MEMBACA SURAT DALAM SHALAT

Apabila telah selesai dari berta’mien, maka hendaklah kita berdiam diri kadar senafas, sambil membaca Bismillah yang disiirkan. Sesudah itu, bacalah suatu surat dari surat-surat Al-Qur’an. Dalilnya Firman Allah SWT mengatakan:
FAQRA-UW MA TAYASSARA MINHU
Maka bacalah apa yang mudah (bagimu dari Al-Qur’an). (Q.S Al-Muzzammil: 20)

Kemudian dalil hadits yang di ketengahkan oleh Imam Ahmad dari Imam Ibnu Hibban, yaitu:
TSUMMAQRA’ BI UMIIL QUR’ANI WAMA SYI’TA
“Kemudian bacalah ummul Qur’an dan ayat-ayat Al-Qur’an yang engkau sukai”
Surat itu di baca di tiap-tiap rakaat yang pertama dan yang kedua dari tiap-tiap shalat. Pembacaan surat itu dijaharkan di setiap shalat jahar dan disiirkan di setiap shalat sir.
Hendaklah surat-surat itu di baca dengan tertib dan tartil. Dan berhenti (Waqaf) di tiap-tiap ayat, atau di tempat-tempat yang di pandang baik berhenti pada tempat itu.

Petunjuk Rasul SAW:
A.Tentang hal memanjangkan atau memendekkan surat-surat yang di baca dan keadaan membacanya:
1). Rasulullah SAW terkadang membaca surat yang panjang, terkadang yang sederhana dan adakalanya yang pendek, Apabila di kehendaki oleh keadaan.
2). Rasulullah SAW senantiasa membaca surat dari awalnya, tidak pernah beliau memulai pembacaan di pertengahan surat atau di akhirnya.
Hanya terkadang-kadang beliau menghabiskan pembacaan surat itu di suatu raka’at saja, dan ada kalanya beliau berhenti di pertengahan surat dan kemudian beliau menamatkannya di raka’at ke dua.
Tidak ada di riwayatkan, bahwasanya Nabi SAW membaca satu atau dua tiga ayat dari suatu surat, atau membaca akhir-akhir surat, melainkan di shalat sunnat Fajar.
Dalam pada itu para sahabat ada yang berbuat demikian. Baca Fiqlus Sunnah 2:278, 774
di shalat sunnat Fajar, Nabi SAW membaca di rakaat yang pertama:


Artinya: “Katakanlah olehmu sekalian. Kami beriman kepada Allah dan beriman kepada Al-Qur’an yang di turunkan kepada kami. Shuhuf-shuhuf yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishaq dan Ya’qub dan anak-anaknya (yang dua belas), dan kepada Taurat yang di berikan kepada Musa, dan kepada Injil yang diberikan Isa, dan kepada kitab-kitab (mu’jizat) yang di berikan kepada Nabi-nabi yang lain. Kami tiada membeda-bedakan antara seseorang dari pada mereka dan kami semuanya menyerahkan diri kami kepada Allah SWT” (Q.S Al-Baqarah 2:136)

Di raka’at kedua dari sunnat Fajar beliau membaca:


Artinya: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Q.S Ali Imran 2:64)

3). Dan Rasulullah SAW pernah membaca satu surat di kedua-kedua raka’at, sebagaimana beliau pernah membaca dua-dua surat di tiap raka’at.


Umpamanya: Rasulullah SAW pernah membaca surat Al-A’raf di shalat Maghrib, sebagian beliau baca di raka’at pertama dan sebagian lagi beliau baca di Raka’at yang kedua. Rasulullah SAW pernah membaca “Idza Zulzilat” (Surat Al-Zalzalah) di kedua-dua raka’at shalat subuh.

4). Rasulullah SAW biasanya memanjangkan bacaan rakaat yang pertama atas rakaat yang ke dua pada tiap-tiap rakaat Shalat.

5). Rasulullah SAW pernah membaca dalam shalat sir surat yang ada di dalamnya sujud tilawah. Beliau bersujud dan bersujud pulalah para ma’mum. (Muttafaq’alaih, No. 1052 dan 576)

B. Tentang ukuran panjang bacaan pada tiap-tiap shalat dan surat-surat yang di baca:
1). Ukuran biasa bacaan shalat subuh dan surat-surat yang di baca oleh Nabi SAW di dalamnya:
Menurut keterangan yang shahih, pembacaan di shalat itu ghalibnya (biasanya) ialah sekedar enam puluh hingga seratus ayat, yakni buat tiap-tiap raka’at.
Di shalat subuh pada pagi Jum’at, beliau tetap membaca di rakaat yang pertama Surat “Alif Lam Miim Tanzilal” (As-Sajadah)
Dan di rakaat yang kedua, beliau membaca “Hal ataa ‘alal Insaan” atau surat Ad-Dahri (Al-Insan). Beliau baca sucukup-cukupnya, tak pernah beliau baca setangah-setengah saja

2). ukuran biasa bacaan shalat Dzuhur dan surat-surat yang di baca Nabi SAW di dalamnya:
Rasulullah SAW membaca di shalat Dzuhur, kira-kira 30 ayat pada tiap-tiap raka’at. (H.R Muslim No. 452 dan Abu Daud). Rasulullah SAW pernah Membaca di shalat Dzuhur surat Al-A’la dan “Wal-laili Idza Yaghzya” atau “Wassama I Dzatil Buruj” dan “Wassama I Waththariq” dan surat-surat yang sepertinya. (As-Sunnan)
Rasulullah SAW pernah membaca Surat Luqman dan Adz-Dzariyat

3).Hukum biasa bacaan shalat Jum’at dan surat-surat yang tetap di baca Nabi SAW didalamnya:
Rasulullah SAW membaca di shalat Jum’at, ada kala surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun, adakalanya Surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah.

4). Ukuran biasa bacaan shalat Ied dan surat-surat yang dibaca Nabi SAW di dalamnya:
Rasulullah SAW membaca di shalat Ied, adakalanya Surat Qaaf dan Iqtarabat dengan sesempurna-sempurnanya tak pernah beliau membaca Akhir-Akhirnya saja. Dan adakalanya surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah.

5). Ukuran biasa bacaan shalat Ashar dan surat-surat yang di baca oleh Nabi SAW.
Rasulullah SAW membaca di shalat Ashar, sekedar 15 Ayat pada tiap-tiap rakaat. Tegasnya separu Dzuhur, jika di pendekkan, sama dengan Dzuhur jika di panjangkan.

6). Ukuran biasa bacaan shalat Maghrib dan surat-surat yang di baca Nabi SAW di dalamnya.
Rasulullah SAW pernah membaca di shalat Maghrib, Surat Al-A’raf, Surat At-Thur, Surat Al-Mursalat dan Surat Ad-Dhukan. (H.R Khamsah). Riwayat yang shahih menerangkan, bahwa Nabi SAW membaca Surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas di shalat sunnat Mahgrib.

7). Ukuran biasa bacaan shalat ‘Isya dan surat-surat yang di baca Nabi SAW didalamnya.
Rasulullah SAW pernah membaca di shalat ‘Isya, surat “At-Tin” dan pernah membaca “Al-Insyiqaq” serta bersujud tilawah dan surat “Adh-Dhuha” dan surat yang sepertinya.
Tegasnya shalat ‘Isya lebih kurang sama dengan Ashar.

Apabila kita telah selesai dari membaca surat, maka hendaklah kita berdiam kadar senafas, sesudah berdiam kadar senafas, sekedar membaca “Subhanllah”, jangan sekali-kali di sambung terus akhir surat dengan Takbir rukuk.

Syeikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Ikhtigarat Al-Fiqhiyyah II 53 berkata, membaca sedikit ayat Al-Qur’an di sertai banyak perenungan lebih baik dari pada membaca banyak ayat tanpa perenungan.
Imam Ahmad mengatakan, bahwa hal ini dinyatakan oleh para sahabat dengen Jelas.

Tiada batasan pasti mengenai bacaan Al-Qur’an setelah Al-Fatihah. Para Fuqaha menganjurkan membaca surat-surat Al-Mufashshal (yang tidak terlalu panjang) pada shalat Subuh, Surat-surat Al-Mufashshal yang tidak terlalu panjang. Pada shalat Dzuhur, Ashar dan ‘Isya. Dan surat-surat yang pendek-pendek pada Shalat Maghrib.
Sahabat Abu Hurairah R.A telah menceritakan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:
AYUHIBBU AHADUKUM IDZAA RAJA’A ILA AHLIHI AN-YAJIDA FIHI TSALATSA KHALIFATIN IZHMIN SIMANIN? QULNA: NA’AM QALA: FATSALATSU AA YATIN YAQRA-U BIHINNA AHADUKUM FISHALATIHI KHAIRUNLAHU MIN TSALATSI KHALIFATIN ‘IZHA MIN SIMANIN.
“Apakah seseorang di antara kalian suka apabila kembali kepada keluarganya, maka ia akan menjumpai pada keluarganya tiga ekor unta bunting yang besar lagi gemuk?”. Kami menjawab “Ya”. Rasulullah SAW bersabda “Maka tiga ayat yang dibaca oleh seseorang di antara kalian dalam shalatnya adalah lebih baik baginya dari pada tiga ekor unta bunting yang besar lagi gemuk.” (H.R Muslim)

Keterangan: Pembahasan ini untuk menjelasakan keutamaan membaca surat sesudah Al-Fatihah. Hal ini di sunnahkan dalam dua raka’at pertama dari shalat yang empat dan tiga raka’at, serta dua raka’at subuh. Bacaan ini di sunnahkan Dalam semua shalat, Hadits ini di riwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Bab keutamaan Al-Qur’an.

