ilmu’ yang konon dapat menyingkap perkara-perkara ghaib meruak ke permukaan dan banyak dipelajari oleh sebagian masyarakat (belajar ilmu metafisika, Tenaga Dalam, Ilmu trawangan, Kasyaf “sufi”  dll) , meskipun dalam prakteknya kerap kali harus bekerja sama dengan jin (baca: setan).

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berkata: “Yang paling banyak terjadi pada umat ini adalah pemberitaan jin kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia tentang berbagai peristiwa ghaib di muka bumi ini1. Orang yang tidak tahu (proses ini, -pen) menyangka bahwa itu adalah kasyaf dan karamah. Bahkan banyak orang yang tertipu dengannya dan beranggapan bahwa pembawa berita ghaib (dukun, paranormal, orang pintar dll, -pen) tersebut sebagai wali Allah, padahal hakekatnya adalah wali setan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا يَامَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ اْلإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ اْلإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِيْنَ فِيْهَا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ

“Dan (ingatlah) akan suatu hari ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan mereka semua, (dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman): ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia’, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, dan kalian kekal abadi di dalamnya, kecuali bila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128) (Fathul Majid, hal. 353)
Rahasia Alam Ghaib
Alam ghaib menyimpan rahasia tersendiri. Rahasia alam ghaib, ada yang Allah khususkan untuk diri-Nya semata dan tidak diberitakan kepada seorang pun dari hamba-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مُبِيْنٍ

“Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidaklah ada sesuatu yang basah atau pun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)
Tentang hal ini, Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata, sebagaimana dalam firman Allah:

وَلاَ أَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْب

“Dan aku tidak mengatakan kepada kalian (bahwa): ‘Aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib’.” (Hud: 31)
Demikian pula Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan Allah untuk mengatakan:

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah: ‘Aku tidak mampu menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 188)
Di antara perkara ghaib yang Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan untuk diri-Nya semata adalah apa yang terkandung dalam firman-Nya:

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya semata pengetahuan tentang (kapan terjadinya) hari kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang bisa mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia dapatkan di hari esok. Dan tiada seorang pun yang bisa mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Hal ini sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya Malaikat Jibril tentang kapan terjadinya hari kiamat:

فِيْ خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ} الآية

“…termasuk dari lima perkara (ghaib) yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata. Kemudian Nabi membaca ayat (dari surat Luqman tersebut,-pen.).” (HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 50, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Berdasarkan hadits ini, tidak ada celah sedikit pun bagi seorang pun untuk mengetahui (dengan pasti) salah satu dari lima perkara (ghaib) tersebut. Dan Nabi telah menafsirkan firman Allah surat Al-An’am: 59 (di atas) dengan lima perkara ghaib (yang terdapat dalam Luqman: 34, -pen.) tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam Shahih (Al-Bukhari, -pen.).” (Fathul Bari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar 1/150-151)
Di antara perkara ghaib, ada yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para Rasul yang diridhai-Nya, termasuk di antaranya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُوْلٍ

“(Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang perkara ghaib itu, kecuali yang Dia ridhai dari kalangan Rasul.” (Al-Jin: 26-27)

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian perkara-perkara ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara para Rasul-Nya.” (Ali Imran: 179)
Maka dari itulah, perkara ghaib tidak mungkin diketahui secara pasti dan benar kecuali dengan bersandar pada keterangan dari Allah dan Rasul-Nya. Lalu bagaimanakah dengan orang-orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari keduanya?
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah pendusta dalam pengakuannya tersebut.” (Fathul Bari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar, 1/151)
Apakah jin (setan) mengetahui perkara ghaib? Jawabannya adalah: Tidak. Jin tidak mengerti perkara ghaib, sebagaimana yang Allah nyatakan:

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلاَّ دَابَّةُ اْلأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِيْنِ

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka (tentang kematiannya) itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui perkara ghaib tentulah mereka tidak akan berada dalam kerja keras (untuk Sulaiman) yang menghinakan.” (Saba`: 14)
Adapun apa yang mereka beritakan kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia (dukun, paranormal, orang pintar, dll.) tentang perkara ghaib, maka itu semata-mata dari hasil mencuri pendengaran di langit2. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ. إِلاَّ مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِيْنٌ

