Doa Syukur Nikmat



اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“ Yaa Allah..Bantulah hamba untuk (senantiasa ) mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta memperbaiki (kualitas) ibadahku kepada-Mu.”
Doa ini Rasul wasiatkan kepada Muadz bin Jabbal agar senantiasa dibaca setelah shalat. (HR. Abu Dawud, dengan sanad shahih –riyadhusshalilhin, hal 488)

RAHASIA DIBALlK SHALAT DAN GERAKAN DIDALAMNYA

"Sungguh berbahagialah orang-orang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS Al Mu’minun : 1 - 2)
Adalah ibadah shalat yang secara khusus yang perintahnya melalui sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yang dikenal dengan "ISRA’ Mi’ RAJ yang kisahnya sebagian dilukiskan dalam QS Al Isra’ ayat 1. Berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain. Perintah shalat terjadi tanpa diutusnya Malaikat Jibril turun ke bumi melainkan Nabi Muhammad SAW sendiri hadir bertemu di ArsyNya Allah SWT.dzat yang sedang disembah.
Sebegitu pentingnya shalat ini sampai Allah memberikan manfaat lebih di banding ibadah-ibadah lain, baik dari segi kejiwaan maupun dari segi fisik, apabila shalat itu dilakukan dengan sempurna.
Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam masjid Nabawi, Madinah. Setelah menunaikan shalat berjamaah bersama para sahabat, beliau berdialog dengan para sahabat. Tiba-tiba da-tanglah seorang pria yang kemudian melaksana-kan shalat dengan cepat.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucap salam. Rasul berkata kepada pria itu "sahabatku engkau tadi belum shalat." Betapa kagetnya orang itu men-dengar perkataan Rasulullah SAW tersenyum melihat "gaya" shalat seperti itu. Setelah selesai shalat lagi-lagi Rasulullah SAW berkata pada lelaki itu, "tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat". Dan hal itu berulang sampai tiga kali. Karena bingung iapun berkata kepada Rasul "Wahai Rasulullah SAW, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu ajari aku!"
Shalat yang Tenang dan Khusyuk
Kisah Mahmud bin Rabi’ Al Anshari yang diriwayatkan Imam Al Bukhari dalam Shahihnya ini memberi gambaran bahwa shalat itu tidak cukup sekedar "benar" gerakannya saja, tetapi juga harus dilakukan dengan Tuma’ninah (tenang dan khusyuk). Dengan kata lain, shalat melibatkan dua aspek dalam diri manusia, yaitu aspek jasmani, yang ditampilkan dalam gerakan tubuh dan aspek rohani berupa hadirnya kekhusyuan hati dan terfokusnya pikiran kepada Allah,
Kekhusyuan rohani akan lebih sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk. Dalam arti dilakukan secara cepat dan terburu-buru. Sebab dengan terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh tidak sempurna dan jalinan komunikasi dengan Allah menjadi kurang optimal. Bila hal ini dilakukan terus menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar akan kehilangan makna. Karena itu, sangat beralasan bila Ra-sulullah SAW menganggap "tidak shalat" orang yang melakukan shalat dengan cepat (tidak thuma’ninah).
Maka dari itu shalat harus dilakukan dengan adanya intensitas atau konsentrasi yang lazimnya disebut dalam istilah agama "KHUSYUK". Dalam Al Qur’an surah Al Mu’minun ayat 1 berbunyi Khosyi’un yang artinya menyatukan pikiran dengan perasaan atau kerja jiwa serempak bersama dengan gerakan tubuh dan lisan (bacaan) tiap-tiap sikap dalam shalat seperti berdiri, mengangkat tangan sejajar dengan bahu atau telinga, ruku, sujud, duduk. Sehingga pikiran dan perasaan bisa menemukan satu titi. Artinya jiwa itu akan selalu mengingat Allah selama dalam shalat khususnya, maupun diluar shalat akan menggema nilai-nilai shalat itu sendiri. Kehadiran Allah SWT akan betul-betul dirasakan dalam shalat.
Hikmah Gerakan Shalat
Sebelum menyentuh makna bacaan shalat yang luar biasa, termasuk aspek "olah rohani" yang dapat melahirkan ketenangan jiwa. Secara gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW syarat akan hikmah dan bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerakan tersebut dilakukan dengan benar, thuma’ninah serta istiqamah (terus-menerus).
Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat (Qultum Media, 2005). Madyo Wratsongko mengung-kapkan bahwa gerakan shalat dapat melenturkan urat saraf, mengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh. Membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung).
Sehingga analisa kebenaran Rasulullah SAW dalam kisah diatas pendahuluan tadi "jika engkau berdiri untuk melakukan shalat, maka bertak-birlah". Saat takbiratul ikhram, Nabi Muhammad SAW mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu (H.R. Bukhari). Di hadits lain sejajar dengan telinga. Gerakan takbir (takbiratul ikhram) ini dilakukan selanjutnya ketika rukuk dan ketika bangkit dari rukuk, apa maknanya? Maka kita otomatis dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirakan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan membuka telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.
"Rukuklah dengan tenang" (thuma’ninah). Ketika ruku, Rasulullah SAW, meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (H.R. Bukhari dari Sa’adib nu Abi Waqas). Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai saraf sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk juga dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringat yang terdapat punggung, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran saraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata menghadap ketempat sujud.
"Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak" apa maknanya? saat kita berdiri dari rukuk dengan mengangkat kedua tangan (i’tidal) darah dari kepala akan turun kebawah, sehingga pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanannya.
"Selepas itu sujudlah dengan tenang" apa maknanya? Bila dilaksanakan dengan benar dan lama. Sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk ke mata, telinga, leher dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darahdi jantung, sehingga dapat meminimalisir resiko jantung koroner.
"Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang". Apa maknanya? Cara duduk diantara dua sujud dapat menyeimbangkan ubuh kita. Selain itu, juga dapat menjaga kelenturan saraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis sampai jari-jari kaki.
Akhirnya marilah kita contoh seoptimal mungkin perilaku abi Muhammad SAW, termasuk cara shalatnya insya Allah pasti membawa kebaikan