Abu Qatadah R.A telah menceritakan hadits berikut:
Artinya: “Nabi SAW telah membaca Fatihatul Kitab dan dua surat di dalam dua raka’at pertama dari shalat Dzuhur, dalam raka’at yang pertama, Suratnya panjang. Sedangkan dalam raka’at yang kedua suratnya pendek. Adakalanya beliau SAW memperdengarkan ayat (yang di bacanya). Dan dalam shalat ‘Ashar, Nabi SAW melakukan hal yang semisal. Dan Nabi SAW pada raka’at yang pertama dari shalat subuh selalu memanjangkan bacaannya dan dalam raka’at yang kedua memperpendeknya.” (HR. Khamsah Kecuali Thurmudzi)

Didalam Riwayat yang lain, di sebutkan
WAKANA YAQRA-U FIRRAK’ATAYNIL UKHRA YAYNI BIFATIHATIL KITAB
Artinya: “adalah Nabi SAW di dalam dua raka’at yang terakhir beliau hanya membaca surat Al-Fatihah”

Menurut riwayat yang dikemukakan oleh Imam Tarmidzi dan Imam Hakim menyebutkan:
QARA ANNABIYU S.A.W. FISHSHUBHI BIL WAQI’AH
Nabi SAW dalam shalat subuh membaca surat Al-Waqi’ah. Di dalam Riwayat dari Abdullah Ibnu Sa-ib R.A telah menceritakan hadits berikut:
Nabi SAW shalat subuh bersama dengan kami di Makkah, maka ia membukanya dengan surat Al-Mu’miniin, sehingga ketika sampai pada kisah tentang Nabi Musa dan Harun, atau kisah tentang Nabi Isa, ia mengalami batuk, lalu rukuk. (H.R Syaikhain)

Jabir Ibnu Samurah R.A telah menceritakan pula hadits berikut:
“Nabi SAW di dalam shalat Dzuhur, sering membaca surat “Al-Yaghsya” dan salah satu di antara surat yang ada pada hadits sebelumnya. Dalam dua rakaat yang pertama, atau Nabi SAW membaca surat ini pada rakaat yang pertama. Dan pada raka’at yang kedua membaca surat lainnya yang semisal.” (H.R Muslim dan Abu Daud)
di dalam shalat subuh, Nabi SAW membaca ayat-ayat di antaranya, “Al-Haaqqah”, Qaaf Wal Qur anil Majiid, Falaa Uqsimu Bil Khunnasil Jawaaril Kunnas , Wal Laili Idzaa ’As ‘As Dalam shalat subuh. At-Takwir, Al-Waqiah, Al-Mu’miniin, Al-Zalzalah.

Dari Ibnu ‘Abbas diriwayatkan bahwa Nabi SAW membaca dalam shalat subuh di hari Jum’at surat “Alif Lam Miim Tanzil” dan surat “Hal Ataa ‘Alal Insaani” dan dalam shalat jum’at membaca surat Al-Jumu’ah. (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Daud)

Nabi SAW pada shalat subuh hari Jum’at pernah dalam raka’at yang pertamanya membaca surat As-Sajdah, yang terletak di antara surat Luqman dan surat Al-Ahzab. Dan beliau sujud tilawah sesudah membaca Firman Allah SWT:
WASABBAHU BIHAMDIRABBIHIM WAHUM LA YASTAKBIRUUN
Artinya: “Dan mereka bertasbih serta memuji Rabb-Nya, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.S As-Sajdah: 15)
Pada raka’at yang kedua, Nabi SAW membaca surat Ad-Dhar atau surat Al-Insan, karena itu di anjurkan agar sekali-kali kedua surat tersebut di baca dalam shlat subuh hari Jum’at. Menurut pendapat Imam Syafi’i.

Jika sujud tilawah di dalam shalat, maka orang membaca takbir ketika turun untuk bersujud dan ketika bangun, berdasarkan hadits Marfu’ dari Ibnu Mas’ud:
INNAHU KANA YUKABBIRU FIY KULLI RAF’IN WA KHAF DHIN WAQIYAMIN WA QU’UWDIN
Artinya “Beliau membaca takbir setiap kali bangun, turun, berdiri dan duduk.” (H.R Ahmad 1/442)
Dan di amalkan oleh para sahabat yang empat dan ahli Fiqih.

ADAB DI KALA MEMBACA SURAT DALAM SHALAT

Apabila kita membaca surat, maka hendaklah kita membacanya dengan sepenuh hati, dan hendaklah kita memperhatikan isi kandungan ayat yang kita baca, apakah itu perintah ataukah itu larangan, apakah itu janji baik atau janji buruk. Di kala kita membaca ayat yang berkenaan dengan janji baik, hendaklah kita berharap semoga Allah SWT memberikannya kepada kita. Sebaliknya, di kala kita membaca ayat yang berlarangan dengan janji buruk, hendaklah kit membaca ayat yang timbulkan rasa takut akan marahnya Allah SWT. Dan hendaklah kita mengambil pelajaran dan pengajaran yang dikandung oleh surat-surat yang kita baca itu.

Adapun surat dalam Al-Qur’an biasa berupa satu ayat, beberapa ayat, satu surat, lebih dari satu surat atau mengambil beberapa surat dari Al-Qur’anul Karim, sunnahnya adalah membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an pada dua raka’at pertama setelah Al-Fatihah, karena Nabi SAW melakukan hal yang demikian.

Beliau SAW biasanya lebih memanjangkan raka’at pertama dari pada raka’at kedua. Beliau SAW selalu membaca sesuai dengan madnya. Berhenti dalam setiap ayatnya dan memanjangkan suaranya.


Beliau SAW bersabda:
LAISA MINNA MAN LAM YATA GHANNI BIL QUR’AN
Artinya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak membaguskan bacaan Al-Qur’an” (H.R Bukhari 7527)

Salah satu ayat yang di baca:
Seluruh ayat ayat Al-Qur’an kita boleh memilihnya apa yang kita sukai untuk di baca di dalam shalat setelah membaca surat Al-Fatihah. Adapun adab membaca surat sebagai mana yang telah di jelaskan yaitu: Membacanya dengan sepenuh hati, memperhatikan maksud kandungan ayat sehingga kita mengetahui, memahami maksud ayat tersebut.

Ayat Kursi (Al-Baqarah 2:225)
ALLAHU LA ILAHA ILLA HUA: “Dialah Allah tidak ada Tuhan (sesembahan yang berhak di Ibadahi) Kecuali Allah”. Ayat ini menjelaskan larangan agar tidak sesuatupun yang di ibadahi (di sembah) kecuali Allah yang maha hidup (Al-Hayyu) lagi berdiri sendiri dan senantiasa mengurus makhluk-Nya (Al-Qayyuum), yang mempunyai sifat sebagai mana yang Dia berikan kepada Diri-Nya.
Dalam tafsir Ibnu Katsir 1/330, beliau kartakan, Ayat ini memberitahukan bahwa hanya Dia-lah satu satunya yang berhak di ibadahi oleh seluruh makhluk.

Al-Hayyul Qayyuum: “yang maha hidup lagi berdiri sendiri dan senantiasa mengurus makhluk-Nya”. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Yakni yang maha hidup dalam diri-Nya yang tidak akan mati selama-lamanya”. Al-Imam Al-Baghawi berkata: “yaitu yang maha kekal dan abadi selama-lamanya’.

Kesimpulanya bahwa kehidupan yang hakiki, kekal dan sempurna, yang tidak ada kesudahannya, tidak ada asal dan akhirnya, adalah sifat yang khusus di miliki Allah SWT yang maha pencipta Jalla Jalaluh.
Tidak ada yang mempunyai sifat itu kecuali hanya Allah, ke Esa-an Allah SWT dalam memiliki sifat kehidupan ini merupakan salah satu dalil akan ke Esaan Allah untuk di sembah dan di ibadahi.