“Dan Kami menjaganya (langit) dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (Al-Hijr: 17-18)

Hikmah Tertutupnya Tabir Alam Ghaib bagi Umat Manusia

Para pembaca, tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan dan menentukan suatu perkara kecuali (pasti) selalu ada hikmah di baliknya. Demikian pula halnya dengan alam ghaib, yang tabirnya tertutup bagi umat manusia. Di antara hikmahnya adalah sebagai ujian bagi umat manusia, apakah mereka termasuk orang yang beriman dengan perkara ghaib yang Allah dan Rasul-Nya beritakan tersebut, ataukah justru mengingkarinya?!
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Bahwasanya alam barzah (kubur) termasuk perkara ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera. Jika bisa dijangkau oleh panca indera, niscaya tidak ada lagi fungsi keimanan terhadap perkara ghaib (yang Allah dan Rasul-Nya beritakan, -pen.), dan tidak ada lagi perbedaan antara orang-orang yang mengimaninya dengan yang mengingkarinya.” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 109)
Di antara hikmahnya pula adalah untuk keseimbangan hidup umat manusia antara suka dan duka, cemas dan harapan di dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Cobalah anda renungkan, bagaimanakah jika seandainya setiap orang mengetahui semua yang akan terjadi? Tentu kehidupannya akan sangat kacau dan tidak mendapatkan ketentraman. Bagaimana tidak?! Ketika seseorang mengetahui dengan pasti bahwa akhir hidupnya adalah menderita, baik karena ditimpa penyakit kronis, kecelakaan, dibunuh, dan lain sebagainya. Tentu hidupnya akan diselimuti dengan duka dan kecemasan. Si sakit misalnya, ketika mengetahui dengan pasti bahwa dia akan mati karena sakitnya itu (dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan tidak ada lagi harapan untuk hidup, tentunya keputus-asaanlah yang selalu merundungnya. Akan tetapi ketika dia tidak mengetahuinya dengan pasti, maka harapan untuk menikmati hari esok masih terbentang di hadapannya dan proses pengobatan pun akan selalu diupayakannya.
Ketika umat manusia mengetahui segala yang terjadi di alam ghaib, bisa melihat malaikat dan jin (setan) dalam wujud aslinya, bisa mengetahui orang-orang yang diadzab di kubur dan sejenisnya, niscaya ketenangan hidup tidak akan didapatkannya. Demikian pula ketika masing-masing orang mengetahui dengan pasti apa yang tersimpan di hati selainnya, maka kehidupan ini akan terasa sebagai belenggu yang memberatkan. Karena berbagai keburukan yang ada pada hati masing-masing orang dapat dirasakannya.
Di lain kondisi, ketika seseorang mengetahui dengan pasti bahwa dia selalu beruntung, niscaya hal itu bisa menjadikan dia sombong dan bersikap semena-mena terhadap sesamanya. Tidaklah Allah menutup tabir rahasia alam ghaib kepada kita, kecuali karena kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya yang tiada tara. Sehingga sudah seharusnya bagi kita untuk mensyukuri apa yang ditentukan-Nya tersebut.