Rahasia Gerakan Shalat

Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah.Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untukbersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorangpria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkansalam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belumshalat!"Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia punkembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnyaia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyummelihat "gaya" shalat seperti itu.Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangiRasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu,"Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat."Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalatsesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintahRasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.Namun seperti "biasanya", Rasulullah SAW menyuruh orang itu mengulangishalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, "Wahai Rasulullah,demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisamelaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku!""Sahabatku," kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, "Jika engkauberdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalahAl-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah.Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma'ninah), lalu bangunlah hinggaengkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudianbangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itupada setiap shalatmu."Kisah dari Mahmud bin Rabi' Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukharidalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukupsekadar "benar" gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengantumaninah, tenang, dan khusyuk.Kekhusukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk.Dalam arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, denganterlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tatagerak tubuh menjadi tidak sempurna, dan jalinan komunikasi denganAllah menjadi kurang optimal. Bila hal ini dilakukan terus menerus,maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar akankehilangan makna. Karena itu, sangat beralasan bila Rasulullah SAWmengganggap "tidak shalat" orang yang melakukan shalat dengan cepat(tidak tumaninah).Hikmah gerakan shalatSebelum menyentuh makna bacaan shalat yang luar biasa, termasuk jugaaspek "olah rohani" yang dapat melahirkan ketenangan jiwa, atau"jalinan komunikasi" antara hamba dengan Tuhannya, secara fisik shalatpun mengandung banyak keajaiban.Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW sarat akanhikmah dan bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerak tersebutdilakukan dengan benar, tumaninah serta istikamah (konsistendilakukan).Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat, Madyo Wratsongko MBA.mengungkapkan bahwa gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf danmengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh. Selain itu jugamembuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan muatan listrik negatifdari tubuh, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkantekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh(arteri jantung).Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah diawal. "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, makabertakbirlah."Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hinggasejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar).Takbir ini dilakukan ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit darirukuk.Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa maknanya? Padasaat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membukadada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat dilengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh,membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga."Rukuklah dengan tenang (tumaninah)." Ketika rukuk, Rasulullah SAWmeletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Sa'adbin Abi Waqqash). Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang danmaksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsumtulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta alirandarahnya. Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringatyang terdapat di pungggung, pinggang, paha dan betis belakang.Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapatterjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapatdijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata mengharapke tempat sujud."Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak." Apa maknanya? Saatberdiri dari dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun kebawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbanganberkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangantubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba."Selepas itu, sujudlah dengan tenang." Apa maknanya? Bila dilakukandengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah danoksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher,dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkarsumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantungkoroner dapat diminimalisasi."Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang." Apa maknanya?Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrikserta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturansyaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampaijari-jari kaki. Subhanallah!Masih ada gerakan-gerakan shalat lainnya yang pasti memiliki segudangkeutamaan, termasuk keutamaan wudhu. Semua ini memperlihatkan bahwashalat adalah anugerah terindah dari Allah bagi hamba beriman.Wallaahu a'lam.

Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belum shalat!"Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat "gaya" shalat seperti itu. Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, "Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat." Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama. Namun seperti "biasanya", Rasulullah SAW menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku! “Sahabatku," kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma'ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu."
Kisah dari Mahmud bin Rabi' Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar "benar" gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tu’maninah, tenang, dan khusyuk.
Adapun hikmah gerakan shalat, antara lain adalah :
Dalam buku “Mukjizat Gerakan Shalat” (oleh Madyo Wratsongko MBA). mengungkapkan bahwa gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf dan mengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh. Selain itu juga membuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan muatan listrik negatif dari tubuh, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung).
Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah di awal. "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah."
Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar). Takbir ini dilakukan ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk. Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa maknanya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.
Ketika ruku’, Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Sa'ad bin Abi Waqqash). Apa maknanya? Ruku’ yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringat yang terdapat di pungggung, pinggang, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapat terjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata mengharap ke tempat sujud.
"Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak." Apa maknanya? Saat berdiri dari dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba.
"Selepas itu, sujudlah dengan tenang." Apa maknanya? Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi.
"Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang." Apa maknanya? Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrik serta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturan syaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki. Subhanallah!
Demikianlah antara lain makna dari gerakan sholat kita, terutama ditinjau dari sisi kesehatan. Masih banyak hikmah lain dari sholat yang diungkapkan oleh para ulama kita, baik tinjauan dari sudut aqidah, ibadah, psikologi, sosiologi, dan lain-lain. Anda bisa membecanya dalam berbagai buku tentang hikmah sholat. Yang jelas, sholat merupakan anugerah ibadah terindah dan luar biasa dari Allah SWT. Wallahu’alam bis showab.


1. Apa arti sholat ?
Shalat secara bahasa adalah Doa dengan kebaikan
secara Syar;an adalah : Ucapan ucapan, gerakan gerakan tertentu yg diawali dengan Takbiratul ihram dan diakhiri dg salam. Mengenai gerakan gerakannya merupakan rukun shalat, bersandarkan pd Hadist hadits Shahih.

2. Apa arti dan maksud dari gerakan dalam sholat itu sendiri mohon dijelaskan satu persatu seperti gerakan :

* Takbiratul ihram
Takbiratul Ihram berasal dari dua kata : Takbir (ucapan Allahu Akbar) dan Ihram (pengharaman), ketika dua kalimat ini digabung maka bermakna : Ucapan takbir yg memulai pengharaman dari melakukan hal hal yg dilarang dalam shalat. Seperti makan, minum, berbicara kpd selain Allah dan Rasul saw dan hal hal yg diajarkan Rasul saw sebagai mubthilat (yg membatalkan) shalat.

* Bersedekap
Sedekap ini bukan merupakan rukun shalat, bila tak dikerjakan tak membatalkan shalat, yg merupakan rukun adalah berdiri dalam shalat wajib bagi yg mampu dan membaca Fatihah padanya.

* Ruku
Ruku secara bahasa adalah menunduk
Secara Syar;an adalah menundukkan badan hingga kedua telapak tanganna meraih/bersandar pada kedua lututnya, dan bahwa Ruku;nya Rasul saw itu tepat dalam posisi 90 derajat, hingga andai ditaruh sebuah gelas dipunggungnya niscaya tak tumpah, menunjukkan lurusnya posisi punggung beliau dalam 90 derajat

* I'tidal
Secara bahasa adalah tegak lurus
Secara syar?an adalah tegak berdiri kembali ke posisi semula sebelum ruku;nya.

* Sujud
Secara bahasa adalah merendahkan diri serendah rendahnya
Secara syar;an adalah meletakkan 7 anggota sujudnya pada bumi tempat ia melakukan shalat, yaitu kedua telapak tangan, kedua lutut, kedua kaki, dan Dahinya, dengan mengangkat belakang tubuhnya lebih tinggi dari posisi dahinya, melambangkan kerendahan yg serendah rendahnya atas dahi.