Al-Qayyum: “Dia Jalla Jalaluh adalah Dzat yang senantiasa mengurus makhluk, memberi rezeki, memlihara dan mengatur makhluk, segala sesuatu di bawah pengaturan dan pemeliharaan  Allah SWT”

Lata’ Khudzu Hu Sinatuw Wala Nawum
“Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur”. Hikmah pengulangan “La” “Tidak” adalah adalah menunjukkan penafian Masing-masing di antara dua hal tersebut kantuk dan tidur. Sebagaimana di jelaskan dalam hadits Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa R.A bahwa Ia berkata:
Rasulullah SAW memberitahukan kami empat perkara. Yaitu: bahwasanya Allah SWT tidak tidur dan tidak pula mengantuk. Dia mengangkat dan menurunkan timbangan amalan siang akan diangkat kepada-Nya pada malam hari dan amalan malam hari akan diangkat kepada-Nya pada siang hari (Sahih Muslim no. 295(1/162))

Lahu Mafis Samaawati Wamafil Ardhi
“Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi.”
Segala sesuatu yg ada di langit baik malaikat, matahari, bulan, bintang dan lain-lainnya. Begitu pula segala sesuatu yang ada di bumi, berupa seluruh makhluk telah bersaksi bahwa hak mencipta, memiliki di Ibadahi, mengatur dan memelihara hanyalah Milik Allah SWT. Tanpa ada sekutu atau yang setara bagi-Nya.

MAN DZAL LADZIY YASYFA’U ‘INDAHU ILLA BI ISZNIHI
“Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan Izin-Nya”
Al-Imam Ar Razi dalam tafsirnya berkata, Maksud kalimat ini  artinya peng-ikraran dan penafian. Artinya tidak ada seseorangpun di sisi-Nya yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan perintah-Nya. Hal ini karena orang-orang musyrik beranggapan bahwa berhala-berhala tersebut akan memberi syafa’at kepada mereka. Bahkan orang-orang fasik masih banyak melakukan hal yang sama yaitu dengan memuja-muja sesuatu benda. Misalnya: keris mereka, mendatangi (Menziarahi) kuburan-kuburan tertentu, memberi sesajian pada bulan-bulan tertentu. Semuanya termasuk mensyarikatkan Allah SWT

Allah SWT menjelaskan bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebagaimana dalam Firmannya:
Dan mereka menyembah selain Allah SWT apa yang tidak dapat mendatangkan mudharat kepada mereka dan tidak pula dapat mendatangkan manfaat
Lebih jauh Allah menjelaskan ILLA BI IDZNIHI bahwasnya tidak ada syafa’at kepada seorangpun di sisi-Nya selain kepada orang yang dikecualikan oleh Allah dengan firman-Nya yang artinya: “kecuali dengan izin-Nya”
.
YA’LAMU MA BAYNA AYDIYHIM WAMA KHALFAHUM
“Dia mengetahui apa yang dihadapan mereka dan apa yang di belakang mereka.”
Makna kalimat ini, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, Maksudnya, bahwa Dia mengetahui segala hal, tidak tersembunyi bagi-Nya kecuali keadaan seluruh makhluk-Nya, bahkan Dia mengetahui merayapnya semut hitam di kegelapan malam di atas batu hitam yang keras di bawah tanah kering. (Syaikh Shiddiq Hasankhan)
Merupakan dalil atas ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk baik yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang. (Ibnu Hatsir)

WALA Yuhithuwna Bisyay In Min ‘Ilmihi
“dan mereka tidak mengetahui satupun dari Ilmu-Nya”.
Para Ahli tafsir menyebutkan “Dari Ilmu-Nya” dua arti dari Ilmu Pertama, Ilmu disini berarti “yang di ketahui”. Kedua, maksud Ilmu adalah ilmu tentang Dzat dan sifat-sifat-Nya. ILLA BI MASYAA A: Jika tidak di kehendaki-Nya. Pengertian pertama. Tidak ada seseorangpun yang mengetahui satupun di antara pengetahuan-Nya Azza Wa Jalla. Kecuali sesuatu yang Dia kehendaki untuk di beri tahukan kepadanya. Baik dia Malaikat, Nabi, jin maupun Manusia.
Pengertian kedua, Tidak ada seseorangpun yang ilmunya dapat meliputi Dzat dan sifat-sifat-Nya Jallah Jalaluh kecuali sesuatu yang Dia beritahukan kepadanya.

WASI’A KURSIYUHUSSAMAA WATI WAL ARDHA.
“Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi”
Al-Imam Asy-Syaukani berkata “Kursi” secara Zhahir berupa jasad sesuai dengan yang terdapat dalam Atsar. Dalam Sebuah hadits shahih terdapat penjelasan yang menunjukkan keagungan kursi ini.Al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih meriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari R.A bahwasanya dia pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang Kursi. Kemudian Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tujuh langit dan tujuh bumi itu apabila di banding dengan Kursi hanya bagaikan sebuah cincin yang dilemparkan di padang sahara. Dan perbandingan ‘Arsy dengan Kursi bagaikan perbandingan padang sahara disebut dengan cincin Tadi. (tafsir Ibnu Kasir 1/332)
ALLAHUAKBAR. Alangkah besarnya kursi! Alangkah besarnya ‘Arsyi

WALA YA UDUHU HIFZHUHUMA
“dan Dia tidak keberatan untuk menjaga keduanya”
Alhafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan kalimat ini berkata. Yakni Dia tidak merasa keberatan dan kesulitan dalam menjaga langit dan bumi, siapa yang berada di dalam keduanya bahkan hal itu sangat mudah dan ringan bagi-Nya. Dialah yang mencukupi segala yang diusahakan setiap jiwa, yang  mengawasi segala sesuatu. Tidak ada satupun yang jauh dan tersembunyi bagi-Nya. Segala sesuatu adalah hina di hadapan-Nya. Dialah zat yang tidak akan ditanya tentang apa saja yang Dia lakukan. Tetapi merekalah yang akan ditanya. Dialah yang Maha Perkasa atas segala sesuatu, yang Maha Menghitung segala sesuatu. Yang Maha Mengawasi, Maha Tinggi dan Maha Agung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia dan tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain-Nya. (tafsir Ibnu Katsir 1/333)

WAHUAL ‘ALIYUL ‘AZHIM.
“dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”
Makna kalimat tersebut adalah: hanya Dialah satu-satunya zat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung atau Dialah satu-satunya zat mempunyai ketinggian dan keagungan. Dengan kata lain, kalimat ini mengandung dua makna
Pertama, penetapan sifat tinggi dan sifat agung bagi Allah SWT
Kedua, penafian sifat tinggi dan sifat agung bagi selain Allah SWT
Jadi, tidak ada yang tinggi kecuali Allah SWT dan tidak ada yang agung selain Allah SWT. Inilah kalimat yang berbentuk kata ma’rifah tertentu. Ia berfungsi untuk membatasi. Maksudnya hanya Dialah satu-satunya tiada yang lain melainkan hanya Dia.

ADAB BANGKIT KE I’TIDAL

Apabila kita telah selesai berhenti dalam ruku’, maka hendaklah kita kembali tegak berdiri serta membaca tasmie’, Yaitu:
“SAMI ALLAHULIMAN-HAMIDAH”
Artinya: “Allah mendengar pujian orang-orang yang memuji dan memuja-Nya”.
Tasmie’ ini di riwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah R.A dari Nabi SAW.
Dan Hendaklah sebaik-baik berdiri, kita angkat tangan ke daun telinga, menurut sifat yang telah lalu.

Meng-angkat tangan ke arah telinga, menghadapkan jari-jari ke arah kiblat itu, menunjukkan seluruh rupa puji-pujian hanya untuk Allah SWT semata. Karena Dia-lah yang memberi semua nikmat. Nikmat hayat (kehidupan), kudrat (kukuasaan), Nikmat alimun (akal), Nikmat sami’ (pendengaran / memahami), Nikmat bashir (menyaksikan akan kebesaran-Nya). Sebagaimana Firmannya:

Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya”. (Q.S Ibrahim 14:34)

Setelah berhenti tangan itu kadar senafas, turunkan kembali sambil meletakkan di dada. Sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh Imam Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Ahmad dari Wa il Ibnu Hujr. 
Adab di Kala I’tidal

Apabila kita telah I’tidal, maka hendaklah kita Ingat bahwa kita berdiri itu adalah untuk memuji Allah SWT. Dan men-sifatkan pujian kita itu, dan untuk mengakui ke hambaan kita kepada Allah SWT. Bahwasanya Allah SWT sendirilah yang dapat memberi manfa’at dan yang dapat menahannya.