Fenomena Umat tentang Alam Ghaib

Para pembaca, tentunya anda sering mendengar info seputar alam ghaib dan berbagai peristiwanya. Lebih-lebih belakangan ini, ketika ‘misteri alam ghaib’ benar-benar dipromosikan dan dijadikan ajang komoditi bisnis yang cukup menjanjikan. Dengan sekian bumbu klenik dan racikan mistiknya, maka tersajilah aneka menu yang kental dengan bau syirik dan khurafat. Tak luput…akhirnya televisi, surat kabar, dan media cetak/elektronik lainnya pun menjadi publik mediator modernnya.
Sementara di lain pihak, ada orang-orang yang mengingkari perkara ghaib. Dasar pemikiran mereka bertumpu pada keilmuan (baca: akal) semata tanpa mempedulikan norma-norma keimanan. Nyaris, sikap mengedepankan akal daripada dalil sam’i baik dari Al-Qur`an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi simbol mereka. Tak pelak, akhirnya terjerumus pula ke dalam jurang kesesatan dikarenakan pengingkaran mereka terhadap perkara-perkara ghaib yang telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tersebut. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok3:
1. Orang-orang yang mengingkari semua perkara ghaib, termasuk adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta alam semesta ini. Mereka adalah kaum atheis (komunis) dari kalangan Dahriyyah (yang menyatakan bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya, -pen.). Demikian pula orang-orang yang menapak jejak mereka dari kalangan atheis Sufi semacam Ibnu Arabi At-Tha`i penulis kitab Fushusul Hikam dan cs-nya yang mengklaim bahwa wujud ini hanya satu, dan hakekat wujud Allah adalah semua yang ada di alam semesta ini (yakni menyatu dengan makhluk), yang hakekat dari pemikiran tersebut adalah peniadaan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian mereka campakkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang beliau bawa, dengan suatu estimasi bahwa kewalian lebih baik dari kenabian dan khatimul auliya` (penutup para wali) lebih utama dari khatimul anbiya` (penutup para Nabi), bahkan dari semua Nabi.
2. Ahlul wahmi wat takhyil, yaitu orang-orang yang menyatakan bahwasanya para Nabi telah memberitakan tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, hari kiamat, surga dan neraka, bahkan malaikat, dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Para Nabi tersebut menggambarkan kepada manusia (tentang semua itu) dari khayalan mereka; bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bertubuh besar, tubuh manusia akan dibangkitkan di hari kiamat, manusia akan mendapat kenikmatan dan merasakan adzab, padahal kenyataannya tidak demikian. Kedustaan ini, mereka (para Nabi) lakukan demi kamashlahatan umat, karena tidak ada cara yang lebih mendatangkan mashlahat dalam mendakwahi mereka kecuali dengan cara tersebut. Inilah pemikiran Ibnu Sina dan yang sejalan dengannya.
3. Ahlut tahrif wat ta`wil, yaitu orang-orang yang menyatakan bahwasanya para Nabi tidaklah memaksudkan (baca: memberitakan) kecuali sesuatu yang memang benar adanya, hanya saja kenyataan yang sebenarnya dari semua itu adalah apa yang bisa dijangkau oleh akal. Inilah pemikiran ahli kalam dan selainnya dari kalangan Mu’tazilah, Kullabiyyah, Salimiyyah, Karramiyyah, Syi’ah dll.
Dari sini, jelaslah bagi kita bahwa sikap mengedepankan akal atas dalil sam’i baik dari Al-Qur`an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam permasalahan semacam ini tidak bisa dibenarkan, bahkan sangat berbahaya. Asy-Syahrastani berkata: “Ketahuilah, bahwasanya syubhat pertama yang menimpa makhluk adalah syubhat iblis -la’natullah-. Pemicunya adalah mengedepankan akal daripada nash, dan mengekor hawa nafsu untuk menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kesombongannya terhadap bahan yang Allah ciptakan darinya (yakni api) atas bahan yang Allah ciptakan darinya Adam ‘alaihissalam (tanah liat).” (Al-Milal wan Nihal, hal. 14)
Bahkan perumpaan akal yang ‘didewakan’ itu; “Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatangi ‘air itu’, dia tidak mendapatinya sedikit pun Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau laksana kegelapan yang gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, dan di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 39 dan 40)
Hal ini sebagaimana pengakuan Abu Abdillah Ar-Razi, salah seorang tokoh mereka (Mu’tazilah):
Kesudahan mengedepankan akal adalah belenggu.4
Dan kebanyakan upaya (hasil pemikiran) para intelek itu adalah kesesatan
Ruh-ruh kami terasa amat liar di dalam tubuh-tubuh kami
Dan hasil dari kehidupan dunia kami adalah gangguan dan siksaan (batin)
Tidaklah didapat dari penelitian yang kami lakukan sepanjang masa
Melainkan kumpulan statemen-statemen (yang tak menentu)
Aku (Ar-Razi) telah memperhatikan dengan seksama berbagai seluk-beluk ilmu kalam dan metodologi filsafat, maka kulihat semua itu tidaklah dapat menyembuhkan orang yang sakit dan tidak pula memuaskan orang yang dahaga, dan (ternyata) metode yang paling tepat adalah metode Al-Qur`an.” (Lihat Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 1/160)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Engkau akan mendapati kebanyakan para intelek di bidang ilmu kalam, filsafat dan bahkan tasawuf, yang tidak mengindahkan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai orang-orang yang bingung. Sebagaimana yang dikatakan Asy Syahrastani:
“Sungguh aku telah keliling ke ma’had-ma’had (filsafat) tersebut
Dan seluruh pandanganku tertuju kepada mercusuar-mercusuarnya
Namun, tak kulihat padanya kecuali orang yang bingung sambil bertopang dagu
Dan orang yang menyesal sambil menggemertakkan giginya.”
(Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, 1/159)

Sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah Terhadap Alam Ghaib

Para pembaca, Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Agama sempurna dan penyempurna bagi ajaran para Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama yang telah memadukan antara konsep keilmuan yang benar dengan konsep keimanan yang lurus. Keilmuan yang berasaskan keimanan, dan keimanan yang ditunjang oleh keilmuan.
Adapun keilmuan semata tanpa mempedulikan norma-norma keimanan, maka kesudahannya adalah kebinasaan, sebagaimana halnya orang-orang Yahudi dan yang sejenisnya. Demikian pula keimanan (termasuk di dalamnya amalan) semata tanpa mempedulikan keilmuan, kesudahannya adalah kesesatan, sebagaimana halnya orang-orang Nashrani dan yang sejenisnya. Perpaduan antara dua konsep inilah yang menjadikan Islam sebagai agama wasathan (adil dan pilihan) dan bersih dari segala bentuk sikap berlebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu, di antara para imam penulis kitab hadits yang menggunakan metode penyusunan berdasarkan babnya, ada yang memulai penyusunannya dengan (menyebutkan hadits-hadits tentang) pokok keilmuan dan keimanan. Sebagaimana yang dilakukan Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang mana beliau memulainya dengan Kitab Bad`il Wahyi (awal mula turunnya wahyu); yang merinci tentang kondisi turunnya ilmu dan iman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengiringinya dengan Kitabul Iman yang merupakan asas keyakinan terhadap apa yang dibawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah itu diiringi dengan Kitabul Ilmi yang merupakan perangkat untuk mengenal apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikianlah tertib penyusunan yang hakiki. Begitu pula Al-Imam Abu Muhammad Ad-Darimi…” (Majmu’ Fatawa 2/4)
Para pembaca, alam ghaib ibarat alam yang gelap gulita, sedangkan Al-Qur`an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ibarat dua cahaya yang terang benderang. Dengan dua cahaya itulah berbagai peristiwa dan kejadian di alam ghaib tersebut menjadi jelas dan terang. Atas dasar itulah, setiap pribadi muslim wajib untuk mengembalikannya kepada firman Allah (Al-Qur`an) dan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Al-Hadits).
Bila demikian, berarti semua perkara ghaib haruslah ditimbang dengan timbangan Islam yaitu; Al-Qur`an dan Al-Hadits dengan pemahaman para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika perkara ghaib (baca: yang dianggap ghaib) ternyata tidak ada keterangannya di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka keberadaannya tidak boleh diimani dan diyakini. Dan jika perkara ghaib tersebut diterangkan di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, baik berkaitan dengan peristiwa-peristiwa di masa lampau maupun di masa datang, serta berbagai keadaan di akhirat dll, maka keberadaannya harus diimani dan diyakini, walaupun pandangan mata dan akal kita tidak menjangkaunya.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata: “Iman kepada perkara ghaib ini mencakup keimanan kepada semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan dari peristiwa-peristiwa ghaib di masa lampau dan di masa yang akan datang, berbagai keadaan di hari kiamat, dan tentang hakekat sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Taisir Al Karimirrahman hal. 24)
