KEISTIMEWAAN SHALAT

Shalat adalah salah satu ibadah yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang mula pertama dilakukan terjadi sebelum Isra wa Mi’raj. Shalat Fardhu di Lakukan dua kali sehari semalam. Yaitu sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, yaitu shalat subuh dan shalat Ashar. Berdasarkan dalil As-Suhailiy dan Al-Muzniy Menyebutkan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Dan bertasbihlah memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi”

1. Shalat yang mula-mula Allah SWT fardhukan kepada RasulNya, dipermulaan wahyu yang diwahyukan sebelum diperintahkan Amal-amal dan fardhu yang lainnya

2. Shalat tiang agama.

Bersabda Nabi Muhammad SAW:
ASHSHALATU ‘IMADUDDIN, FA MAN AQAMAHA FAQAD AQAMADDIN, WAMAN HADA MAHA FAQAD HADA MADDIN
ARTINYA: “SHALAT ITU TIANG AGAMA, BARANG SIAPA MENDIRIKAN SHALAT, SUNGGUH IA TELAH MENDIRIKAN AGAMA, DAN BARANG SIAPA TIDAK BERSHALAT, SUNGGUH IA TELAH MERUNTUHKAN AGAMA”
(H.R Bukhari dari Umar R.A)

ASHSHALATU ‘AMUWDUL ISLAM
ARTINYA: “SHALAT ITU, TONGGAK ISLAM”
(H.R Abu Nu’aim dari Bilal Ibn Yahya)

            Sabda-sabda Nabi SAW ini haruslah diperhatikan sungguh-sungguh! Kata Al-Imam Ahmad dalam mensyarahkan hadits ini: “Shalat itu tiang agama Islam”. Sesudah hilang lenyap Ibadah shalat, hilang lenyaplah Islam (Agama). Shalatlah akhir agama. Barang siapa telah hilang akhir agamanya, berarti telah hilang semua agamanya. Oleh karena itu, pegang teguhlah akan shalat itu. Janganlah disia-siakan atau di mudah-mudahkan. Haruslah diketahui, bahwasanya rumah apabila telah patah tiangnya, tiadalah berguna lagi dinding-dindingnya dan kasau-kasaunya

3.      Shalat lima waktu, difardhukan di malam mi’raj. Shalat lima itu difardhukan dilangit, pada malam Nabi Muhammad SAW ber Isra’ (berjalan malam) dan ber Mi’raj (Naik kealam tinggi), Yaitu suatu peristiwa yang menggemparkan penduduk Mekkah yang terjadi setahun sebelum Nabi SAW Hijrah ke Madinnah

            Seluruh Ibadah fardhu selain dari shalat, Allah SWT perintahkan Kepada Jibril membawa perintah-perintah itu kepada Nabi SAW. Hanya Shalat sajalah yang diperintahkan oleh Allah SWT, Kepada Jibril untuk membawa Nabi SAW dari Mekkah lalu membawanya diwaktu malam Ke Baitul Maqdis (ke Masjidil Aqsha) dan terus membawa Mi’raj (naik) kea lam tinggi, untuk menerima langsung perintah kefardhuan shalat.

            Pada malam sebelum Ber Isra’ itu, terlebih dahulu bathin Nabi SAW dibersihkan oleh Malaikat dari segala rupa keraguan dan memenuhi hati Nabi SAW dengan Iman dan Hikmah, serta membersihkan anggota-anggota Nabi SAW dengan Air zam-zam

Dan Allah SWT menghadiahkan shalat kepada Nabi SAW di ketika Nabi SAW menghadapNya, menegaskan bahwasanya shalat itu suatu ibadah yang luar biasa.

Suatu perbuatan yang paling terhormat. Keadaan ini diumpamakan dengan hadiah seorang raja, yang diberikan kepada seorang pegawai yang paling tinggi yang datang berziarah (datang menghadapnya) atas undangan istimewa dari raja besar itu sendiri.