* Duduk di antara dua sujud
Duduk antara dua sujud secara bahasa adalah duduk sebagaimana yg kita fahami, dan secara syar?an pun demikian, duduk dalam posisi apapun yg disebut duduk tetap sah shalatnya, misalnya bersila, tetap sah shalatnya, dan sunnah adalah duduk dengan Iftirash dengan menegakkan telapak kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri sebagaimana kita lihat orng yg melakukan duduk dalam shalat.

* Tahiyatul
Tahiyyah secara bahasa adalah kemuliaan, secara syar?an adalah Salam kepada Allah, sebagaimana para sahabat mengucapkan salam pada Rasul saw, salam pd sesama muslim, merekapun mengucapkan salam kepada Allah, maka Rasul saw bersabda : ?Jangan ucapkan salam pd Allah, karena Allah adalah Assalaam, tapi ucapkanlah Attahiyyatu lillah; (Syarh Baijuri Bab Shalat)

Tasyahhud, secara bahasa adalah mengucapkan syahadat, secara syar;an adalah terbagi dua, Tasyahhud awwal dan Tasyahhud Akhir, tasyahhud awal adalah duduk setelah sujud kedua pd rakaat kedua, lalu membaca doa tasyahhud awal sebagaimana dijalankan oleh muslimin dan yg itu semua telah diajarkan oleh Rasul saw, demikian pula Tsyahhud Akhir, yaitu ucapan yg merupakan percakapan antara Allah dan Rasul saw di malam Mi'raj beliau, sebagaimana Rasul saw menceritakannya : aku bersujud dan berucap : ?Attahiyyatulmuba?dst.? Lalu Allah menjawab Assalaamu alaikua Ayyuhannabiyy.., lalu aku menjawab : Assalaamu alaina.., maka percakapan ini dijadikan kewajiban utk selalu diucapkan oleh setiap ummatnya, karena saat itu lah diwajibkannya shalat, maka shalat menyimpan rahasia kemuliaan Mi;raj beliau saw kepada Allah swt.

* Menunjukkan jari ketika sedang tahiyat
Merupakan Ittiba; lirrasul saw (berpanut pd perbuatan Rasul saw)

* Salam
Salam adalah ucapan dari rukun shalat yg terakhir dg niat selesai dari shalat, ucapan salam yg pertama merupakan rukun shalat, dan salam yg kedua adalah sunnah, mengenai kpd siapa ucapan tersebut memang banyak khilaf, namun bukan itu daripada tujuan utama mengucapkan salam, karena tujuan utama dari salam dan seluruh gerakan shalat adalah Ittiba; lirrasul saw dengan landasan perintah Allah swt dengan puluhan ayat pd Al Qur;anulkarim yg memerintahkan kita taat kepada Rasul saw, dan mengikuti perintah beliau saw

4. Apakah ada dalil mengenai gerakan SHOLAT ?
Dalil mengenai gerakan shalat dapat anda rujuk ratusan hadits pada Shahih Bukhari, Muslim dan seluruh buku buku Hadits Bab Shalat, bagaimana dijelaskan sujud beliau saw, ruku beliau saw, perintah beliau untuk meratakan shaf, mengeraskan suara pada bacaan fatihah dan surat di shalat magrib, isya dan subuh, dan seluruh rukun shalat berlandaskan hadits shahih.

5. apakah suatu keharusan salam harus menengok kanan kiri
menengok ke kanan dan kiri hukumnya sunnah dan merupakan Ittiba birrasul saw (Syarh Busyralkariim Bab Sunanusshalat hal 183)

mengenai hikmah dari setiap gerakan gerakan shalat saya tak mungkin menuliskannya disini mengingat waktu yg sempit, namun satu hal yg harus kita pegang adalah setiap gerakan shalat, juga haji, puasa, zakat dlsb mengandung hikmah hikmah luhur, namun bukan kewajiban kita untuk mengetahuinya, namun kewajiban kita adalah mengamalkannya, karena kita akan terjebak oleh hukum akal bila selalu menghendaki jawaban dari maksud setiap Ajaran Rasul saw, ya bila kita menemukan jawabannya, bila tidak?, apakah lalu kita menolak mengamalkannya?, maka dengan itu kita menyembah akal karena hanya taat pd hal yg diterima akal.