Beriman dengan (adanya) perkara ghaib yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa. Sedangkan tidak beriman dengan perkara ghaib tersebut merupakan ciri orang kafir atau ahli bid’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada perkara ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Al-Baqarah: 1-3)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Hakekat iman adalah keyakinan yang sempurna terhadap semua yang diberitakan para Rasul, yang mencakup ketundukan anggota tubuh kepadanya. Iman yang dimaksud di sini bukanlah yang berkaitan dengan perkara yang bisa dijangkau panca indra, karena dalam perkara yang seperti ini tidak berbeda antara muslim dengan kafir. Akan tetapi permasalahannya berkaitan dengan perkara ghaib yang tidak bisa kita lihat dan saksikan (saat ini). Kita mengimaninya, karena (adanya) berita yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah keimanan yang membedakan antara muslim dengan kafir, yang mengandung kemurnian iman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, seorang mukmin (wajib) mengimani semua yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya baik yang dapat disaksikan oleh panca inderanya maupun yang tidak dapat disaksikannya. Baik yang dapat dijangkau oleh akal dan nalarnya maupun yang tidak dapat dijangkaunya.
Hal ini berbeda dengan kaum zanadiqah (yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, -pen.) dan para pendusta perkara ghaib (yang telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dikarenakan akalnya yang bodoh lagi dangkal serta jangkauan ilmunya yang pendek, akhirnya mereka dustakan segala apa yang tidak diketahuinya. Maka rusaklah akal-akal (pemikiran) mereka itu, dan bersihlah akal-akal (pemikiran) kaum mukminin yang selalu berpegang dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 23)
Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu berkata: “(Setiap muslim, -pen.) wajib beriman kepada semua yang diberitakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dinukil secara shahih dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik perkara tersebut dapat dilihat mata maupun yang bersifat ghaib. Kita mengetahui (baca; meyakini) bahwa semua itu benar, baik yang dapat dijangkau akal maupun yang tidak bisa dijangkau dan tidak dimengerti hakekat maknanya.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 101)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Berbagai macam berita yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka benar keberadaannya dan wajib dipercayai, baik dapat dirasakan oleh panca indera kita maupun yang bersifat ghaib, baik yang dapat dijangkau oleh akal kita maupun yang tidak.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 101)
Demikianlah manhaj (prinsip) yang benar di dalam menyikapi alam ghaib dan berbagai peristiwanya. Siapa saja yang berprinsip dengannya, maka dia beruntung dan berada di atas jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَالَّذِيْنَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوْحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيْمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُوْرًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صِرَاطِ اللهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ أَلاَ إِلَى اللهِ تَصِيْرُ اْلأُمُوْرُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apakah iman, tetapi Kami menjadikan Al Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa hanya kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Asy-Syura: 52-53)