Rukun I’tidal ini melengkapi se afdal-afdal dzikir dan semanfa’at-manfa’at Do’a. lantaran inilah rukun I’tidal, tidak kurang derajatnya dari pada rukun ruku’. di Waktu I’tidal ini, kita di bolehkan untuk mengucapkan sesuatu Do’a, yang kita inginkan, yang ada tuntunannya dari Nabi SAW. Seperti Do’a Qunut dan Lain-lainnya.

di Riwayatkan dari Abu Hurairah R.A berkata bahwa Rasulullah SAW berkata:
Yang Artinya: “Apabila Imam membaca Sami ‘Allahuliman-hamidah”, hendaklah kamu membaca “Allahumma Rabbana Wa Lakal Hamdu”. Sebab sesungguhnya barang siapa yang bacaannya bertepatan dengan bacaan malaikat, niscaya Allah SWT akan meng-ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq’alaih)

ALLAHUMMA RABBANA LAKAL HAMDU MIL USSAMA WATI WAMIL UL ARDHI WAMA BAYNAHUMA WAMIL U MA SYI’TA MIN SYAY IN BA’DU, AHLATSTSANA I WALMAJDI A HAQQU MA QALAL ‘ABDU WAKULLUNA LAKA ‘ABDU, ALLAHUMMA LAMANI’A LIMA A’THAIYTA WALA MU’THIYA LIMA MANA’TA WALA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU
Artinya: “Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan bumi dan sepenuh jarak antara keduanya dan sepenuh apa saya yang Engkai kehendaki setelah itu, Pemilik pujian dan keagungan. Sesuatu yang paling benar untuk di katakana seseorang hamba dan setiap kami adalah hamba-Mu. Ya Allah sesungguhnya tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau larang dan tidak ada manfa’at kehormatan di banding kehormatan-Mu.” (H.R Muslim 477, Abu Daud 747 dan An-Nasa’i 2/198).

dan Terkadang beliau SAW menambahkan atas ucapan ini sesuatu Do’a seperti:
ALLAHUMMA THAHIRNI BITSTSALJI WALBARADI WAL MA IL BARID. ALLAHUMMA THAHIRNI MINADZ DZUNUWBI WALKHATHAYA KAMA YUNAQQATS TSAWBUL ABYADHU MINAL WASAKHI
Artinya: “Ya Allah, sucikanlah akan daku dengan air batu dan air dingin. Ya Tuhanku, sucikanlah akan daku dari segala dosa dan kesalahan, sebagaimana ia bersihkan kain putih dari kotoran”
Do’a ini di Riwayatkan oleh Ahmad, Muslm, dari Abdullah Ibn Abi Aufa R.A dari Nabi SAW.

Rasulullah SAW sering benar memanjangkan I’tidal ini dengan memanjangkan Do’a sehingga orang menyangka beliau telah lupa. Dan terkadang Nabi SAW membaca di dalam I’tidal di shalat Malam:

LI RABBIYAL HAMDU LI RABBIYAL HAMDU
Artinya: “Untuk Tuhanku segala rupa puji, Untuk Tuhanku segala macam puji”
Tahmid ini di Riwayatkan oleh Abu Daud dari Khuzifah, beliau mengulang-ulangi tahmid ini sekira lama ruku’

Rifa’ah Ibnu Rafi’ R.A telah menceritakan hadits berikut:
Pada suatu hari, kami shalat di belakang Nabi SAW (sebagai Makmum), ketika Ia mengangkat kepalanya dari Ruku’, ia mengucapkan:

SAMI ALLAHULIMAN HAMIDAH
“Semoga Allah memperkenankan orang yang memuji kepada-Nya”,
Lalu seseorang lelaki yang ada di belakangnya mengucapkan:

RABBANA WALAKAL HAMDU HAMDAN KATSYRAN THAYYIBAN MUBARAKAN FIYHI
Artinya: “Ya Rabb kami, bagi-Mu puji-pujian, pujian yang banyak, baik dan barakah”. (H.R Bukhari 2/237, Abu Daud 770, An-Nasa’i 2-196 dan Ath-Thurmudzi 404)

Keterangan:
Ketika selesai (dari shalatnya),  Ia bersabda:
“Siapakah yang mengucapkan Do’a tadi?”, Lelaki Tersebut Menjawab “Saya”. Nabi SAW bersabda “Aku melihat 30 Malaikat lebih berlomba-lomba mencatatnya karena ingin menjadi pencatatnya yang pertama”.

Allah SWT telah Berfirman:
وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ  إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Artinya: “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal shaleh di naikannya” (Q.S Al-Fathir 35:10)

Apabila kita membaca “Allahumma Rabbana Lakal Hamdu Mil Ussama Wati Wamil Ul Ardhi Wama Baynahuma Wamil U Ma Syi’ta Min Syay In Ba’du”, Maka hendaklah kita ingat bahwa pujian yang kita hadapkan kepada Allah SWT. Ialah sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa saya yang Allah SWT kehendaki.
“Allahumma Rabbana, Ya Allah Rabb kami”. Yaitu Nama Dzat Allah mencakup segala sifat, Rabb yang maha mendidik dengan sebab dan akibat (Hukum Kausalita). “Lakal Hamdu, Bagi-Mu segala puji”, dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah R.A menerangkan bahwa para malaikatpun mengucapkan pujian pula sesudah Imam Mengucapkan Sami ‘Allahuliman Hamidah. (H.R Khamsah).

“Mil Ussama Wati Wamil Ul Ardhi, Sepenuh langit dan sepenuh bumi”, kalimat ini merupakan ungkapan kinayah yang menunjukkan banyaknya bilangan, sehingga andai kata pujian itu berupa benda, maka niscaya ia akan memenuhi langit dan bumi”
“Ba’du, yakni sesudah langit dan bumi”, yang di maksud ialah di bawah ‘Arasy dan di atas kursi ‘Arasy. Seakan-akan Nabi SAW mengatakan Aku memuji-Mu, dengan pujian yang memenuhi semesta alam, dan alam malakut.

Menurut Riwayat yang di kemukakan oleh Imam Muslim dan Abu Daud di tambahkan:
AHLATS TSANA-I WAL MAJDI AHAQQU MAQALAL ‘ABDU WAKULLUNA LAKA ‘ABDUN ALLAHUMMA LAMANI’A LIMA A’THAYTA WALA MU’THIYA LIMA MANA’TA WALA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU
“Wahai Tuhan yang berhak untuk di sanjung dan di agungkan, perkataan yang paling berhak untuk di ucapkan bagi seorang hamba kita semua tiada lain adalah hamba-Mu. Ya Allah, tiada seorangpun yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan, dan tiada seorangpun yang dapat memberi apa yang Engaku cegah serta tiada kedudukan dan harta yang dimiliki seseorang dapat memberikan manfa’at di sisi-Mu”

Keterangan:
“Ahlats Tsanaa”, di baca nashab, berkedudukan sebagai nida (objek yang di seru). Artinya “Wahai Tuhan yang berhak untuk di sanjung”. Lafaz ini dapat pula di baca “Ahluts Tsanaa” artinya “Engkau adalah Tuhan yang berhak di sanjung”.
“Al Majdu” artinya Agung dan paling terhormat.

Bila kita membaca “Wa Kulluna Laka ‘Abdun”, Maka hendaklah kita rasakan bahwa kita ini hamba Allah SWT, di Jadikan untuk beribadat kepada-Nya, dan Allah SWT sendirilah yang berhak menerima ibadat itu.

Bila kita membaca “Lamani’a Lima A’thayta Wala Mu’thiya Lima Mana’ta Yan Fa’u Dzal Jaddi Minkal Jaddu”, hendaklah tanamkan di hati kita bahwasanya Allah SWT sendirilah yang berhak menerima ibadat dan mempunyai Nikmat. Bila Allah SWT memberi nikmat-Nya, tak ada seorangpun yang dapat menahannya. Bila Allah SWT menahan nikmat-Nya, tak ada seorangpun yang dapat memberinya. Dan tak ada berguna di sisi-Nya barang sesuatu jugapun. Tak dapatlah harta, ketenaran, kemasyhuran, kekuasaan, jabatan didunia ini yang dapat melepaskan kita dari adzab Allah SWT yang memberi manfa’at hanyalah amal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