Pertanyaan : "mengapa", merupakan pertanyaan berbahaya bila terlalu mendalam, karena puncaknya akan menjurus pd Allah swt dan syak wasangka pd Allah swt, mengapa Allah memerintahkan ini dan itu?, mengapa tidak seperti ini?,

maka tanpa kita sadari kita terjebak pemahaman untuk merubah diri kita sebagai Pencipta, dan Allah menjadi Hamba, karena kita ingin Allah taat pada keinginan kita, dan berbuat menurut kehendak kita, dan agar tidak berbuat terkecuali hal yg kita fahami, dan membatasi kehendak Nya untuk berbuat dengan hal yg bertentangan dengan akal kita.

Wallahu alam

sumber :

 Syarh Busyralkariim Imam As Syeikh Abdullah Abdurrahman Ba Fadhl
 Syarh Imam Baijuri
 Yaqutunnafiis ala madzhab Ibn Idris As Syafii
 Bulughul Maraam Al Imam Ibn Hajar

Wudhu


“Sungguh umatku kelak akan datang pada hari kiamat dalam keadaan (muka dan kedua tangannya) kemilau bercahaya karena bekas wudhu. Karenanya, barangsiapa dari kalian yang mampu memperbanyak kemilau cahayanya, hendaklah dia melakukannya (dengan memperlebar basuhan wudhunya)” (HR. Bukhari Muslim)
Pahala Dari Tetesan Air Wudhu

“Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa kalian dan meninggikan derajat kalian? Para sahabat menjawab : Mau, ya Rasulullah. Kemudian beliau pun berkata : “Yaitu dengan menyempurnakan wudhu’ dari hal-hal yang bersifat makruh, banyak melangkah menuju masjid dan menunggu waktu shalat setelah shalat (tahiyatul masjid). Yang demikian itu adalah ikatan (perjanjian).” (HR.Muslim)

“Barangsiapa wudhu dengana sempurna, maka dosa-dosanya akan gugur dari jasadnya hingga keluar juga dari bawah kukunya.” (HR. Muslim)

Aku pernah mendengar kekasihku Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Kemilau cahaya seorang mukmin (kelak pada hari kiamat) sesuai dengan batas basuhan wudhunya.” (HR. Muslim)

Untaian Mutiara

Jangan tinggalkan bakti pada orang tua, ketahuilah Pada keluarga kecil
ada yang terkecil Raihlah orang yang di sebelah kanannya bakal kau pegang tangan kanan
Engkau lihat yang kiri di sebelahnya Engkau raih tangan kirinya.
Bila engkau sesaat bersama kami tidaklah engkau bersama kami
Engkau saksikan ketika pamit berpisah
Engkau yakin di antara tetesan air mata penuh ungkapan kata kata
Engkau pun tahu di antara kata kata pun penuh air mata
Bila musim memberimu dengan kesedihan
Katakanlah, dengan penghinaan yang menakutinya
Sejenak akan tampak maunya
Dan selesai setiap urusannya
Allah meminumkan pada waktu ketika aku menyepi dari wajahmu
Sedang sirnanya cinta di taman sukaria tertawa
Kami menghuni masa
Sedang mata terasa sejuk
Suatu hari jadilah ciumanmu
pelupuknya.

Bila keadaan keadaan jiwa menolongmu
Intailah akan sirnanya
Itu pun tak lebih dari missal pengalaman yang diberikan
Bila ucapan ucapan busuk menuju padamu
Maka, busungkan luasnya dada yang tercambuk
Dan, bersabarlah.

Tasawuf


Wahai Dzat Yang membuat syukurku menjadi pendek dari kekokohan-Nya, Setiap bibir kelu bila menjunjung keluhuran-Nya Sedang kemurahan-Nya, Tunggal tiada serupa Melampaui waktu, yang berlalu maupun yang akan tiba
Tiada abad yang meninggalkan-Nya
Tiada paksa yang menyentuh Nya
Tiada singkap yang menampakkan Nya
Tiada tirai yang menyembunyikan-Nya
Tiada jumlah yang mengumpulkan-Nya
Tiada kontra yang menghalangi Nya
Tiada batas yang memotong Nya
Tiada tetes yang melimpahi Nya
Tiada jagad yang membatasi Nya Tiada mata yang memandang Nya Dan tiada dalam angan yang dilihat untuk menyamai Nya Keagungan Nya Azali Tiada sirna Kerajaan Nya abadi Tak satu pun dibutuhkan Nya.