4.      Shalat akhir wasiat Nabi SAW
      Diterangkan oleh Ahmad dalam risalah Ash-Shalah, bahwa Shalatlah yang di Ingatkan oleh beliau SAW. Kepada para umat sewaktu beliau SAW akan meninggalkan dunia ini. Dalam wasiatnya yang penghabisan kepada kita para umatnya:


ALLAHA ALLAHA FISHSHALATI WAMA MALAKAT AYMANUKUM

ARTINYA: “INGATLAH AKAN ALLAH! INGATLAH AKAN ALLAH, TERHADAP SHALAT DAN TERHADAP BUDAK-BUDAK SEHAYA YANG KAMU MILIKI” (H.R Ahmad, Risalah Ash-Shalah: 8)

5.      Shalat permulaan amal yang dihisab di akhirat, dan akhir ibadah yang ditinggalkan ummat didunia. Bersabda Nabi SAW:

AWWALU MAYUHA SABLIBIHIL ‘ABDU YAUMAL QIAMATI SHALA TUHU, FA IN QUBILAT TUQUBBILA ‘ANHU SAL IRU’AMALIHI.  WA IN RUDDAT ‘ANHU SA IRU’AMALIHI

ARTINYA: “AMALAN YANG MULA-MULA DIHISAB DARI SESEORANG HAMBA DI HARI KIAMAT IALAH “SHALAT”, JIKA SHALATNYA DI TOLAK (TIDAK DITERIMA) DITOLAKLAH AMALAN-AMALANNYA YANG LAIN-LAIN” (H.R Ath-Thabrany dari Anas Jami’ush Shaghier 1:94 Ash Shalah: 6)

Bersabda Nabi SAW:

AWWALU MA TAFQUDU NA MIN DIYNIKUMUL AMANATU WA A KHIRU MA TAFQUDU NA ‘ASHSALAH WALYUSHALLIYANNA QAWMUN LA KHALA QA LAHUM

ARTINYA: AMALAN YANG MULA-MULA KAMU HILANGKAN DARI AGAMAMU, IALAH: “AMANAH DAN YANG AKHIR KAMU TINGGALKAN, IALAH: SHLAT. BIARLAH BERSHALAT SEGOLONGAN ORANG YANG TIADA MEMPUNYAI PERUNTUNGAN APA-APA DARI SHALATNYA” (H.R Ahmad dari Syaddad Ibn Aus, Ash-Shalah: 6)

AWWALU MA YUR FA’U MINANNASIL AMANATU WA AKHIRU MA YABQA MIN DIYNIHIMISHSHALATU WA RUBBA MUSHALLIN LA KHALA QALAHU ‘INDALLAHI TA’A LA

ARTINYA: YANG MULA-MULA DICABUT DARI PADA MANUSIA IALAH AMANAH, DAN YANG AKHIR TINGGAL DARI AGAMA MEREKA, IALAH: “SHALAT” DAN BERAPA BANYAK ORANG YANG BERSHALAT, TIADA MEMPUNYAI PERUNTUNGAN APA-APA DARI SISI ALLAH SWT (H.R Al-Hakim dari Zaid ibn Tsabit, Jami’ Shaghier 1:94)

Hadits-hadits ini menjelaskan kepada kita dengan sejelas-jelas nya bahwa: “Shalat itu Akhir agama yang ditinggalkan ummat, dan Permulaan amal yang diperiksa, dihisab di Akhirat”


6.      Shalat, seutama-utama syiar islam, dan sekuat-kuat tali perhubungan antara hamba dengan Allah SWT. Shalat adalah senjata-nyata Ibadah yang membuktikan keislaman. Sekuat-kuat tha’at yang mengesankan manfaat pada jiwa manusia, dan sangat mudah dikenal atau diketahui orang. Karena itulah agama membesarkan qadarnya (nilainya) dan membesarkan urusannya. Sungguh shalat itu sebesar-besar ibadah. Dialah ibadah yang sangat mendekatkan hamba kepada tuhannya (Ma’budnya).

      Dalam sebuah Hadits Nabi SAW menerangkan:

      AQRABU MAYAKUWNUL ‘ABDU LIRABBIHI WAHUWA SAJIDUN FA AKTSIRUDDU-‘A-A FIHI

      ARTINYA: “SEDEKAT-DEKAT HAMBA KEPADA TUHANNYA, IALAH DIKALA HAMBA ITU BERSUJUD. MAKA BANYAKKANLAH DOA DALAM SUJUD ITU” (H.R Muslim, Abu Daud dalam An-Nasa-‘i dari Abu Hurairah, At-Targhieb 1:213)

      Sebenarnya, shalat dapat dipandang dengan dua macam pandangan:

Pertama: Shalat itu suatu syi’ar Islam mengingat hal ini, agama menyuruh supaya kita memerintahkananak-anak kita bershalat di kala mereka telah berumur tujuh tahun, dan memukulnya kalau mereka tidak mau melakukan hal tersebut dalam rangka mendidiknya
            
Kedua: shalat itu shilat (perhubungan) antara hamba dengan khaliqnya (Allah SWT)
Kerena itulah diberatkan benar-benar shalat itu atas segala mereka yang telah baligh dan berakal, atau telah mukallaf