KEUTAMAAN SHALAT

         Sesungguhnya shalat mempunyai kedudukan yang sangat agung dalam agama islam ini. sebab, shalat merupakan tiang yang menjaganya, dan amalan yang pertama kali akan dihisab dari seseorang hamba kelak pada hari kiamat. Mengingat begitu urgensinya dan begitu tinggi kedudukannya dalam Islam, maka shalat termasuk salah satu wasiat yang di sampaikan oleh Rasullullah S.AW saat beliau dalam keadaan sakaratul maut. “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya” kemudian beliau bersabda:  ASHALATA ASHALATA WAMA MALAKAT AYMANUKUM ARTINYA: “JAGALAH SHALAT, JAGALAH SHALAT DAN HAMBA SAHAYA KALIAN”  Shalawat dan salam selalu dicurahkan atas diri beliau beserta keluarga & orang-orang yang mengikutinya.   
          Apabila urgensi shalat tersebut telah dipahami, niscaya tidak akan di dapati dalam masyarakat Islam perkara-perkara yang menyeret pada perbuatan keji dan dosa. Sebab, penyebab utama perkara-perkara tersebut adalah karena mereka meninggalkan shalat atau meremehkan pelaksanaannya.  Allah S.W.T berfirman:  إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  Artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya) dari ibadah-ibadah yang lain, dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” (QS: Al-‘Ankabut, 29:45)     
        Orang yang selalu mengerjakan shalat lima waktu, maka ia tidak mungkin akan mengkhianati umat dan bangsanya, serta tidak mungkin pula mengkhianati risalah dan amanah-Nya    
         Rasullullah S.A.W telah memberikan kepada kita resep yang mujarab untuk mengobati segala dosa dan penyimpangan. Sebagaimana sabda beliau:  “BAGAIMANA PENDAPAT KALIAN, JIKA DI DEPAN PINTU RUMAH SALAH SEORANG DI ANTARA KALIAN ADA SUNGAI, SEHINGGA SETIAP HARINYA IA MANDI SEBANYAK LIMA KALI, MAKA APAKAH MASIH TERSISA SEDIKITPUN DARI KOTORANNYA?” PARA SAHABAT MENJAWAB, “TIDAK, YA RASULLULLAH.” MAKA RASULLULLAH S.A.W BERSABDA, “ITULAH PERUMPAMAAN SHALAT LIMA WAKTU. DENGANNYA ALLAH AKAN MENGHAPUS SEMUA KESALAHAN (DOSA)” (H.R Muslim)     
       Adapun tata cara melaksanakan shalat Rasullullah S.A.W, menuntun kita sebagaimana sabdanya: SHALLU KAMA RA’AITUMUNI USHALLU ARTINYA: “SHALATLAH KAMU SEKALIAN SEBAGAIMANA KALIAN MELIHAT AKU SHALAT”  Ini merupakan sebuah instruksi dari beliau supaya kita meneladani shalat beliau S.A.W dimana shalat beliaulah yang paling lengkap dan paling sempurna.         
    Rasullullah S.A.W apabila hendak mengerjakan shalat dan telah menghadap kiblat, maka beliau biasa memulainya dengan ucapan “Allahu Akbar” (H.R Muslim dan Ibnu Majah)     
        Inilah yang disebut Takbiratul Ikhram, ia termasuk salah satu rukun shalat, dan shalat tidak akan sah tanpa di mulai dengannya, beliau tidak pernah mengucapkan sesuatupun sebelum Takbiratul Ikhram, dan beliau juga tidak pernah melafazhkan niat secara mutlak, sebagaimana dilakukan orang-orang sekarang.  Sesungguhnya amalan ini termasuk bid’ah yang tiada dalilnya, mengucapkan atau melafazhkan niat tersebut. Dan beliau S.A.W hanya memerintahkan sebagaimana sabdanya:  “JIKA KAMU TELAH BERDIRI UNTUK MENGERJAKAN SHALAT, MAKA BER TAKBIRLAH” (H.R Bukhari 799-757, Muslim 397)  Adapun membaca do’a Isti’adzah yakni memohon perlindungan kepada Allah, dengan mengucapkan “A’udzubillahi minasysyaithanirrajim” ada tuntunannya, yaitu firman Allah S.W.T:  فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ Artinya: “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk” (Q.S Al-Nahl, 16:98)  Juga Bedasarkan Praktek Nabi S.A.W Karena Beliau Setelah Membaca Do’a Iftitah, Biasa Mengucapkan:  “ALLAHUMMA INNI ‘AUDZUBIKA MINASYSYAITANIRRAJIM MIN HAMZIHI WANAFJIHI WANAFTSIHI” ARTINYA: YA ALLAH, SESUNGGUHNYA AKU BERLINDUNG KEPADA-MU DARI SYETAN YANG TERKUTUK, BAIK DARI GOADAAN BISIKAN MAUPUN SIHIRNYA. (H.R Abu Daud 670, Ibnu Majah 807)  Diriwayatkan dengan shahih dari nabi S.A.W:  LA SHALATA LIMN LAM YAQRA’ BIFATIHATIL KITAB. ARTINYA: “TIDAK SAH SHALAT SESEORAN, APABILA TIDAK MEMBACA SURAT AL-FATIHAH” (H.R Bukhari 576, Muslim 394)  Tentang menyimak (mendengarkan) bacaan imam, Allah S.W.T berfirman:  وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ  Artinya: “dan Apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat” (Q.S Al-A’raf 7:204)  Juga bedasarkan sabda nabi S.A.W:  MAN KANALAHU IMAMUN FAQIRA ATUHULAHU QIRA ATU ARTINYA: “BARANG SIAPA YANG SHALAT BERSAMA IMAM, MAKA BACAAN IMAM JUGA MENJADI BACAANNYA” (H.R Ibnu Majah 850). Mayoritas ulama lebih mengunggulkan pendapat ini.  Disunnahkan bagi imam, makmum dan yang shalat sendirian untuk membaca “Amin” beliau S.A.W memotivikas kita supaya mengamalkan hal itu dalam sabdanya:  MAN WAFAQA TA’MINUHU TAKMINAL MALA IKATI GHUFIRALAHU MATAQADDAMA MIN DZAMBIHI ARTINYA: BARANG SIAPA YANG UCAPAN AMINNYA BERTEPATAN DENGAN UCAPAN AMIN PARA MALIAIKAT, MAKA DOSA-DOSANYA YANG TELAH LAMPAU TELAH DIAMPUNI (H.R Bukhari 780, muslim 410)  Disunnahkan juga kita membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an pada dua rakaat pertama setelah Al-Fatihah, karna nabi S.A.W juga membacanya demikian. Dalam shalat subuh nabi S.A.W biasa membaca sekitar 60 sampai 100 ayat, kadang kala beliau S.A.W memanjangkan bacaan shalat dzuhur, sementara dalam shalat Asharnya hanya separuh dari bacaan shalat dzuhur. Dalam shalat magrib beliau biasa membaca surat-surat pendek dan adapun pada shalat isya bacaan beliau biasanya pertengahan saja. Seperti surat Al-A’la, Adh-Dhuha, Alam Nasrah, Asy-Syams, At-Tin dan sejenisnya    
         Sementara pada shalat jum’at beliau biasa membaca surat Al-Jumu’ah, Al-Munafiqun, Al-A’la dan Al-Ghosyiyah. Sedangkan dalam shalat ‘Id, beliau biasa membaca surat Qaf dan Al-Qamar ataupun Al-A’la dan Al-Ghasyiyah  Beliau biasanya lebih memanjangkan rakaat pertama dari pada rakaat kedua. Beliau selalu membaca sesuai dengan madnya, berhenti dalam setiap ayatnya dan memanjangkan suaranya:  Beliau bersabda:  LAYSA MINNA MAN LAM YATAGANNI BILQUR’ANI “BUKAN TERMASUK GOLORANGKAN KAMI ORANG YANG TIDAK MELAGUKAN (MEMBAGUSKAN) BACAAN AL-QURANNYA (H.R Bukhari 7527)  Ini merupakan suatu seruan dan motivasi supaya kita memperindah suara saat membaca Al-Qur’an dan membaguskan bacaan Al-Qur’an  Dalam shalat sunnah, beliau biasa memuji Allah saat membaca ayat yang didalamnya terdapat tasbih, meminta (karunia) kepada Allah dan memohon perlindungan kepadaNya

ADAB DI KALA RUKU’ DAN MEMBACA TASBIH

Apabila kita telah selesai dari membaca surat, maka hendaklah kita berdiam kadar senafas, Sesudah berdiam kadar senafas itu, bergeraklah untuk ruku’, yakni angkatlah tangan sebagai sifat di ketika ber Takbiratul Ikhram. Sesudah itu, bacalah takbir seraya tunduk kepada ruku’.

Takbir itu dihabiskan di dalam tunduk kepada ruku’ itu, sambil mengatakan “Allahu Akbar” dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya. Hadits Ibnu Umar R.A dia berkata yang Artinya:

“Aku melihat Rasulullah SAW, jika beliau hendak shalat, maka beliau mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya, lalu bertakbir. Jika hendak ruku’ beliau SAW melakukan hal itu juga. Jika bangun dari ruku’, beliau melakukan hal itu juga. Tapi, beliau tidak melakukan hal itu ketika mengangkat kepala dari sujud. (Muttaqun’alaih No. 703 dan No. 390)

Apabila kita telah tunduk kepada ruku' maka hendaklah kita letakkan kedua tangan kita di atas kedua lutut, dengan merenggangkan anak jari-jari dan hendaklah kita merenggangkan kedua-dua siku kita dari lambung. Dan hendaklah kita datarkan belakang (punggung) kita atau menyamakan tinggi kepala dengan dataran belakang itu. Jangan ditundukkan dan jangan ditinggikan.