TIGA NASEHAT RASULULLAH SAW

 Rasulullah SAW pernah memberikan tiga buah nasehat kepada kedua sehabatnya Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman bin Jabal:


“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.” (HR. Tirmidzi)

Tiga pesan Rasulullah SAW tersebut layak untuk kita perhatikan karena sangat berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari.

1- BERTAQWA DIMANA SAJA

Definisi dari kata taqwa dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Umar dan Ubay bin Ka’ab RA. Suatu ketika sahabat Umar RA bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab; “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah taqwa!”

Sedang menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri atau halangan dalam kehidupan.

Kalau ada suatu iklan minuman ringan: “Dimana saja dan kapan saja …”, maka nasehat Nabi SAW ini menunjukkan bahwa kita harus bertaqwa dimana saja. Sedang perintah taqwa kapan saja terdapat dalam Al-Qur'an surat Ali ‘Imran [3]: 102:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”

Jadi dimanapun dan kapanpun kita harus menjaga ketaqwaan kita. Taqwa dimana saja memang sulit untuk dilakukan dan harus usaha yang dilakukan harus ekstra keras. Akan sangat mudah ketaqwaan itu diraih ketika kita bersama orang lain, tetapi bila tidak ada orang lain maka maksiyat dapat dilaksanakan. Sebagai contoh, ketika kita berkumpul di dalam suatu pengajian atau majelis zikir, pikiran dan pandangan kita akan terjaga dengan baik. Tetapi ketika kita berjalan sendirian di suatu tempat perbelanjaan, maka pikiran dan pandangan kita bisa tidak terjaga. Untuk menjaga ketaqwaan kita dimanapun saja, maka perlunya kita menyadari akan pengawasan Allah SWT baik secara langsung maupun melalui malaikat-Nya.

2 KEBAIKAN YANG MENGHAPUSKAN KESALAHAN

Setiap orang selalu melakukan kesalahan. Hari ini mungkin kita sudah melakukan kesalahan baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Oleh sebab itu, segera setelah kita berbuat kesalahan, lakukan kebaikan. Kebaikan tersebut dapat menghapuskan kesalahan yang telah dilakukan.

Untuk dosa yang merugikan diri sendiri, maka salah satu cara untuk menghapusnya adalah dengan bersedekah. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api”. Maka ada orang yang ketika dia sakit maka dia memberikan sedekah agar penyakitnya segera sembuh. Hal ini dikarenakan segala penyakit yang kita miliki itu adalah karena kesalahan yang kita pernah lakukan.

Sedang dosa yang dilakukan terhadap orang lain, maka yang perlu dilakukan adalah memohon maaf, yang bagi beberapa orang, sangat sulit untuk dilakukan. Padahal Rasulullah SAW selalu minta maaf ketika bersalah bahkan terhadap Ibnu Ummi Maktum beliau memeluknya dengan hangat seraya berkata: “Inilah orangnya, yang membuat aku ditegur oleh Allah… (QS. ‘Abasa)”. Setelah minta maaf kemudian sebaiknya bawalah sesuatu hadiah atau makanan kepada orang tersebut agar dia senang, maka kesalahan tersebut Insya Allah akan lebih cepat dihapuskan.

3- AKHLAQ YANG TERPUJI

Akhlaq terpuji adalah keharusan dari setiap muslim. Tidak memiliki akhlaq tersebut akan dapat mendekatkan seseorang dalam siksaan api neraka. Dari beberapa jenis akhlaq kita terhadap orang lain, yang perlu diperhatikan adalah akhlaq terhadap tetangga.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Syuraih RA, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya: “Siapa itu Ya Rasulullah?” Jawab Nabi: “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut, peringatan Rasul sangat keras sampai diulangi tiga kali yaitu tidak termasuk golongan orang beriman bagi tetangganya yang tidak aman dari gangguannya. Maka terkadang kita perlu instropeksi dengan menanyakan kepada tetangga apakah kita mengganggu mereka.