Penutup

Para pembaca, dari bahasan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa:
1. Setiap muslim wajib beriman dengan (adanya) alam ghaib dan semua peristiwanya yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Baik yang dapat dijangkau oleh akal dan panca indra maupun yang tidak.
2. Mengedepankan akal dalam permasalahan semacam ini merupakan pangkal kesesatan.
3. Setiap muslim wajib memahami berita yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tentang alam ghaib dan peristiwanya, dengan pemahaman para shahabat Rasulullah (as-salafush shalih), karena ia merupakan jalan yang lurus. Dan tidak dengan pemahaman ahli kalam, filsafat, atheis sufi, dan bahkan atheis dahriyyah yang menyesatkan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
________________________________________________________________________________________________
1 Kondisinya, setiap satu berita yang benar diiringi dengan seratus berita dusta. Sebagaimana hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 3210, 3288, 5762, 6213, 7561 dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2228.
2 Sebagaimana diterangkan dalam catatan kaki no. 1, hal. 5
3 Diringkas dari Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 5/3-4, 6/3-4, dan 1/8-13.
4 Yakni tidak menemukan solusi dari masalah yang dibahasnya.

tata cara sholat Hajat

“Barangsiapa yang memunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah atau salah seorang manusia dari anak cucu adam, maka wudhulah dengan sebaik-baik wudhu. Kemudian sholat dua rakaat (sholat Hajat), lalu memuji kepada Allah, mengucapkan salawat kepada Nabi saw. Setelah itu, mengucapkan “Laa illaha illallahul haliimul kariimu, subhaanallahi….” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Salah satu sholat sunnah adalah sholat Hajat. Sholat Hajat adalah sholat sunnah yang dilakukan karena adanya suatu hajat, keinginan atau keperluan tertentu, baik keperluan yang berhubungan dengan duniawi ataupun ukhrawi. Sholat adalah doa. Ketika seseorang ingin keinginannya dikabulkan oleh Allah swt, maka ia sholat dan berdoa. Sholat Hajat adalah sholat sunnah yang lebih dikhususkan untuk memohon kepada Allah swt agar dikabulkan segala hajat. Allah swt berfirman, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat.” (QS. Al Baqarah:45)

Dalam menyempurnakan ikhtiar yang dimaksudkan untuk mencapai suatu keinginan, Insya Allah dengan melakukan sholat Hajat Allah akan mengabulkan doa dan keinginan tersebut. Doa, usaha, ikhtiar, dan tawakal adalah kewajiban umat muslim dalam menyikapi banyaknya tuntutan hidup di dunia. Dalam surat Al Baqarah:45 di atas, selain sholat kita diperintahkan juga untuk sabar. Oleh karena itu, sholat Hajat dan memohon kepada Allah dapat kita lakukan setiap hari dengan khusyuk serta tanpa rasa bosan bila keinginan itu belum dikabulkan. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang berwudhu dan sempurna wudhunya, kemudian sholat dua rakaat (Sholat Hajat) dan sempurna rakaatnya maka Allah berikan apa yang ia pinta cepat atau lambat.” (HR Ahmad)

Waktu sholat Hajat tidak tertentu, namun tidak diperbolehkan mengerjakan sholat Hajat pada waktu yang dilarang seperti setelah sholat Ashar dan setelah sholat Subuh. Sholat Hajat dilakukan sendiri, tidak berjamaah. Banyaknya rakaat dalam sholat Hajat yaitu minimal dua rakaat dan maksimal sebanyak dua belas rakaat. Dalam pelaksanaanya, jika dikerjakan pada malam hari maka setiap dua rakaat sekali salam dan jika dilaksanakan pada siang hari maka boleh empat rakaat dengan sekali salam dan seterusnya.
Berikut ini tata cara sholat Hajat:
  • Niat sholat Hajat di dalam hati: Ushollii sunnatal haajati rok’aataini lillaahi ta’aala (“aku niat sholat sunah hajat karena Allah”). Lalu Takbiratul Ihram.
  • Membaca doa Iftitah, dilanjutkan dengan surat Al Fatihah kemudian membaca salah satu surat di dalam Al Quran.
  • Ruku’ sambil membaca Tasbih tiga kali
  • I’tidal sambil membaca bacaannya
  • Sujud yang pertama sambil membaca Tasbih tiga kali
  • Duduk antara dua sujud sambil membaca bacaannya
  • Sujud yang kedua sambil membaca Tasbih tiga kali
  • Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir, setelah selesai maka membaca salam dua kali. Jika dilaksakan sebanyak empat rakaat dengan satu salam maka setelah dua rakaat langsung berdiri tanpa memakai Tasyahhud awal, kemudian lanjutkan rakaat ketiga dan keempat, lalu Tasyhhud akhir setelah selesai membaca salam dua kali.
  • Setelah selesai sholat Hajat bacalah dzikir yang mudah dan berdoa sampaikan hajat yang kita inginkan kemudian mohon petunjuk kepada Allah agar tecapai segala hajatnya.
Doa setelah sholat hajat:
“Laa ilaaha illallahul haliimul kariimu subhaaanallahi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. As ‘aluka muujibaari rahmatika wa ‘azaaima maghfiratika wal ghaniimata ming kulli birri wassalaamata min kulli itsmin. Laa tada’ lii dzamban illa ghafartahu walaa hamman illaa farajtahu walaa haajatan hiya laka ridhan illa qodhaitahaa yaa arhamar raahimiin.”

Artinya:

“Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang”.