Membaca Tasbih Dalam Ruku’

Sesudah sempurna keadaan ruku', hendaklah kita membaca tasbih ruku’ sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari ‘Uqbah Ibnu Amir R.A, ujarnya:
Manakala turun firman Allah SWT:
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Artinya: “Maka Bertasbilah Kamu Dengan Nama Tuhan\mu Yang Maha Besar” (QS 56: Al Waqi’ah 96)

1. Maka Rasul S.A.W berkata :
IJ’ALUW HAA FI RUKUW ‘IKUM
“Jadikanlah Tasbih, Subhanarabbial’adzim Dalam Ruku’mu”

Dikala ruku' itu hendaklah kita ingat bahwa kita melakukan ruku’ itu untuk menyatakan kebesaran Allah S.W.T; karena itu, seutama-utama zikir di dalam ruku’ ialah “Subhana Rabbial ‘Adzim”

Al-Albani membawakan sebuah hadits “Subhanarabbial ‘adzim” di ucapkan sebanyak tiga kali (HR Riwayat Ahmad, Abu Daud. Ibnu Majah, Daru Qudhni, Ibnu Khuzaimah, Thabrani dan yang Lainnya). Sedangkan yang lebih lengkap adalah mengucapkannya sebanyak sepuluh kali berdasarkan hadits Hudzaifah R.A:
“Bahwa Rasulullah S.A.W Pernah Membacanya Sebanyak Sepuluh Kali”

Di Riwayatkan oleh Al-Bukhari bahwa Umar Bin Abdul Aziz biasa membacanya sebanyak sepuluh kali: maka Anas r.a berkomentar “aku tidak pernah shalat di belakang seorang pun yang lebih mirip dengan shalat Rasulullah S.A.W dari pada shalatnya orang ini yakni Umar bin Abdul Aziz”

Membaca tasbih adalah untuk mengakui kesucian Allah S.W.T yang Maha Besar dari segala rupa kekurangan. Maka apabila kita membaca “Subhana rabbial ‘adzim” hendaklah kita kenangkan kebesaran Allah s.w.t. kebesaran urusan-Nya, dan hendaklah kita ingat akan kehinaan diri kita dan kesucian Allah s.w.t dari segala kekurangan.

2. Terkadang beliau membaca:
SUBBUWHUN QUDDUWSUN RABBUL MALA IKATI WARRUH
“Tuhan Yang Maha Suci, Tuhan Yang Maha Kudus, Tuhan Yang Memelihara Malaikat Dan Ruh”
Tasbih ini diriwayatkan oleh Muslim (487), Abu Daud (872) dari Aisyah R.A dari Nabi S.A.W

3. Terkadang beliau membaca:
SUBHANA DZIYL JABARUWT, WALMALAKUWTI WALKIBRI YA-I-WAL’AZHAMATI.
“Maha Suci Tuhan (Aku Akui Kesucian Tuhan) Yang Mempunyai Kekerasan, Kekuasaan, Kebesaran Dan Kemuliaan
Tasbih ini diriwayatkan oleh Abu Daud (873), Ahmad At-Turmudzi An-Nasa-i (2/191) dari Awuf Ibnu Malik R.A

 4. Kadangkala beliau membaca:
SUBHANAKALLAHUMMA RABBANA WA BIHAMDIKA, ALLAHUMMAGHFIRLIY
“Maha Suci Engkau, Wahai Tuhanku, Wahai Tuhan Kami, Dan Dengan Memuji Engkau (Aku Akui Kesucian-Mu) Wahai Tuhan Kami Seraya Aku Memuji-Mu, Ya Allah Ampunilah Segala Dosaku”
Tasbih ini diriwayatkan oleh Aisyah r.a dari Nabi s.a.w dan juga hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (794) dan Muslim (484) dari Aisyah r.a

5. Pada sekali-kali beliau membaca
ALLAHUMALAKA RAKA’TU, WABIKA AMANTU, WALAKA ASLAMTU, WA’ALAYKA TAWAKALTU ANTA RABBI KHASYA’A QALBI WASAM’I WABASHARIWWADAMI WALAHMI WA’AZHMI WA’ASHABILILLAHI RABBIL’ALAMIYN
“Wahai Tuhanku! Untuk Engkau Aku Ruku', Kepada Engkau Aku Beriman, Kepada Engkau Aku Menyerahkan Diri Dan Kepada Engkau Aku Bertawakal. Engkaulah Tuhanku, Telah Tunduk Jiwaku, Pendengaranku, Penglihatanku, Darahku, Dagingku, Tulangku Dan Urat Nadiku Kepada Allah Yang Memelihara Segala Alam”
Do’a Ini Diriwayatkan Oleh Ahmad, Muslim, Abu Daud Dari Ali R.A Dari Nabi S.A.W

Abu Mas’ud Al-Anshari berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: LA TUJZI-U-SHALATAN LAYUQIMURRA JULU FIHA SHULBAHU FIRRUKU’I WASSUJUUD.
“tidak sah shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang belakangnya ruku' dan sujud” (HR Lima Imam Hadits)
(Musnad Ahmad (4/22), Sunan Abu Daud (855), At-Turmudzi No 265, An-Nasai (Al-Mujtaba) No 1027, Ibnu Majah No 870, lihat juga Shahih Ibnu Khudzaimah (1/333), Shahih Ibnu Hibban (5/217) No. 1892, Al-Ahadits Al-Mukhtarah (8/166, 182), At-tirmidzi menilai hadits ini shahih)

Hudzaifah R.A pada suatu hari melihat seseorang lelaki yang (sedang shalat) tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya, lalu berkata: Imashallaytu Walaw Muttamutta ‘Ala Bhayril Fithratillatiy Fatarallahu Muhammadan S.A.W ‘Alaiha
“engkau masih belum shalat, seandainya engkau mati, niscaya engkau mati bukan dalam keadaan fithrah (agama Islam) yang telah ditetapkan Allah s.w.t kepada Nabi s.a.w (HR Bukhari dan Muslim)

Sahabat Ali R.A telah menceritakan hadits berikut : Nabi s.a.w apabila ruku' maka ia mengucapkan : ALLAHUMA LAKA RAKA’TU WABIKA AMANTU WALAKA ASLAMTU KHASYA’A LAKA SAM’IY WA BASHARIW WAMUJJI WA ‘AZMIY WA’ASHABIY
“Ya Allah hanya kepada Engkaulah aku ruku', hanya kepada Engkaulah aku beriman dan hanya kepada Engkaulah aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku dan syarafku semuanya khusyuk kepada-Mu” (Riwayat Khamsah kecuali Bukhari)
Ket: Nabi s.a.w mengucapkan do’a ini seseudah tasbih atau sebelumnya.

Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud R.A telah menceritakan dari Nabi s.a.w bahwa beliau pernah bersabda : “apabila seseorang di antara kalian ruku' lalu ia mengucapkan dalam ruku'nya itu do’a ini, “Maha Suci Rabbku yang Maha Agung” sebanyak tiga kali maka ruku'nya telah sempurna, yang demikian itu merupakan batas minimalnya. Dan apabila ia sujud lalu mengucapkan dalam sujudnya itu do’a ini “Maha Suci Rabb ku yang Maha Tinggi” sebanyak tiga kali berarti sujudnya telah sempurna, yang demikian itu merupakan batas minimalnya. (HR Turmidzi dan Abu Daud)

Di antara para fukhaha ada yang berpendapat bahwa bertasbih itu bukan wajib. Pendapat ini menyalahi dhahir Al-Qura’an dan As-Sunah. Dhahir Al-Qur’an dan As-Sunah menunjukan kepada wajib mengerjakan dan membacanya.

Golongan Yang Mewajibkan Tasbih Berdalil Dengan Firman Allah S.W.T

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Dan Bertasbilah Seraya Memuji Tuhanmu Sebelum Terbit Matahari Dan Terbenamnya” (20: Thaha:130)

Dikehendaki dengan tasbih di sini ialah shalat. Di antara jalan menetapkan suatu perbuatan menjadi rukun ialah tuhan menamakan shalat dengan perbuatan itu. Di dalam ayat ini tuhan menamakan shalat dengan tasbih. Hal ini menunjukan kepada wajib tasbih sebagaimana perkataan:
قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا

“Berdirilah pada malam hari melainkan sedikitnya” (QS. Al Muzammil: 73:2)
Menamakan shalat dengan perbuatan-perbuatan tersebut, menunjukan bahwa perbuatan-perbuatan itu tak dapat tidak harus dikerjakan. Kalau dikatakan shalat itu berwujud walaupun tak ada tasbih, tentulah menyuruh tasbih tidak dipandang menyuruh shalat: karena lafadz pada ketika itu bukan menunjuk pada maknanya, tidak pula pada kelaziman maknanya.

Al-Qur’an Menurut Hasan Al-Banna (18) Kedudukan Shalat Dalam Islam

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Kita memulai dengan cara yang paling baik:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Ikhwan yang mulia….
Saya pernah berjanji bahwa suatu saat akan mengkaji tentang kedudukan  shalat dalam Islam. Saya berpikir untuk membahas tema ini pada malam ini.
Shalat adalah kewajiban yang diwajibkan pada malam Isra’. Shalat adalah amal yang kita lakukan berulang-ulang setiap hari, yang apabila kita laksanakan dengan baik dan sempurna, kita pasti memperoleh keuntungan besar.
Ikhwan semua…
Pada malam ini saya akan membahas  tema shalat dari beberapa aspek, dengan sistematika yang tersusun secara wajar. Jangan mengira bahwa saya akan membahas aspek fikihnya, karena aspek ini memerlukan penjelasan, klasifikasi, dan perincian yang panjang. Bila membicarakannya dari aspek ini, tidak cukup kita membicarakannya beberapa malam, apalagi satu malam. Barangsiapa di antara Anda yang ingin memperoleh keterangan lebih luas, silahkan membaca kitab-kitab yang menjelaskannya secara panjang lebar. Tetapi saya di sini, Ikhwan sekalian, hanya ingin mengingatkan tentang nilai shalat sebagai kewajiban mendasar dalam agama Allah swt.
Ikhwan sekalian…
Seringkah saya menyebut shalat dalam Islam itu sebagai manhaj yang lengkap untuk mentarbiyah umat Islam. Yang dimaksudkan bukanlah shalat sekedar sebagai kewajiban ritual yang dilaksanakan untuk melaksanakan agama Allah semata atau sekedar sebagai kewajiban bagi Anda, tanpa Anda pahami maknanya. Akan tetapi shalat adalah jati diri yang melekat di tubuh umat Islam dan ibadah yang mendidik setiap muslim dengan pendidikan yang menakjubkan, sehingga memformatnya menjadi seorang manusia sempurna.
Apabila setiap orang terbentuk darinya sebagai seorang manusia sempurna, maka dari mereka itu akan terbentuk sebuah umat yang sempurna pula. Demikianlah, misi shalat adalah membentuk sebuah
umat yang sempurna.
Ikhwan yang mulia…..
Marilah kita bertanya kepada para pakar pendidikan. Pengertian pendidikan yang sempurna menurut para pakar pendidikan adalah pendidikan yang bisa mengembangkan jasmani, akal, dan ruh. Karena manusia adalah wujud dari ketiga elemen itu, yaitu jasmani, akal, dan ruh. Pendidik yang sempurna adalah yrang mampu mengembangkan akal, jasmani, dan ruh peserta didik secara bersamaan.
Para pendidik di zaman modern ini membuat kaidah-kaidah untuk mendidik jasmani yaitu pemeliharaan kesehatan; mereka juga membuat kaidah-kaidah untuk mendidik akal yaitu pengajaran serta kaidah-kaidah untuk mendidik jiwa yaitu ilmu jiwa dan falsafah moral. Mereka menyusun buku-buku besar dan berjilid-jilid dalam setiap bidang ilmu.
Ikhwan yang mulia…
Islam adalah agama praktis, yang telah meletakkan ilmu-ilmu ini secara praktis pula dalam satu “kapsul”. Islam memerintahkan Anda untuk meminumnya lima kali dalam sehari.
“Kapsul” ini adalah shalat. Anda meminumnya tanpa perlu mengerti komposisinya, tetapi hasilnya, akal, ruh, dan jasmani Anda menjadi sehat secara keseluruhan. Untuk melaksanakan shalat, wahai Akhi, Anda harus selalu dalam keadaan bersih: bersih pakaian, tempat shalat, dan badan. Ini merupakan intisari dari pemeliharaan kesehatan. Agar bisa melaksanakan shalat, Anda harus tidur di awal malam agar bisa bangun pagi-pagi sekali untuk melaksanakan shalat fajar. Inilah petunjuk kesehatan yang pertama kali diberikan kepada murid di sekolah. Anda akan menjadi cekatan, karena Anda berdiri menuju pekerjaan ini di siang hari tiga kali: untuk melaksanakan shalat zhuhur, ashar, dan maghrib. Dengan demikian, peredaran darah bisa berjalan secara baik.
Shalat juga merupakan kesempatan bagi seluruh anggota badan untuk
beristirahat. Jadi, shalat menjadikan Anda cekatan, bersih, tidur di awal
malam, dan bangun pagi. Karena itu, kakek-kakek kita yang melaksanakan
shalat sebagaimana mestinya, usia mereka bisa mencapai lebih
dari seratus tahun sedangkan kesehatan, kekuatan, dan ketangkasan
jasmani mereka masih prima.
Setelah itu, wahai Akhi, Anda mendatangi tempat shalat, menghadap
kiblat, mengkonsentrasikan pikiran untuk menghayati makna, dan menghilangkan pikiran tentang dunia. Ini mempunyai pengaruh dalam
menguatkan kemauan dan menghimpun cahaya jiwa. Shalat adalah latihan paling efektif untuk memperkuat kemauan.
Kemudian Anda mengucapkan, “Allahu Akbar (Allah Mahabesar)”, maka Anda membebaskan diri dari segala yang ada di sekitar Anda dan menghadap kepada Allah swt. Anda melakukan rukuk untuk mengagungkan “Majikan” Anda. Anda mengucapkan “Subhana rabbiyal
‘azhi
m (Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung)”. Kemudian Anda bersujud.
Di sana nurani Anda bangkit, nurani manusia bangkit. Ketika nurani manusia bangkit, maka saat itulah ia mengerti barometer yang membedakan antara kebaikan dan keburukan. Kebangunan nurani ini tidak mungkin bisa dicapai hanya dengan mempelajari pendidikan moral atau membaca buku. Betapa banyak ulama yang keilmuan mereka telah mencapai tingkatan yang tinggi, tetapi nurani mereka rusak. Adapun nurani yang sehat, ia merupakan cahaya di dalam hati manusia yang dimasukkan oleh Allah swt. ke dalam dada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, sehingga hamba tersebut bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan.
Proses pembangkitan nurani ini terus berulang lima kali dalam sehari semalam.
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah lain).” (AlAnkabut: 45)
Adapun cara pengajaran dalam shalat, wahai Akhi, adalah mendengar
ayat-ayat berikut setelah imam membaca Al-Fatihah.
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang-orang yang buta? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut  kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari ridha Tuhannya, mendirikan sha-lat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (Ar-Ra’d: 19-22)
Pada rakaat kedua, Anda mendengarnya membaca,
“Wahai orang-orang
yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat. Jika kalian tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kalian masuk sebelum kalian mendapat izin. Dan jika dikatakan kepada kalian, ‘Kembalilah!’, maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(An-Nur: 27-28)
Di rakaat yang lain, wahai Akhi, Anda menerima pelajaran tentang aturan yang berlaku dalam perang..
“Dan apabila kamu  berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.” (An-Nisa: 102)
Di rakaat keempat, wahai Akhi, Anda mendengar ayat yang merupakan
pelajaran lengkap mengenai muamalah.
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kalian menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhan-nya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri ddak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kalian jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalah itu) kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kalian jalankan di antara kalian, maka tak ada dosa bagi kalian, (jika) kalian ddak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan. Jika kalian lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada diri kalian. Dan bertaqwalah kepada Allah; niscaya Allah mengajar kalian; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)
Ikhwan sekalian…
Suatu ketika saya melaksanakan shalat tarawih dan membaca seperempat juz mulai: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi” (Al-Baqarah: 219) Seusai shalat, salah seorang Ikhwan berkata, “Untuk menjelaskan seperempat juz ini diperlukan waktu beberapa malam, karena ia mengandung banyak hukum. Ia merupakan kurikulum panjang yang bisa dibaca seseorang dalam satu rakaat shalat saja.”
Andaikata kaum muslimin mengetahui tujuan-tujuan tinggi dari shalat ini, andaikata para imam mau memilihkan ayat-ayat yang akan mereka bacakan kepada para makmum di mihrab, ketika mereka bersama-sama berdiri di hadapan Allah swt., jika mereka mampu menyinarkan cahaya Al-Qur’anul Karim kepada orang-orang yang shalat:, maka ketika itu kita melihat bahwa shalat bisa menjadi ibarat “kapsul” yang bermanfaat serta bisa mendidik dan membentuk umat Islam. Nabi saw. telah berhasil meluluskan orang-orang yang menjadi pemimpin-pemimpin dunia melalui madrasah ini, madrasah shalat, dengan metode ini. Tokoh-tokoh itu, wahai Akhi, tidak lulus dari sekolah mana pun selain dari masjid yang berlantaikan kerikil dan beratapkan pelepah kurma.
Wahai Akhi…
Adapun manfaat ukhrawi dari  shalat, aspek targhib di dalamnya, dan bagaimana Nabi saw. dengan lembut mengungkapkan keindahan yang terkandung dalam shalat ini kepada para sahabatnya, maka ada sebuah hadits shahih ketika Nabi saw. dalam perjalanan.
Beliau mendapati sebuah ranting kering. Beliau menggenggam ujung
ranting itu lantas menarik tangannya ke bawah sehingga daun-daunnya
berguguran. Ranting itu bersih tanpa daun. Lalu beliau bersabda, “Kamu
semua lelah melihat apa yang baru saja kulakukan.” Mereka menjawab,
“Benar, wahai Rasulullah. ” Beliau bersabda, “Itulah pemisalan shalat lima waktu. Ia menggugurkan dosa-dosa. ”
Diriwayatkan pula bahwa beliau saw. bersabda,
“Bagaimanakah pendapatmu jika ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang dari kamu, di mana ia mandi lima kali sehari, apakah ada kotoran yang masih tersisa di badannya?” Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah. ” Beliau bersabda, “Itulah perumpamaan shalat lima waktu.
Dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa.” Nabi saw. juga bersabda,
‘Kunci surga adalah shalat. Dan kunci shalat adalah kesucian.”
Beliau saw. juga bersabda,
“Jika seorang hamba berwudhu dengan baik, maka kesalahan-kesalahannya keluar dari badannya, bahkan juga keluar dari bawah jari-jarinya.”
Perumpamaan ini merupakan simbolisasi makna yang dikehendaki oleh Rasulullah saw, yaitu bahwa shalat tidak menyisakan dosa-dosa sedikit pun.
Wahai Ikhwan yang terhormat…
Pada kenyataannya, jika manusia melaksanakan shalat dengan benar, maka seluruh kesalahannya dibersihkan.
Adapun dosa-dosa kecil, maka akan dibersihkan langsung, karena ia merupakan hak Allah swt. Adapun dosa yang tidak bisa dihapuskan kecuali dengan taubat, maka shalat yang benar ini akan memunculkan rasa penyesalan pada diri pelakunya, sehingga ia segera bertaubat. Adapun yang berkaitan dengan hak manusia, yaitu hak yang tidak bisa digugurkan kecuali dengan meminta maaf atau mengembalikan hak, maka jika shalat yang dilakukan benar, niscaya pelakunya bersegera meminta maaf. Allah swt. akan memperlakukan manusia berdasarkan ketulusan hatinya.
Banyak akh mengadu bahwa hati mereka terpecah dan tidak bisa  berkonsentrasi mengingat Allah swt. dalam shalat. Satu kaidah penting yang perlu diperhatikan sebagai terapi yang bisa menyembuhkan atau minimal meringankan hal ini, yaitu hendaklah Anda.
Wahai Akhi…
Memahami hikmah setiap amal yang dilaksanakan di dalam shalat. Perhatikan ini, tetapi jangan berlebihan dalam memperhatikannya. Ketika menghadap kiblat, berusahalah agar sebelum bertakbir bisa mengalahkan cahaya yang keluar dari hati Anda sampai ke Ka’bah.
Bayangkanlah bahwa Allah swt. memandang dan mengawasi Anda. Jika Anda bisa mengkonsentrasikan pikiran ketika itu, Anda akan mampu memegang kendalinya sehingga tidak akan berbelok setelahnya. Ketika Anda membaca Al-Fatihah, ingadah, sebuah hadits qudsi yang menyatakan:
“Shalat itu dibagi antara Aku dan hamba-Ku. Jika hamba-Ku mengucapkan,
Bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang),’ maka Allah swt. berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyebut-Ku.’ Jika ia mengucapkan. Alhamdulillahirabbil alamain (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam),’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah  memuji-Ku.’ Jika hamba tersebut mengucapkan, ‘Arrahmanirrahim (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang),’ maka Allah berfirman, Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Maliki yaumiddin (Yang
Merajai Hari Pembalasan),’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku. ‘Jika ia berkata, ‘Iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami
beribadah),’ maka Allah swt. berfirman, Hamba-Ku telah beribadah kepada-Ku. ‘ Apabila ia mengucapkan, ‘Wa iyyaka nasta’in (Dan hanya kepada-Mu Kami memohon pertolongan),’ maka Allah swt. berfirman, Hamba-Ku bertawakal kepada-Ku.’” … dan dalam riwayat lain, ‘Jika ia berkata, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’ maka Allah swt. berfirman, ‘Ini adalah bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku.’… Dan jika ia mengucapkan, ‘Ihdinash shirathal mustaqim (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus),’ maka Allah swt. berfirman, Ini adalah untuk hamba-Ku dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya.”‘
Bayangkanlah hakikat yang mulia ini, wahai Akhi, ketika Anda membaca Al-Fatihah. Bayangkanlah di hadapan Anda ada megaphone yang mengeluarkan gema dan suara berkali-kali di lingkungan “Al-Malaul A’la”.
Setelah itu Anda mulai bermunajat kepada “Majikan” Anda dengan membaca ayat-ayat kitab Allah swt. yang dapat Anda baca dengan mudah. Berusahalah memahami makna sesuai dengan kadar kemampuan Anda, tanpa memaksa-maksakan diri.
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 17)
Jika Anda telah ruku’, bayangkan seakan-akan Anda tunduk memberikan
penghormatan kepada Allah swt. Berbicaralah kepada-Nya dengan ucapan, “Subhana rabbiyal ‘ayhim (Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung)” dan dengan ucapan,
“Allahumma laka raka’tu wa laka aslamtu wa bika amantu, khasya’a laka sam’i wa bashari wa mukhi wa ‘ayhmi wa ‘ashabi
(Ya Allah, kepada-Mu aku patuh, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, serta kepada-Mu pendengaran, penglihatan, pikiran, tulang, dan urat sarafku tertunduk khusyu’).”
Kemudian Anda mengangkat kepala sampai seluruh anggota badan kembali ke ruas-ruas semula. Kemudian Anda mengucapkan,
“Sami ‘allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamdu mil’as samawati wa mil’al ardhi wa mil’a ma syi’ta min syaiin ba’du, ahlats tsana’i wal
majdi. Ahaqqu ma qalal ‘abdu wa kulluna laka ‘abd. Allahumma la mani’a lima a’thaita wa la mu’thiya lima mana’ta wa la radda lima qadhaita walayanfa’u dyaljaddi minkaljaddu
(Allah mendengar siapa yang memuji-Nya, ya Tuhanku, untuk-Mu-lah segala puji, seisi langit, seisi bumi, dan seisi apa-apa yang Engkau kehendaki setelah itu, Engkau yang berhak dipuji dan diagungkan. Sebenar-benar perkataan yang diucapkan oleh seorang hamba yaitu masing-masing dari kami adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang telah Engkau berikan, tidak ada yang bisa memberikan apa yang telah Engkau halangi, tidak ada yang bisa menolak apa yang telah Engkau tetapkan, dan orang yang mulia, tidak bermanfaat kemuliaannya itu untuk menghalangi (ketetapan)-Mu.)”
Setelah itu Anda bersujud, tersungkur menghormat kepada Allah. Itulah saat Anda paling dekat kepada Allah, Nabi bersabda, “Seorang hamba dalam keadaan paling dekat kepada Tuhannya adalah ketika ia bersujud.”
Di sini Anda bermunajat kepada Tuhan Yang Mahatinggi,
“Allahumma laka sajadtu wa bika amantu wa laka aslamtu, sajada wajhiya lillad’j khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu wa tabarakallahu ahsanul khaliqin
(Ya Allah, kepada-Mu aku bersujud, beriman, dan tunduk patuh. Wajahku bersujud kepada Allah Yang telah menciptakan dan membentuknya, serta Yang telah membukakan pendengaran dan penglihatannya, dan Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta).”
Kemudian Anda mengangkat kepala dari sujud, sehingga anggota badan tegak dengan mantap. Anda mengucapkan,
“Allahummaghfirli warhamni wajburni wahdini wa ‘afini war yuqni
(Ya Allah, ampunilah aku, limpahkan kasih sayang kepadaku, cukupilah aku, tunjukilah aku, serta karuniakanlah kesehatan dan rezeki kepadaku).”
Di rakaat akhir, wahai Akhi, Anda menutup shalat dengan tasyahud.
Tasyahud ini diawali dengan pengakuan bahwa segala penghormatan itu milik Allah, pengakuan kepada keesaan-Nya swt., dan kepada kerasulan Sayidina Muhammad saw. Maka keadaan Anda seakan-akan sebagai orang yang melakukan perjalanan spiritual, di saat Anda meninggalkan dunia dan mencampakkannya sama sekali ke belakang punggung. Anda pergi menjumpai Tuhan seraya berkata,
“Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku, dan Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.”
Karena Anda telah pergi meninggalkan manusia, kemudian akan kembali kepada mereka, maka Anda mengucapkan salam:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Jika Anda memperhatikan hakikat ini, wahai Akhi, ketika mengerjakan
shalat, maka Anda bisa mengkonsentrasikan pikiran, menjernihkan jiwa dan ruhani, serta merasakan kenikmatan shalat yang tidak pernah dirasakan oleh orang lain yang melalaikannya.
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, wahai Ikhwan tercinta, untuk melaksanakan kebaikan dan semoga Dia menunjukkan kita kepada jalan yang lurus. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.